
Penyesalan selalu datang terlambat begitu juga dengan Hariyanto yang harus penuh penyesalan. Dia berpikir masalah sudah selesai dan rahasia itu tidak akan pernah di ketahui Risya sampai kapanpun.
Ternyata rahasia itu sudah di ketahui Risya. Melihat tangisan, kekecewaan, kemarahan putrinya langsung di depan matanya. Kata benci dan jahat itu yang terucap membuat Hariyanto penuh penyesalan.
Sama seperti sekarang ini. Dia yang berada di ruang kerjanya yang berdiri dengan melihat foto Risya yang tertawa begitu bahagia. Air matanya jatuh pada bingkai foto itu. Air mata penuh dengan penyesalan.
"Maafkan papa Risya, papa sudah melakukan kesalahan besar kepada kamu. Papa sudah menyakiti hati kamu. Maafkan papa Risya. Papa seharusnya tidak melakukan semua ini. Seharusnya kamu tidak menjadi korban," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Benar apa kata mama kamu. Kamu yang mendapatkan karma atas perbuatan papa. Kamu harus kehilangan bayi kamu atas perbuatan kejam papa yang pernah menyuruh dia untuk menggugurkan kandungan kamu. Maafkan papa Risya! Maaf nak!" lirih Hariyanto dengan deraian air mata.
"Akhirnya apa yang di takutkan terjadi!" tiba-tiba suara serak itu terdengar membuat Hariyanto membalikkan tubuhnya yang ternyata suara yang berasal dari Tantri.
"Entah di mana. Sampai detik ini Risya entah di mana. Tidak ada yang tau keberadaannya. Tidak ada yang tau apa yang terjadi padanya. Bahkan mama dia tidak ingin sama sekali menemui mama," ucap Tantri yang terasa sesak yang sangat takut kehilangan Risya.
"Ini semua salah papa mama," sahut Hariyanto.
"Jika bukan kesalahan kamu siapa lagi mas. Kamu lihat perbuatan kamu. Kamu bisa melihat betapa hancurnya Risya saat tau semua ini. Kamu tau bagaimana pikiran Risya saat dia mengetahui penghiyanatan kamu. Ini mimpi buruk bagi Risya. Kamu lihat bagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri kemarin. Dia menganggap dirinya tidak berarti dan penuh ketakutan," ucap Tantri mengingat kejadian itu membuatnya juga sangat takut.
"Mas, bukan waktunya saya harus bertanya kepada kamu. Apa kurangnya saya sehingga kamu bisa tega menghiyanati saya. Masa pertanyaan itu sudah lewat. Tetapi saya hanya ingin bertanya. Apa ini yang kamu inginkan selama ini. Penghiyanatan yang kamu lakukan. Perselingkuhan dengan hubungan gelap dengan wanita itu. Ini yang kamu inginkan melihat kehancuran Risya," ucap Tantri.
"Papa menyesal mah. Papa sangat menyesal dengan semua ini," sahut Hariyanto.
"Tidak. Kamu tidak pernah menyesal. Seharusnya saat kamu dan wanita itu bersenang-senang. Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan ku. Tetapi seharusnya kamu memikirkan Risya. Tapi tidak kamu melupakan anak dan istrimu hanya demi wanita baru yang muncul dalam kehidupanmu yang masih mudah dan jauh lebih cantik," ungkap Tantri dengan penuh penekanan.
"Itu memang kesalahan yang tidak bisa di maafkan. Tetapi papa janji akan bertanggung jawab untuk semua ini papa janji akan mencari Risya!" sahut Hariyanto.
"Apa yang akan kamu lakukan mas. Apa yang akan kamu lakukan untuk Risya. Kamu bisa menemukannya sekarang. Coba mas. Coba kamu temukan dia dan cari dia! Tidak sama sekali. Semua orang harus ikut terlibat dengan semua yang kamu lakukan. Keluarga Arga yang jug telah menjadi korbannya," ucap Tantri.
Hariyanto hanya terdiam yang tidak tau harus mengatakan apa lagi. Dia mendengar semua keluhan istrinya itu dengan rasa yang penuh dengan kekecewaan.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Risya. Dan kamu yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Jika terjadi sesuatu pada putriku. Maka kamu harus bertanggung jawab atas anakku," ucap Tantri yang langsung meninggalkan tempat itu.
Hariyanto tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.
"Papa akan bertanggung jawab atas kamu Risya. Papa tidak akan membiarkan kamu menerima dosa ini. Papa akan bertanggung jawab," lirih Hariyanto dengan suara yang menahan sakit di bagian dadanya yang tiba-tiba saja terasa sangat perih.
***********
__ADS_1
Ternyata sudah 2 hari dan Rusya tidak di temukan. Entah bagaimana mengabari Risya. Risya tidak membawa ponselnya. Tidak ada yang tau keberadaannya entah di mana.
