
Risya yang berada di kamar mandi yang sedang memakai scincare seperti biasa saat Risya ingin tidur. Risya yang menggunakan piyama untuk tidur.
Di tengah aktivitas dalam hal merawat wajahnya tiba-tiba pelukan hangat di rasakannya. Siapa lagi jika bukan Arga yang memeluknya erat dari belakang dengan pipi Arga yang menempel pada pipi Risya sembari Arga menggesek-gesekkan pipinya.
"Kamu sedang apa sih di kamar mandi. Kenapa lama sekali," ucap Arga dengan suaranya seraknya.
"Aku lagi pakai perawatan wajah aja. Seperti biasa sebelum tidur," jawab Risya.
"Memang kamu sudah mau tidur?" tanya Arga dengan wajah manyunnya melihat istrinya dari depan cermin.
"Iya aku mau tidur," jawan Risya dengan santai.
"Risya aku itu sangat merindukanmu. Apa salahnya jika malam ini kita melakukan olahraga malam," ucap Arga.
Dari perkataan Arga Risya sudah mengerti apa yang di inginkan suaminya itu. Namun Rusyd tampak diam dengan melihat dirinya di cermin.
"Bu Risya untuk kondisi kandungan ibu begitu lemah. Untuk menjaga hal buruk terjadi Bu Risya jangan berhubungan suami istri dulu ya. Janinnya sangat lemah dan bisa mengakibatkan fatal. Bukan hanya janinnya yang berbahaya. Tetapi ibu juga bisa," ucap Dokter yang memberikan saran pada Risya.
Hal itu di ingat Risya yang bengong di depan cermin. Tanpa dia sadari jika Arga sudah menciumi lehernya membuat Risya memejamkan matanya. Namun tiba-tiba Risya membuka matanya dan terlihat menghindar dari Arga.
"Arga aku mau gosok gigi," ucap Risya .
"Apa aku harus menunggunya?" tanya Arga yang kembali memeluk Risya dan masih melakukan hal semula dan Risya terus menghindar dari Arga dengan Risya bergeser mengambil sikat gigi dan langsung menggosok giginya.
Arga sampai terdiam yang tau Risya sepertinya menolak untuk berhubungan. Arga bahkan tidak bicara apa-6 lagi dan langsung keluar dari kamar mandi dan Risya yang melihat dari cermin kepergian suaminya yang begitu saja.
"Apa yang harus aku lakukan Arga sangat marah kepadaku, bagaimana ini," batin Risya yang jadi serba salah dengan apa yang terjadi Anata dia dan juga Arga.
Risya pasti takut terjadi sesuatu pada janin di dalam kandungannya. Karena mengingat apa yang di katakan Dokter.
***********
Setelah melakukan aktivitasnya di kamar mandi Risya keluar dari kamar mandi dan melihat ke area kamar yang tidak melihat Arga ada di kamar. Risya melihat ke luar jendela dan melihat Arga ada di sana yang duduk dengan melihat ponselnya.
Risya menghela napasnya perlahan kedepan dan langsung menghampiri Arga yang ada di sana dengan Risya yang langsung memeluk suaminya itu dari belakang dengan pipinya yang menempel pada Arga.
"Marah padaku?" tanya Risya dengan ke-2 tangannya yang di kalungkan di leher Arga.
__ADS_1
"Kenapa harus marah?" tanya Arga.
"Karena aku menolakmu," jawab Risya.
"Jadi benar yang tadi itu adalah basa-basi dalam penolakan?" tanya Arga dengan melihat kearah istrinya yang pipi mereka saling menempel.
"Aku hanya lelah saja," jawan Risya yang memberikan alasannya.
Arga memegang tangan Risya dan membawa Risya kedalam pangkuannya dengan Risya yang duduk di paha Arga dan tangan Risya yang mengalung di leher Arga.
"Sayang, bukannya kita lagi ingin cepat-cepat punya anak. Gimana mau kita punya anak. Jika ini bukan pertama kalinya kamu menolakku," ucap Arga.
