
Angela ternyata tidak bisa tenang karena apa yang telah di lakukannya. Kecerobohannya yang mengakibatkan Putri masih berada di rumah sakit di semprot Edo dengan kemarahan yang sangat besar.
Angela sempat pulang kerumahnya tadi untuk menengakan dirinya. Namun dia tidak tenang dan kembali kerumah sakit untuk melihat ke adaan Putri.
Namun Angela yang dari kejauhan melihat Edo yang masih berada di depan pintu ruangan perawatan Putri dengan kondisi Edo yang masih sama seperti awalnya di mana kondisi terlihat khawatir yang duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruang perawatan itu.
Angela sangat takut-takut ingin mendekati Edo. Ya pasti takut salah dan takut di marahi Edo lagi.
"Apa yang harus aku lakukan," batin Angela
"Tetapi aku harus minta maaf pada mas Edo. Semua ini kesalahanku dan seharusnya aku tidak ceroboh," batin Angela yang mantap akan menghampiri Edo dan dia tidak peduli jika Edo akan marah lagi kepada-nya.
Angela menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Angela berjalan menghampiri Edo.
Edo yang menunduk dengan mengusap wajahnya kasar tiba-tiba melihat sepasang kaki di depannya membuat Edo mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Edo dengan suara pelan yang masih berusaha untuk mengendalikan dirinya.
"Maafkan aku mas," ucap Angela.
"Minta maaf. Apa kamu pikir maaf kamu bisa membuat Putri bangun hah!" ucap Edo.
"Mas aku, aku..."
"Pergi kamu dari sini!" usir Edo dengan dingin.
"Mas Edo aku mohon jangan usir aku. Aku juga khawatir pada Putri, aku menyesal melakukannya, aku minta maaf dan akan bertanggung jawab," ucap Angela.
"Aku bilang pergi!" bentak Edo dengan suara yang menggelegar sampai Edo berdiri dan berhadapan dengan Angela yang mana Edo menunjukkan wajah seramnya kepada Angela. Wajah yang penuh dengan amarah.
"Apa kamu tulis Angela. Tidak ada gunanya tangisan kamu. Itu tidak akan membuat Putri bangun, semua yang kamu anggap lelucon hanya membuatku kehilangan anakku!" teriak Edo yang membuat Angela hanya diam dengan memejamkan matanya yang menangis dengan Edo yang begitu membencinya.
__ADS_1
"Dari pada aku semakin melakukan hal yang lebih parah dari ini. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini!" usir kembali Edo dengan merendahkan suaranya dan Angela masih tetap diam di tempatnya.
"Aku bilang pergi!" Edo memegang lengan Angela yang ingin mengusir Angela.
"Edo!" sentak Risya yang datang saat itu bersama Syarla dan Arga.
"Apa sih kamu, kasar banget sih," kesal Risya melepas tangan Edo dari tangan sahabatnya itu.
"Untuk apa kalian datang kemari. Kalian juga pergi!" usir Edo pada 4 orang itu.
"Edo tenang dulu kamu jangan marah-marah terus ini rumah sakit," sahut Arga yang mencoba mengendalikan emosi Edo.
"Kalau kalian tau ini rumah sakit. Maka pergi dari sini!" tegas Edo.
"Kami tidak akan pergi dan akan tetap di sini sampai Putri bangun. Kami juga harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi," sahut Risya menegaskan.
"Tanggung jawab kamu bilang. Mau menggantikan nyawanya hah!" bentak Edo.
"Arggggh," sentak Edo yang meluapkan emosinya dengan memukul-mukul dingding rumah sakit. Marahnya dia kelihatan tidak main-main.
"Kalian pikiran semua ini hanya lelucon, apa yang ada di otak kalian bertiga hah! Lihat akibat perbuatan kalian ," ucap Edo.
"Edo kami tau kami salah. Kami hanya kasihan pada Putri dan kelihatannya dia tidak pernah memakan makanan itu dan kami mengijinkannya itu karena keyakinannya dan kami tidak tau kalau Putri Alergi," tegas Saras.
"Benar Edo kami hanya prihatin dengan Putri dan kami tidak ada maksud apa-apa," sahut Risya.
Edo terduduk lemah di kursi tunggu dengan mengusap wajahnya sampai kepalanya dengan Edo yang tertunduk lemah dengan napasnya yang naik turun yang berusaha menenangkan dirinya yang sejak tadi marah-marah.
Arga menganggukkan kepalanya dengan kode mata pada Risya, Syarla dan Angela yang membuat mereka ikut duduk.
"Mungkin kalian pikir aku itu pria aneh," ucap Edo tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya aku sangat aneh, banyak aturan, bahkan dengan orang yang pertama kali aku temui, banyak tidak bolehnya dan harus makan ini dan itu. Kalian mungkin berpikir jika aku sangat higenis dan begitu peduli pada kesehatan dan sangat hati-hati dengan makanan. Ya aku memang aneh dan aku harus menjadi orang lain demi Putri," ucap Edo.
