
Vio menyeret Tasya dengan kasar. Bukan hanya dari ruangan Hariyanto tetapi juga dari Perusahaan itu dan bayangkan saja. Orang-orang yang ada di Perusahaan melihat dengan heran bagaimana Tasya yang di perlakukan tidak baik.
"Pergi kau dari sini!" usir Vio melempar Tasya sampai Tasya terduduk di atas tanah dengan ke-2 telapak tangannya yang menyentuh tanah.
Napas Tasya naik turun dengan yang tidak di sangka jika dia bisa di perlakukan seburuk ini dan sangat hina.
"Perempuan murahan!" umpat Vio dengan menunjuk Tasya.
"Siapa kau yang berani memperlakukanku dan menghinaku seperti ini?" tanya Tasya dengan suara menekan yang harga dirinya benar-benar di injak-injak.
"Aku yang akan menjadi lawanmu. Jika kau berani masuk dan merusak rumah tangga om Hariyanto," jawab Vio dengan tegas yang menatap tajam Tasya dengan penuh kejijikan pada Tasya.
"Aku tidak merusak rumah tangga mas Hariyanto. Aku hanya menuntut hakku," jawab Tasya.
"Tutup mulutmu. Apapun alasanmu. Itu tidak ada gunanya. Seharusnya kau sadar diri yang hanya menjadi simpanan dan tidak tau malunya dirimu yang menginginkan pengakuan seorang anak yang hamil dengan perselingkuhan," kecam Vio.
"Heh, apa kau tidak berpikir panjang. Dengan mental anak itu. Apa kau ingin menjelaskan kepadanya berasal dari mana dirinya. Dia yang telah lahir dari hasil perbuatan bejat. Apa kau sangat bangga harus menjelaskan asal usul anak itu,"
"Kau wanita egois yang hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau bukan hanya menghancurkan keluarga orang lain. Tetapi kau juga menghancurkan anakmu sendiri demi kepentingan mu. Lalu bagaimana mungkin kau ingin ada pengakuan dari seorang ayah yang dirimu saja menjadi seorang ibu tidak pernah beres," tegas Vio yang berbicara menunjuk-nunjuk Tasya.
"Kau dengar wanita murahan. Jika aku melihatmu lagi mengganggu keluargaku. Maka aku akan menjadi lawanmu dan bukan ini yang akan aku lakukan. Aku akan lebih parah melakukannya dan kalau bisa sampai dirimu benar-benar tidak bisa bicara lagi," ancam Vio dengan penuh penegasan dan Tasya hanya diam dengan kata-kata Vio yang benar-benar menjadi lawannya.
Vio pun langsung meninggalkan tempat itu dan Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam dengan napasnya yang naik turun yang terasa sesak bagi Tasya. Belum lagi orang-orang yang lewat melihatnya seolah sampah yang sangat menjijikkan.
"Argghhh sial!" umpat Tasya dengan penuh emosi yang memukulkan ke-2 telapak tangannya di atas tanah.
**********
Hariyanto duduk di sofa dan ada Vio di depannya.
"Kenapa Om tega melakukan semua ini. Kenapa Om menghiyanati Tante Tantri hanya dengan wanita murahan seperti itu?" tanya Vio yang berdiri di depan Hariyanto yang sangat kecewa dengan semua yang di lakukan Hariyanto.
"Om khilaf Vio dan ini kejadiannya sudah 7 tahun lalu dan Tante kamu mengetahui hal itu dan memafkan Om dengan memberi Om kesempatan," ucap Hariyanto.
"Dan ketika mendapatkan kesempatan. Om mengulanginya lagi," sahut Vio.
"Tidak Vio demi Allah Om tidak melakukan hal itu. Setelah Om mengakhiri segalanya. Om tidak pernah bertemu dengan dia dan tidak tau apa yang terjadi. Masalah dari teman Risya membuat pertemuan ini ada dan dia menuntut segalanya," jelas Hariyanto.
__ADS_1
"Jadi Om ingin mengatakan. Jika Tante Tantri tidak tau orangnya adalah wanita itu?" tebak Vio. Hariyanto menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana jika Tante Tantri tau. Wanita hamil dan mempunyai anak dari Om. Hasil tes DNA yang benar apa adanya. Jika anaknya adalah darah daging Om. Bagaimana om jika Risya tau semuanya," ucap Vio yang tidak dapat membendung air matanya.
"Om tidak menginginkan hal itu terjadi Vio. Tetapi jika memang Risya harus tau. Jika dia membenci papanya. Itu adalah hukuman yang memang seharusnya Om terima," jawab Hariyanto pasrah yang juga mengeluarkan air mata.
Vio memejamka matanya dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang berusaha untuk tenang dengan mengatur napasnya.
