MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 235 Merasa tidak berarti.


__ADS_3

Angela mencium kening Putri. Setelah Putri sudah tidur. Angelia menghela napasnya dan menyelimuti Putri. Lalu Angela keluar dari kamar tersebut setelah memastikan Putri tertidur.


Angela menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun saat di dapur. Angela melihat Edo yang duduk termenung di taman yang sendirian. Angela menghela napasnya dan memilih langsung menemui Edo.


Edo duduk sendirian di salah satu kursi dengan selembar kertas di sampingnya. Wajahnya tampak sedih dengan dengan pemikirannya yang pasti sangat banyak.


"Mas!" lirih Angela yang berdiri di samping Edo.


"Angela," sahut Edo dengan suara beratnya. Angela menghela napas dan duduk di samping Edo dengan mengambil kertas tersebut.


"Kamu memikirkan hal ini?" tanya Angela.


Edo menganggukkan kepalanya.


"Saat kecil juga dulu Dokter menyarankan untuk operasi Putri, tulang sumsumnya yang bermasalah. Saat itu itu dia baru satu tahun dan saat itu juga jelas jika tulang sumsum ku tidak cocok dan mungkin saja cocok dengan Tasya,"


"Namun entah mengapa Tasya tidak ingin memeriksa tulang sumsumya atau mendonorkan pada Putri. Dengan alasannya yang banyak dan pasti tidak masalah untuk Putri. Aku tidak mencurigai apa-apa saat itu. Karena aku tidak pernah kepikiran jika Putri bukan anakku,"


"Sekarang kondisi Putri bahkan semakin parah. Dia terlihat baik-baik saja. Namun Dokter sudah menyarankan harus mengoperasi Putri secepatnya. Bukan hanya tukang sumsum belakangnya. Tetapi juga hati. Karena kanker hati yang di deritanya tidak main-main," jelas Edo dengan air matanya yang jatuh.


"Putri bukan anak yang beruntung seperti anak yang lainnya Angela. Dari bayi dia sudah menderita sakit ini dan itu. Dia mengalami Alergi yang tidak bisa. Semakin bertambahnya usianya dia bukan sembuh. Tetapi organ-organ tubuhnya semakin bermasalah," ucap Edo yang selama ini hanya menanggung sendirian masalah Putri.


Angela langsung memegang tangan Edo untuk menguatkan Edo.

__ADS_1


"Kamu salah. Putri anak yang beruntung. Karena dia memiliki kamu. Meski darah kamu tidak mengalir di darah Putri. Tetapi kamu sangat menyayanginya berusaha dari dulu sampai detik ini untuk Putri. Kamu selalu menjadi orang terdepan untuknya. Kamu melebihi seorang ayah untuk Putri," ucap Angela yang mencoba menguatkan Edo.


"Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Walau aku bekerja keras untuknya, menahan ini dan itu agar dia tidak pernah merasa beda. Namun aku tidak bisa memberikan hatiku dan tulang sumsumku untuknya. Aku tidak bisa mendonorkannya, aku tidak bisa menyelamatkannya," ucap ucap Edo yang putus asa.


"Terkadang aku merasa apa yang di katakan Tasya benar. Jika keadilan itu tidak ada untuk Putri. Dia lahir dengan cara seperti itu dan selama 7 tahun dia bukan anak yang normal. Dia berbeda dengan Risya yang hidup dari kecil dengan penuh kebahagiaan dan status yang jelas," ucap Edo.


"Kenapa mengatakan seperti itu? hanya status yang berbeda antara Risya dan Putri. Dan Risya juga belum tentu seperti apa yang kita lihat. Dia anak ceria dan pasti sangat banyak masalah yang di hadapinya. Risya punya Tante Tantri yang menyayanginya dan Putri punya kamu. Tidak ada yang mendapat adik atau tidak adil. Mereka berdua sama-sama korban. Jika ada yang harus di salahkan. Maka harus Tasya. Karena dia yang melangkah begitu jauh," ucap Angela dengan bijak menanggapi masalah yang ada.


"Tasya tidak seharusnya menikah dengan kamu, mengarang kebohongan dan menimbulkan semua ini. Tidak seharusnya dia kembali dan mengacaukan semua ini. Risya tidak seharusnya mendapatkan posisi ini. Kenyataan yang pahit," lanjut Angela.


