
Risya berasa di ruangan Hariyanto yang sekarang mereka berbicara serius dari hati kehati dan tidak ada orang di ruangan itu. Bahkan Arga tidak ingin mengganggu waktu istrinya dan papanya.
"Risya sudah memaafkan papa dan seharusnya papa menggunakan maaf Risya untuk papa tetap berada di sisi Risya dengan papa yang seharusnya terus menjaga Risya. Tetapi kenapa papa malah mengingkari janji papa dan pergi secepat itu," ucap Risya menangis di pelukan Hariyanto.
Wajahnya yang berada di dada bidang Hariyanto yang mana dia begitu sedih dan tidak ingin semua itu terjadi. Ada rasa yang tidak ingin di lakukannya. Ada perasaan yang berat.
"Risya tidak mau kehilangan papa. Risya bukan mama pah yang bisa ikhlas dengan semua itu Risya tidak mau kehilangan papa dan jangan papa pikir mama yang terlihat tegar dan menyetujui semua yang papa lakukan. Mama tidak sedih. Risya melihat sendiri mama menangis pah. Jadi Risya mohon papa hentikan semua ini. Risya mohon pah," ucap Risya yang menangis sengugukan.
"Ini sudah takdir sayang. Papa harus menerima hukuman keadilan dari Allah. Papa sudah menyakiti kamu dan juga mama kamu dan ini harus papa dapatkan," ucap Hariyanto.
Hariyanto melonggarkan pelukan itu untuk bisa melihat wajah Risya. Wajah yang penuh air mata dan Hariyanto memegang ke-2 pipi itu dengan mengusap air mata itu dan mencium kening Risya.
"Papa sayang sama kamu. Sayang sama mama kamu. Makasih ya sudah memaafkan papa. Kamu anak termanja papa. Kamu sekarang sudah punya Arga. Kamu dan Arga harus jaga mama kamu. Dia wanita yang kuat biasa hatinya sangat besar. Jika dia sedih adalah untuknya," ucap Hariyanto yang berpesan pada Risya seolah ingin pergi meninggalkan semuanya.
"Papa akan tetap pada keputusan papa?" tanya Rusyd yang masih berharap sedikit saja untuk Hariyanto mengubah keputusannya.
"Papa bolehkah melakukan semua itu?" Hariyanto kembali bertanya.
"Kamu anak papa satu-satunya. Dan jika Putri darah daging papa. Putri juga tidak akan pernah ingin mempunyai orang tua seperti papa. Jadi tetap kamu anak papa satu-satunya dan apa yang papa lakukan untuk penebusan dosa papa dan selagi masih ada kesempatan untuk melakukannya. Papa akan melakukannya dan ini kesempatan yang di berikan Allah," ucap Hariyanto dengan lembut yang mencoba untuk menjelaskan kepada Risya.
"Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Maafkan papa yang tidak bisa mendampingi kamu. Karena ada Arga yang pasti selalu mendampingi kamu," ucap Hariyanto.
"Kamu sayang kan sama papa?" tahta Hariyati.
Dengan menangis Risya menganggukkan kepalanya. Hariyanto meneteskan air matanya dan kembali memeluk Risya dengan erat.
__ADS_1
"Anak papa yang paling cantik. Masih manja papa sangat sama kamu. Kamu anak kebanggan papa," ucap Hariyanto memeluk begitu erat yang juga tidak ingin berpisah dari Risya.
"Risya juga sayang sama papa dan papa adalah orang tua kebanggaan Risya. Papa tetap idola Risya. Apapun yang papa lakukan. Papa adalah papanya Risya dan tetap menjadi papa Risya," ucap Risya yang menangis sengugukan di pelukan Hariyanto.
Arga, Salmah dan Dehway hanya menunggu di luar. Walau menunggu di luar. Tetapi mereka juga mendengar percakapan intens antara ayah dan anak itu.