"Saat dia lahir, Dokter sudah mengatakan ada kelainan dalam dirinya, aku dan mantan istriku merasa apa yang di katakan Dokter hanya biasa saja. Sampai kami tidak terlalu memikirkan hal buruk. Namun saat usianya 3 tahun dia mengalami Alergi makanan dan bukan satu makanan sangat banyak, tidak boleh makan ikan, daging dan sayur yang hanya pilihan saja,"
"Aku dan mantan istriku harus menjadi orang tua yang teliti dan menjaga apa yang di makan putri sampai aku tidak tau jika satu kesalahan yang di lakukan istriku di mana dia lelah menjagakan dirinya dan juga putri sampai akhirnya Putri salah makan dan hanya karena masalah kecil Putri kembali Alergi dan apa yang kalian lihat kemarin seperti itulah Putri,"
"Tubuhnya seperti itu menahan rasa sakit dan aku hampir kehilangan nyawanya. Perceraian kami di mulai saat itu. Aku dan mantan istriku bercerai karena kecerobohan yang dia lakukan. Karena dia menanggap tidak akan terjadi apa-apa. Saat itu aku hampir kehilangan nyawa Putri. Tetapi masih di beri kesempatan sampai akhirnya Putri masih selamat,"
"Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada Putri dan aku tidak mungkin membiarkan anakku penuh dengan tanya saat usianya akan semakin bertambah. Masa iya Putriku hanya memakan makanan yang jenisnya hanya sedikit dan tidak boleh ini dan itu. Kalian pikir aku bukan manusi normal. Aku juga ingin makan ini dan itu bukan hanya salad saja,"
"Tetapi bagaimana mungkin orang tua bisa makan enak dan sementara Putri tidak. Jadi aku harus belajar untuk menyamakan kehidupanku, keseharian ku dengan Putri. Agar kami sama-sama hidup teliti dan hal-hal itu tidak terjadi,"
"Semua orang yang bekerja di rumahku. Harus sama seperti ku dan Putri untuk menjaga semua ini. Sama dengan aku menjalin hubungan dengan siapapun. Aku harus menerapkan terlebih dahulu kepadanya tentang bagaimana kehidupanku nantinya,"
"Bukan hanya kamu Risya yang aku temui sebagai kencan buta ku. Banyak yang aku temui dan sama seperti kamu yang langsung menyerah dengan pertemuan pertama itu dan pasti karena kamu menganggap ku sangat aneh,"
"Tetapi aku harus melakukan hal aneh itu untuk menyesuaikan kamu dengan lingkungan ku. Karena semua aku lakukan demi Putri. Putri harus punya pikiran jika bukan hanya dia yang seperti itu," jelas Edo yang ternyata di balik ke anehannya punya alasan yang besar dan pengorbanan yang besar hanya untuk anaknya.
Syarla, Angela, Arga dan Risya hanya diam tertunduk mendengar semua alasan Edo selama ini. Mereka pasti merasa bersalah dan benar. Selama ini menertawakan Edo. Tetapi tidak tau Edo melakukan itu hanya pengorbanan untuk Putrinya agar tidak merasa berbeda dari orang lain.
"Angela saat bertemu denganmu. Aku cukup kaget kita tidak hanya bertemu sekali saja. Tetapi ada pertemuan, ke-2, ke-3 dan bahkan sampai hubungan kita sangat jauh. Aku tidak percaya jika ada wanita yang seperti itu dan aku tau kamu terpaksa melakukannya. Namun tetap kamu ingin belajar. Aku mempercayaimu dan saat kita bertengkar aku tidak ingin menyia-nyiakan wanita yang aku rasa sudah bisa memahami ku,"
"Saat kamu memberitahu Putri bersama kamu. Aku tidak banyak tanya dan banyak pesan untukmu. Karena aku percaya kamu akan baik-baik saja bersama Putri. Tetapi aku tidak tau jika kesempatan yang aku berikan akan membuatku kehilangan kesempatan besar yang pernah di berikan kepadaku," ucap Edo dengan air matanya keluar melihat ke arah Angela.
"Maafkan aku mas," lirih Angela yang semakin menyesal.
"Aku bisa kehilangannya Angela. Aku tidak bisa hidup tanpa Putri. Aku berusaha untuk menghilangkan keegoisanku dan merawatnya, memantaunya sendirian dan itu hanya untuknya. Tetapi kenapa kamu membuat semua berantakan," ucap Edo dengan penuh kekecewaannya.
"Edo semua itu bukan hanya kesalahan Angela saja. Kami juga bersalah. Dan kami benar-benar tidak tau semua ini," sahut Risya yang juga tidak bisa membendung air matanya.
"Benar Edo. Mungkin kami menganggap hal ini spele. Tetapi ternyata hal ini sangat besar," sahut Syarla.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi. Kalian tidak perlu menyesal karena dia anakku dan kalian boleh sesuka kalian untuk menertawakan apa yang terjadi selama ini," ucap Edo dengan tersenyum getir yang kembali tertunduk yang pasti dengan air mata yang mengalir.
Bersambung