Edo tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya menangis dengan pemikiran yang sudah bercabang-cabang karena tidak ada solusi baginya.


Angela langsung memeluk Edo untuk menguatkan Edo. Baginya tidak seharusnya Edo mengalami hal seperti ini dan Angela hanya berusaha untuk menguatkan Edo.


Ternyata Kondisi Putri juga tidak baik-baik saja. Anak malang itu juga sedang berjuang dengan sakitnya. Saat Risya berjuang melawan ego atas rasa sakit yang di dapatkannya. Maka lain dengan adiknya yang juga mengalami sakit secara fisik.


Risya mendorong kursi roda Hariyanto yang membawa Hariyanto berjalan-jalan di sekitar rumah sakit di pagi hari itu. Risya memberhentikan kursi roda tersebut dan berjongkok di depan Hariyanto.


Risya melepas syal yang ada di lehernya dan langsung memakaikan ke leher Hariyanto.


"Papa pasti kedinginan," ucap Risya. Hariyanto tersenyum mendapatkan perhatikan dari Risya.


Hariyanto memegang pipi Risya dan mencium kening Risya.

__ADS_1


"Kamu khawatir sama papa?" tanya Hariyanto.


"Mana mungkin Risya tidak khawatir sama papa. Risya sangat khawatir pada papa," jawab Risya yang apa adanya.


"Terima kasih Risya. Kamu sudah mengkhawatirkan papa. Papa sangat bahagia dengan kamu yang terus berada di sisi papa," ucap Hariyanto.


"Maafkan papa ya nak!" ucap Hariyanto.


"Jangan meminta maaf lagi. Papa sudah mengatakan itu berkali-kali. Risya tidak mau mendengarkan kata-kata itu lagi," ucap Risya.


"Tetapi kamu adalah korban dari perbuatan papa. Papa yang membuat kamu kehilangannya banyak hal. Kamu sangat hancur dengan kesalahan besar yang papa lakukan. Gara-gara perbuatan papa di masa lalu. Kamu kehilangan anak kamu," ucap Hariyanto.


"Jangan bicara seperti itu. Semua ini sudah di takdirkan. Setiap manusia mempunyai kesalahan dan papa tidak boleh mengatakan hal itu lagi. Papa bukan penyebab Risya mengalami keguguran. Semua itu sudah kehendak tuhan," ucap Risya dengan bijak.


"Sekarang anak papa sangat dewasa. Selain cantik dia berpikir dewasa," ucap Hariyanto tersenyum dengan air matanya yang jatuh. Risya langsung menyeka air mata itu.


"Sayang kamu jangan pernah takut akan terjadi pada papa akan terjadi pada kamu. Kamu jangan trauma ya. Arga adalah laki-laki yang baik dan kamu jangan takut. Dia tidak akan melakukan hal yang papa lakukan," ucap Hariyanto yang takut jika Risya akan mengalami trauma nantinya.


"Apa yang papa katakan. Risya tidak memikirkan apa-apa. Risya tidak takut dengan apapun. Kita tidak bisa melawan takdir dan jika seperti itu ketentuannya maka akan seperti itu," ucap Risya.


"Papa sekarang sudah bersama Risya. Dan papa tau tidak kalau Risya sedang hamil. Ada cucu papa di dalam rahim Risya. Jadi kita lupakan saja masa lalu," ucap Risya yang mulai berpikira dewasa dan tidak ingin kembali ke belakang.


"Papa sangat bahagia dengan kamu yang kembali hamil dan andai saja papa bisa melihat cucu papa dan menggendongnya. Papa pasti jauh lebih bahagia. Bisa bermain-main dengan cucu papa," ucap Hariyanto.

__ADS_1


"Apa yang papa katakan. Memang papa akan melihat cucu papa, menggendong cucu papa. Papa sudah janji kepada Risya kalau papa akan sembuh. Jadi Risya mohon. Jangan ingkari janji papa," ucap Risya dengan wajahnya yang sangat takut. Risya yang seperti itu langsung memeluk Hariyanto yang takut terjadi sesuatu pada Hariyanto.


Bersambung


__ADS_2