Arga mungkin sudah sering kode-kode. Namun karena Risya yang sedang hamil. Risya banyak alasan dan Arga menyadari Risya menghindari untuk berhubungan.
"Hey, apa aku melakukan kesalahan-kesalahan?" tanya Arga dengan mengelus-elus pipi Risya.
"Tidak Arga kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa," ucap Risya.
"Lalu kenapa menolakku?" tanya Arga yang ingin jawabannya. Berbicara dengan lembut dengan kepala dingin untuk menjalin komunikasi dengan istrinya itu.
"Kenapa diam sayang?" tanya Arga yang menunggu jawaban itu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin ada paksaan dalam hal itu. Karena riasanya akan berbeda," ucap Arga yang tersenyum yang tidak ingin membesarkan masalah itu. Walau sebenarnya dia sedikit kecewa.
"Kalau begitu ayo kita tidur!" ajak Risya.
"Aku masih mau main game," jawab Arga.
"Aku temani boleh?" tanya Risya.
"Boleh," sahut Arga dan Risya langsung beralih dari pangkuan Arga dan duduk di samping Arga. Risya memeluk pinggang Arga dan menemani Arga bermain game di ponsel Arga.
Risya tampak senang dengan Arga yang pengertian dengan dirinya yang tidak perlu marah atau banyak tanya karena hanya jatah.
"Arga!" ucap Risya mengangkat kepalanya membuat Arga melihat Risya sebentar.
"Ada apa?" tanya Arga.
__ADS_1
"Kamu itu pengen banget ya punya bayi?" tanya Risya.
"Bukannya itu adalah impian kita. Salah satu goals yang ingin kita capai. Di mana kita ingin membangun keluarga kecil," ucap Arga.
"Memang kamu sudah siap untuk mejadi orang tua?" tanya Risya.
"Menjadi orang tua sangat sulit. Aku melihat mama dan papa yang begitu kesulitan dan ekstra sabar dalam mengurus anak. Jadi kalau di katakan siap atau tidak. Maka itu tidak bisa di jawab. Karena bagaimana pun keadaannya menjadi orang tua itu harus siap," ucap Arga dengan bijak.
"Semoga saja kita secepatnya di berikan kepercayaan untuk menghadiri buah hati di kehidupan kita," ucap Risya yang memegang perutnya.
"Amin sayang," sahut Arga tersenyum dengan mencium kening Risya.
"Aku akan menjaga bayi ini. Ya Allah semoga saja janin di kandungan ku ini di berikan kekuatan dan ketika sudah masuk bulan ke-2 nanti aku akan memberitahu Arga dan aku yakin Arga pasti sangat bahagia dengan kabar itu," batin Risya yang sudah tidak sabar menunggu hari-hari berikutnya yang sangat lama.
***********
Arga dan Risya berada di dalam mobil yang mereka ingin berangkat ke kantor sama-sama. Namun tiba-tiba Risya melihat ada penjual buah dan begitu selera dengan buah mangga yang di potong oleh penjualnya.
"Arga boleh berhenti sebentar tidak?" tanya Risya.
"Boleh sayang. Mau berhenti kenapa?" tanya Arga.
"Aku mau beli rujak," ucap Risya
"Oh begitu, memang di mana penjualnya?" tanya Arga.
"Sudah kelewatan sedikit," sahut Arga.
"Ya sudah sayang," sahut Arga yang langsung memberhentikan mobilnya.
"Di mana jualannya?" tanya Arga.
"Itu di sana!" tunjuk Risya ke belakang.
"Ya sudah sebentar ya biar aku yang beli," ucap Arga yang membuka sabuk pengamannya.
"Makasih," sahut Risya Arga hanya mengangguk saja dan langsung keluar dari mobil yang akan membelikan apa yang di inginkan istirnya.
__ADS_1
"Kamu memang suami yang sangat baik, dan sangat hebat Arga. Bagaimana aku tidak semakin mencintaimu," batin Risya yang tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Bersambung