"Ini pasti sangat berat untuk Risya. Arga kamu harus terus mendampingi Risya jangan biarkan dia sendirian. Teruslah ada di sisinya," ucap Salmah memberi saran putranya itu.
"Pasti mah, aku pasti akan mendampingi Risya terus. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian," sahut Arga yang sangat tau apa yang di rasakan istrinya dan pasti tidak mudah bagi istrinya.
"Kita berdoa saja semoga jalan ini yang terbaik. Risya maupun mbak Tantri di beri kekuatan, kelapangan dada dan di berikan kesabaran," sahut Dehway.
"Amin," sahut Arga dan Salamah.
************
"Risya mana?" tanya Syrala yang melihat orang-orang yang ditemuinya itu tampak sedih.
"Masih di dalam," jawab Arga
"Arga aku baru mendengar tentang masalah donor untuk Putri. Apa benar semua itu?" tanya Syrala yang belum percaya dengan isu-isu yang terdengar di telinganya.
"Itu memang benar!" jawab Arga.
"Lalu Risya bagaimana?" tanya Syrala dan Boy secara bersamaan. Karena bicara bersamaan membuat mereka berdua saling melihat.
__ADS_1
"Hmmm, Risya bagaimana?" Syrala bertanya kembali.
"Dia masih di dalam dan bicara dengan Hariyanto. Pasti sangat berat untuk Risya. Tetapi semuanya sudah kehendak dan Syrala Tante juga mohon sama kamu. Untuk kamu selalu mendampingi Risya ya," ucap Salmah yang khawatir pada menantunya.
"Itu pasti Tante. Saya akan selalu berada di samping Risya dan menguatkannya," sahut Syrala yang memang pasti akan selalu ada untuk sahabatnya itu.
*********
Dengan langkah yang tidak bersemangat, wajah yang kucel dan mata yang sembab. Langkah Risya terhenti di depan salah satu ruang perawatan. Ruang tempat Putri di rawat. Risya berdiri di depan pintu yang memiliki kaca yang bisa melihat ke adaan Putri di dalam sana.
Putri yang terbaring yang tidak sadarkan diri. Dengan alat medis terpasang di tubuhnya dengan suara mesin jantung di ruangan itu yang terdengar.
"Tante Putri minta maaf ya. Tante jangan marah sama Putri," tulisan surat yang di terima Risya masih teringat di kepala Risya bagaimana Putri mengirim bunga untuknya dan meminta maaf pada Risya.
Air mata Risya kembali jatuh. Kala melihat anak kecil tersebut. Anak yang tak lain adalah adiknya. Adiknya yang tidak mendapatkan kesempurnaan sepertinya. Lahir dengan cara yang tidak sepertinya.
Kata kasar anak haram.Bukan anak yang haram. Tetapi perbuatan pelaku dan menjadikan gadis kecil yang cerewet itu menjadi tidak terhormat.
Putri tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu seperti dirinya yang memiliki Tantri yang sangat baik. Putri mungkin memiliki Edo yang menyayanginya melebihi apapun. Tetapi Putri tidak mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya.
Risya yang melihat perbedaan itu kembali terisak-isak dengan menangis senggugukan, menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Sekeras apa hatinya. Dia tetap wanita yang berhati luas. Dia juga tidak menginginkan semua ini dan mengakui. Jika semua ini bukan kesalahan Putri mencoba untuk menerima semua yang terjadi dan pasti tidak mudah bagi Risya. Namun dia harus menghilangkan ke egoisannya. Karena anak yang sekarang kritis di depannya yang tak lain adiknya juga butuh kehidupan.
Sentuhan tangan di pundak Risya membuat Risya menoleh kebelakang. Syrala yang mengikutinya sejak tadi langsung memeluk Risya. Tangis Risya semakin pecah kala di pelukan sahabatnya itu yang mencoba memberikan energi kekuatan pada Risya.
__ADS_1
Bersambung