
Arga dan Risya memasuki rumah orang tua Arga. Salah dan Dehway ada di ruang tamu dan melihat kedatangan Risya dan Arga.
"Kalian berdua datang?" tanya Dehway yang melihat Risya dan Arga yang sampai rumah.
"Hay mah pah," sahut Risya yang langsung menghampiri mertuanya dan memeluk mertuanya itu dengan erat.
"Kamu tambah cantik sayang," ucap Salmah.
"Mama bisa aja. Mama juga semakin cantik," ucap Risya.
"Aku mau kekamar dulu," sahut Arga yang langsung pergi menaiki anak tangga dengan cueknya.
"Kenapa dia?" tanya Salmah heran dengan Arga yang asal pergi saja.
"Ngambek palingan," jawab Risya dengan santai.
"Kalian bertengkar?" tanya Dehway.
"Nggak kok pah. Hanya biasa aja. Maklumlah," sahut Risya.
"Kalian ini berdua selalu ngambek- ngambekan," ucap Dehway geleng-geleng.
"Papa ini namanya rumah tangga jadi wajar ada ngambek, marah-marah. Itu namanya bumbu-bumbu dalam pernikahan. Jadi sangat wajar," ucap Salmah.
"Iya-iya papa tau. Tapi jangan keseringan ngambek- ngambek nggak jelas. Kalau ada masalah di selesaikan dengan baik," ucap Dehway yang memberikan saran.
"Iya pah. Tenang aja nanti Risya akan bicara kok sama Arga," ucap Risya.
"Papa berharap kamu sama Arga baik-baik saja dan ingat Risya kamu itu harus jujur pada suami kamu. Jangan menutupi apapun," ucap Dehway.
Dahi Risya mengkerut mendengar papa mertuanya itu bicara masalah kejujuran dan Risya langsung melihat ke arah Salmah.
"Mama kasih tau papa?" tanya Risya yang sudah menebak arah bicara papanya itu yang menyingung masalahnya kejujuran.
Salmah menganggukkan kepalanya dengan pasrah yang memang sudah memberitahu pada suaminya dan tidak ada kebohongan di antara dia dan suaminya.
"Mama," sahut Risya dengan lemas.
"Risya tidak seharunya kamu menutupi hal itu dari Arga. Kamu dan Arga sudah menikah dan beritahu Arga. Jangan menyembunyikan hal yang paling bahagia untuk kalian," ucap Dehway yang menyarankan.
__ADS_1
"Tapi Risya hanya takut tidak bisa jaga kandungan Risya dan takut jika nanti Arga berharap banyak," ucap Risya yang alasannya tetap sama.
"Lalu bagaimana dengan yang terjadi dengan kalian. Risya tindakan kamu justru yang membuat kandungan kamu sulit bertahan. Jika Arga tau kamu hamil. Pasti dia tidak akan bertengkar dengan kamu. Karena dia tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa. Kalian berdua sama-sama menjaga kandungan kalian dengan baik," ucap Dehway yang memberi Risya arahan.
"Mama setuju dengan papa kamu. Jadi kamu sebaiknya harus memikirkan kesehatan kandungan kamu dan bukan dengan cara menutupi dari Arga. Tetapi dengan memberitahunya dan kalian bisa saling menjaga," ucap Salmah yang memberikan saran yang sama.
"Iya mah," sahut Risya.
"Jadi sayang. Jangan menutupi apapun dari Arga. Mau itu hal kecil atau hal besar. Karena bertahannya rumah tangga itu. Karena salah satunya saling mempercayai dan tidak menyembunyikan apa-apa," ucap Salmah dengan lembut yang memberikan arahan kepada menantunya itu.
"Ya sudah sekarang kamu sana istirahat juga. Kamu selesaikan masalah kamu dengan Arga," ucap Dehway.
"Baik pah," sahut Risya yang tersenyum tipis dan langsung pergi.
Salamah dan Dehway sama-sama menghela napas mereka.
"Semoga mereka sama-sama bisa menjagamu rumah tangga mereka," ucap Dehway.
"Mama juga berharap seperti itu pa," sahut Salmah dengan menghela napasnya kembali.
