
Setelah mendapatkan perawatan akhirnya Risya pulang kerumah. Karena keadaannya yang masih seperti itu. Risya tidak pulang ke Apartemen melainkan pulang ke rumah orang tua Arga. Ya Arga pasti butuh orang tuanya untuk mendampingi Risya.
Seperti sekarang ini Salmah yang mengantarkan Risya kedalam kamar. Membantu Risya untuk istrirahat.
"Kamu sebaiknya tidur ya sayang kamu harus banyak-banyak istirahat," ucap Salmah yang membelai rambut Risya.
"Mama ke dapur dulu ya," ucap Salmah pamit sembari menyelimuti Risya.
"Mah!" ucap Risya memegang tangan Risya.
"Iya sayang ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Salmah. Risya mencoba untuk duduk dan Salamah pun akhirnya duduk di samping Risya.
"Keluarga Risya sangat menjijikkan. Pasti mama menyesal telah menjadikan Risya sebagai menantu. Mama pasti menyesal mempunyai keluar seperti keluarga Risya," ucap Risya.
"Hey sayang apa yang kamu pikirkan. Kenapa tiba-tiba harus mengatakan hal seperti itu. Memang kamu lihat dari wajah mama ada punya pikiran seperti itu. Sayang jangan berpikiran buruk. Mama dan papa tidak pernah ikut campur atau menjudge buruk siapapun. Yang kami pedulikan hanya menantu kami yang harus kami bahagiakan. Karena menantu kami adalah tanggung jawab kami," ucap Salmah yang memang sangat menyayangi Risya lebih dari apapun.
"Jadi mama minta sama kamu. Jangan berpikiran buruk ya," ucap Salmah dengan memegang pipi Risya.
"Lalu bagaimana dengan Arga? Apa suatu saat nanti Arga juga menghiyanati Risya. Risya akan tua, semakin jelek dan apa Arga akan mencari wanita yang muda dan sangat cantik," ucap Risya dengan pikirannya yang terlalu jauh.
"Shuttt!!!!!"
"Jangan berbicara seperti itu. Arga tidak akan melakukan itu. Mana mungkin Arga menghiyanati kamu. Bukannya kamu sendiri yang mengatakan. Jika dia hanya mencintai kamu. Jadi bagaimana mungkin dia akan menghiyanati kamu," ucap Salmah.
"Risya juga selalu mengatakan pada orang-orang, membanggakan papa Risya. Selalu menganggap dia yang paling terbaik. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Tanpa sepengetahuan Risya dia berselingkuh dan selama ini menyakiti keluarga Risya jadi apa yang tidak mungkin mah. Jika suatu saat nanti Arga bisa saja melakukan semua itu kepada Risya," ucap Risya. Belum apa-apa dia sudah sangat trauma dengan perbuatan Hariyanto yang merusak mentalnya dan mulai ragu dalam pernikahannya.
"Jika Arga seperti itu papa akan langsung mengirimnya ke Neraka," sahut Dehway yang tiba-tiba datang dan Dehway langsung menghampiri Risya.
"Dari dulu mama dan papa sudah ingin sekali melempar anak itu dari rumah ini. Karena kami kehadiran Putri yang baru. Jadi kalau dia macam-macam. Keinginan mama dan papa akan terwujud. Karena berani menyakiti Putri kami yang cantik ini," ucap Dehway sembari mengusap-usap pucuk kepala Risya.
__ADS_1
Kata-kata Dehway memang selorohan untuk menghibur Risya. Itu semua karena sayangnya pada Risya dan tidak ingin Risya terus memikirkan hal yang belum terjadi.
"Tuh kamu dengar kata papa kan. Kalau Arga macam-macam. Akhirnya impian kamu mengeluarkan dia dari hak waris terkabul juga," sahut Salmah tersenyum.
"Dan itu artinya warisan papa semua untuk kamu," sahut Dehway yang tersenyum. Membuat Risya terlihat tidak sedih lagi. Walau senyumannya sangat sulit keluar.
"Lalu papa sendiri bagaimana? Apa pernah menghiyanati mama?" tanya Risya.
"Risya kenapa bertanya seperti itu," sahut Dehway.