Arga yang tidak pernah berhenti mencari Risya dari pagi sampai malam dan terus di lakukannya. Mungkin tidak memikirkan perutnya lagi. Yang di pikirkannya bagaimana dia menemui Risya. Sampai tidak peduli apapun.
Sama seperti sekarang ini. Arga yang menyetir sembari melihat ke kiri dan kanannya yang mencari-cari keberadaan Risya di sekitar jalan.
"Di mana kamu sayang. Kenapa bukan aku yang menjadi tempat kamu untuk meluapkan semua kemarahan kamu. Kenapa kamu harus pergi dan sama sekali tidak mencariku. Kenapa sayang," ucap Arga dengan matanya yang berkaca-kaca yang mencari keberadaan Risya.
"Kembalilah sayang! Kembali sayang!" lirih Arga yang sangat mengharapkan kehadiran Risya untuk kembali kehadapanya.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt
Tiba-tiba suara ponsel Arga bergetar. Arga langsung mengangkatnya.
"Iya Boy!" sahut Arga yang ternyata temannya Boy yang menelpon.
"Apa Risya sudah ketemu?" tanya Boy.
"Belum Boy. Aku tidak tau di mana dia? Sampai detik ini aku belum menemukannya dan aku benar-benar bingung," jawab Arga.
"Kamu tenang ya Arga. Aku juga masih mencarinya. Nanti kalau aku bertemu dengannya aku akan segera mengabari kamu," ucap Boy dengan suara yang sangat sedih.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kita sama-sama akan mencari Risya. Kamu jangan khawatir," ucap Boy.
"Iya," sahut Arga yang langsung mematikan panggilan itu. Arga menghela napasnya dan kembali mencari mencari istrinya.
"Sayang semua orang sedang mencari kamu! Kamu harus kembali dan marahlah kepadaku atas semua yang terjadi," ucap Arga dengan Kesedihan hatinya.
Dratt-dratt-dratttt-dratt
Ponsel Arga berdering kembali. Arga melihat panggilan masuk itu yang ternyata dari Syrala.
"Syrala pasti ingin bertanya mengenai Risya. Karena ponsel Risya yang mati," batin Arga yang memang Syrala berada di Luar Negri dan pasti ingin berkabar dengan Risya.
"Halo Syrala!" sapa Arga.
Mata Arga melotot seperti ada sesuatu yang di sampaikan Syrala lewat telpon yang membuat Arga tampak kaget.
__ADS_1
"Baiklah aku akan segera kesana," ucap Arga yang buru-buru mematikan telpon itu dan langsung menyetir dengan kecepatan tinggi. Tidak tau apa yang terjadi dan ada apa Arga begitu buru-buru sekali.
*********
Rumah sakit.
Ternyata mobil Arga berhenti di rumah sakit. Dan Arga langsung buru-buru keluar dari mobil berlari memasuki rumah sakit. Di dalam rumah sakit Arga mencari-cari seseorang dengan napas yang naik turun. Sampai akhirnya matanya menemukan Tasya yang berdiri di salah satu ruangan perawatan.
"Syrala!" panggil Arga yang menghampiri Syrala.
"Arga!" sahut Syrala.
"Di mana Risya?" tanya Syrala.
"Risya ada di dalam!" jawan Syrala.
Arga yang tidak menunggu apa-apa lagi langsung memasuki ruangan itu. Arga masih berdiri di depan pintu yang terbuka. Melihat Risya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Risya tidak sadarkan diri. Hidungnya di beri alat pernapasan dengan infus yang juga mengalir ke tubuhnya.
"Risya!" lirih Arga yang melangkah masuk dengan perlahan. Melihat keadaan istrinya yang seperti itu membuat hatinya sangat hancur.
Arga yang duduk di samping Risya dengan memegang kuat tangan dingin itu. Tangisnya pecah dengan tangan sang istri berada di pipinya
"Maafkan aku Risya, aku tidak bisa menjaga kamu," ucap Arga yang merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Risya.
Syrala menghela napasnya dan melangkah mendekati Arga. Syrala menunjukkan sesuatu kepada Arga seperti foto.
Arga menoleh kearah foto tersebut dengan melihat hasilnya. Foto USG yang di berikan Syrala.
"Apa maksudnya ini?" tanya Arga dengan suara seraknya melihat ke arah Tasya.
"Risya hamil Arga!" jawab Syrala yang membuat Arga terkejut. Di saat kabar bahagia itu datang di sana juga kehancuran Risya.
"Dia mengalami pendarahan ringan. Kandungannya sangat lemah. Tetapi Alhamdulillah Dokter masih bisa menyelamatkannya," jelas Syarla dengan singkat.
Arga tidak bisa berkata apa-apa selain menangis terisak-isak dengan tangan yang masih di pegangnya begitu kuat.
__ADS_1
Bersambung.