***********
Risya keluar dari kamar dan melihat Arga yang sudah tertidur dengan tubuhnya yang miring yang membelakangi Risya. Risya menghela napasnya dan menghampiri suaminya itu dengan duduk di samping Arga dan memegang bahu Arga.
"Kamu sudah tidur?" tanya Risya. Tidak ada jawaban dari Arga yang mungkin Arga sudah tidur. Atau justru Arga pura-pura tidur.
Risya ternyata tidak menyerah dan langsung memeluk Arga dari belakang. Arga membuka matanya dan melihat tangan Risya berada di dadanya.
"Jangan marah padaku," ucap Risya dengan wajah senduhnya.
"Aku tau aku sangat menyebalkan. Tapi jangan marah kepadaku. Aku tidak akan tenang Arga," ucap Risya lagi.
"Aku mau tidur Risya. Kamu tidurlah," sahut Arga dengan suara beratnya.
"Bagaimana aku bisa tidur. Jika kamu tidak ingin menyelesaikan masalah denganku. Kamu terus mendiamkanku dari mobil sampai sekarang. Dan sekarang menyuruhku untuk tidur. Itu sangat tidak mungkin Arga," ucap Risya dengan suaranya yang terlihat begitu sedih.
"Kamu yang mencari masalah Risya dan tidak seharusnya ada yang di selesaikan," ucap Arga.
"Kalau begitu ayo bicara padaku," ucap Risya.
__ADS_1
"Apa yang harus kita bicarakan. Kamu tau masalah konflik kita berdua. Kamu tau apa yang terjadi. Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan. Jadi untuk apa lagi kita bicara," ucap Arga.
"Aku punya alasan Arga," ucap Risya.
"Apa alasannya?" tangan Arga.
Risya terdiam dan sangat ragu untuk memberitahu Arga. Namun apa yang di katakan mertuanya juga masuk akal dan tidak mungkin menyembunyikan hal itu dari Arga yang adanya membuat mereka berdua selalu dalam ke salah pahaman.
"Kenapa diam Risya?" tanya Arga yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
Arga pun membalikkan tubuhnya dan melihat Risya. Risya pun duduk dan Arga juga mengikuti Risya yang mereka sekarang sama-sama duduk.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanah Arga yang menatap Risya serius. Risya langsung memeluk suaminya itu dengan wajahnya yang mendarat di dada Arga
"Maafkan aku," ucap Risya dengan suaranya yang manja pada Arga.
"Maaf kenapa?" tanya Arga. Risya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Arga.
"Sayang aku punya alasan dan tidak berniat untuk menghindari kamu. Karena ada hal yang harus aku jaga," ucap Risya dengan wajahnya yang tampak sendu.
"Apa yang harus kamu jaga?" tanya Arga. Risya menghela napasnya dengan meraih tangan Arga dan meletakkan di perutnya.
" Aku takut terjadi sesuatu pada anak kita," ucap Risya yang membuat Arga mengkerutkan dahinya melihat Risya dengan serius.
"Apa maksud kamu?" tanya Arga heran.
"Risya kamu..." Arga menduga-duga. Risya menganggukkan kepalanya yang akhirnya jujur pada suaminya itu jika dia benar-benar hamil.
"Kamu serius hamil?" tanya Arga yang masih tidak percaya dengan kehamilan Risya.
"Iya aku hamil dan aku tidak bisa melakukan hubungan itu untuk sementara. Karena itu yang di katakan Dokter," ucap Risya.
"Risya kenapa kamu tidak memberitahu ku tentang kehamilan kamu?" tanya Arga yang benar-benar terkejut dengan kehamilan Risya. Dia mungkin bahagia. Tetapi dia juga kecewa dengan Risya yang menyembunyikan kehamilannya.
"Maafkan aku. Aku pikir menyembunyikan kehamilanku adalah hal yang baik. Ternyata aku salah dan justru itu adalah masalah untuk hubungan kita," ucap Risya dengan wajahnya yang penuh penyesalan atas apa yang di lakukannya pada suaminya.
Arga menghela napasnya dan memeluk istrinya itu langsung.
Bersambung
__ADS_1