"Sangat tidak di duga. Jika semua ini harus terjadi. Aku tidak tau Om harus berbuat apa. Aku tidak menyangka jika Om bisa melakukan semua ini dan Risya yang akan menjadi korban untuk semua ini," ucap Vio yang masih sangat kecewa dan baginya ini mimpi buruk.
***********
Dengan langkah yang lemas dan wajah yang kusut yang sangat berantakan. Hariyanto pulang kerumahnya.
"Papa sudah pulang," sapa Tantri yang kebetulan ada di ruang tamu.
"Iya mah," sahut Hariyanto dengan tersenyum tipis.
"Papa tampak lelah. Apa pekerjaan sangat banyak?" tanya Tantri
"Hmmm lumayan mah. Papa mau mandi dulu ya. Mama tidak ingin istirahat?" tanya Hariyanto.
"Arga. Memang Arga mau datang?" tanya Hariyanto.
"Iya pah. Arga mau datang menjemput Risya," jawan Tantri.
"Risya ada di sini?" tanya Hariyanto.
"Iya pah. Ada di kamar lagi tidur. Tadi dia kelelahan makanya mau tidur. Jadi mama mau tungguin Arga dulu," ucap Tantri.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu papa naik dulu ya. Sekalian mau mandi," ucap Hariyanto. Tantri hanya mengangguk saja.
Hariyanto langsung pergi dengan dirinya yang tampak sangat lelah.
"Belakangan ini kamu seperti orang yang punya masalah mas. Aku hanya berharap tidak ada yang kamu sembunyikan dan semuanya benar-benar baik-baik saja," batin Tantri. Sebagai istri pasti mempunyai feeling yang kuat dan pasti dia sudah punya perasaan yang tidak enak.
**********
__ADS_1
Hariyanto tidak langsung kekamar. Melainkan dia kekamar Risya. Membuka pintu kamar itu dengan perlahan melihat putrinya yang tertidur nyenyak.
Langkah Hariyanto perlahan masuk kedalam kamar itu dan duduk di samping Risya yang berbaring miring menghadapnya. Hariyanto memebelai-belai rambut Risya dengan air matanya yang akhirnya jatuh karena tidak bisa di tahannya.
"Maafkan papa Risya! Maaf! Maaf!"
"Papa sudah membuat kamu kecewa. Papa bukan ayah yang bisa kamu banggakan. Papa menghiyanati kamu dan juga mama kamu. Papa bukan contoh yang baik sebagai seorang suami dan ayah. Maafkan papa," ucap Hariyanto yang menangis di samping Risya yang memohon ampun.
Tangisan yang pecah itu tidak membuat Risya terbangun dan masih terlelap tidur. Hariyanto juga mencium kening Risya.
"Ya Allah aku sungguh begitu bejat. Hukum aku seberatnya yang sudah melukai putriku sendiri. Aku tidak sanggup ya Allah untuk melihat kehancuran hatinya. Aku tidak sanggup melihatnya akan kecewa kepadaku," ucap Hariyanto dengan tersedu-sedu yang menangis terus menerus.
"Pah!" Tiba-tiba terdengar suara Arga yang berada di depan pintu membuat Hariyanto cepat-cepat mengusap air matanya.
"Arga!" lirih Hariyanto tersenyum getir.
"Kamu mau menjemput Risya?" tanya Hariyanto. Arga menganggukkan kepalanya
"Tapi Risya masih tidur. Sepertinya dia sangat lelah," ucap Hariyanto.
"Papa juga terlihat sangat lelah dan banyak pikiran. Arga ingin bicara sebentar dengan papa. Apa boleh?" tanya Arga.
"Memang ingin bicara apa Arga?" tanya Hariyanto.
"Kita bicara di luar saja. Nanti Risya bangun. Arga ingin bicara serius dengan papa," jawab Arga.
"Baik kalau begitu," sahut Hariyanto dengan mengangguk dan kembali mencium kening Risya.
"Kamu istirahat ya sayang papa pergi sebentar. Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah," ucap Hariyanto yang kembali mencium kening Risya.
Arga hanya melihat saja bagaimana tingkah mertuanya yang menurutnya sangat aneh dan tidak biasanya seperti itu. Namun Arga tidak mau berpikir lain dan Hariyanto langsung pergi keluar dari kamar itu menyusul Arga.
Bersambung
...Hay, Hay para readers jangan lupa mampir ke Novel terbaru aku yang berjudul. Terpaksa Menikahi Wanita Yang Telah Hamil....
...Mohon dukungannya. Beri vote sebanyak-banyaknya. Dan jangan like, komen dan subscribe. Terimakasih untuk para readers ku tersayang....
__ADS_1