"Kok lama jawabnya. Jangan-jangan pernah lagi ya," sahut Salmah yang langsung menatap tajam suaminya itu.
"Ya nggak dong mah," sahut Hariyanto yang takut-takut dengan tatapan istrinya seperti monster.
"Bohong!" tegas Salmah.
"Aduh mama. Papa itu hanya mencintai mama dan wanita mau secantik dan semuda apapun, seksi apapun tidak akan mampu merobohkan iman papa dan lagian kalau sampai itu terjadi. Itu artinya papa akan kehilangan aset papa. Issss ya papa mana berani," sahut Dehway dengan menggedikkan bahunya.
"Iya mah, iya, jangan di ingatin terus dong mah ngilu tau," sahut Dehway ketakutan dengan wajah pucatnya.
Candaan 2 orang itu ternyata mampu membuat Risya akhirnya mengeluarkan senyumnya. Melihat Risya yang tersenyum membuat Salmah dan Dehway bahagia dan salmah langsung memeluk Risya dan Dehway mengusap-usap pucuk kepala Risya.
Dehway dan Salmah bukan hanya mertua untuk Risya. Tetapi juga menjadi orang tua kandung Risya yang menyayangi Risya lebih dari anak mereka sendiri. Dan makanya mereka sangat berusaha untuk selalu ada di sisi Risya dan menghilangkan kesedihan Risya.
Arga yang berdiri di depan pintu kamar tersenyum. Benar apa kata mertuanya kemarin. Jika Risya pasti sudah memikirkan hal jauh tentang kesetiannya yang bisa di ragukan. Hal itu sangat wajar. Karena rasa kepercayaan yang hilang.
Namun Arga sangat beruntung yang menjadi orang tua yang sangat bijak. Bukan cemburu karena orang tuanya lebih menyayangi Risya. Tetapi justru sangat bahagia. Di mana istrinya di cintai dengan begitu besar.
**********
__ADS_1
Angela dan Edo hari ini menemani Putri ke salah satu tempat les yang dekat dengan Mall. Tangan Putri memegang tangan Angela dan tangan Edo.
"Mama sama papa akan tungguin Putri kan?" tanya Putri mengangkat kepalanya melihat Edo Ndan Angela secara bergantian.
"Iya dong sayang," jawab Angela.
Putri tersenyum dan melanjutkan langkah mereka untuk memasuki gedung tempat les tersebut. Namun tidak langkahnya terhenti. Ketika melihat ke arah kanannya.
Ternyata Hariyanto yang memegang dadanya dan seperti sangat kelelahan dan tidak mampu berjalan. Sampai memegang tiang yang ada di dekatnya.
"Bukannya itu papanya Tante manja," ucap Putri membuat Edo dan Angela sama-sama melihat ke arah tatapan Putri.
"Kayaknya sedang sakit. Putri lihat dulu," sahut Putri yang langsung melepas tangannya dari Angela dan juga Edo.
"Putri!" panggil Angela dan Edo. Namun Putri sudah menghampiri Hariyanto yang sekarang terduduk lemah.
"Om!" sapa Putri memegang bahu Hariyanto. Hariyanto melihat kebelakang dan kaget melihat ke datangan Putri.
"Putri!" lirih Hariyanto.
"Om sedang sakit ya?" tanya Putri dengan wajahnya yang polos.
Hariyanto tidak menjawab dan terus melihat Putri. Putri yang selama ini sangat di hindarinya yang merupakan anak kandungnya. Yang salah itu perbuatannya dan Tasya dan anak Polos itu tidak tau apa-apa dan tidak salah sama sekali.
"Apa Om mau minum! Putri ada minum!" ucap Putri memberikan botol minumnya.
"Di mana Tante manja. Seharusnya dia ada bersama Om dan tidak membiarkan Om seperti ini. Kasihan Om sampai keringatan," ucap Putri mengambil sapu tangannya dan melap keringat di dahi Hariyanto.
Angela dan Edo terus melihat apa yang di lakukan Putri dan juga melihat eksperesi Hariyanto yang hanya diam dengan menatapnyanya Putri.
__ADS_1
Bersambung