
Kepergian Salmah masih membuat Tasya terdiam. Mungkin apa yang di katakan Salmah benar. Jika Tasya hanya iri saja kepada Risya. Dia tidak bisa seperti Risya yang hidupnya lempeng-lempeng aja. Banyak yang melindunginya dan kehidupannya sangat enak.
Sementara dirinya tidak seperti Risya yang menghancurkan hidupnya sendiri. Merusak rumah tangga orang lain, di campakkan Pria yang di cintainya, hamil tanpa suami dan menikah dengan orang yang tidak di cintainya.
Pernikahannya kandas dan anaknya bersama suaminya yang padahal itu bukan anak suaminya. Sekarang berebut hak asuh anak dan dia nyaris tidak mendapatkan hak asuh itu. Kalau saja tidak mengatakannya sebenarnya pasti hak asuh itu bukan menjadi miliknya.
Hidupnya benar-benar berantakan. Melampiaskan semua kepada Risya. Bukan supaya adik agar Risya tau kebenarannya. Tetapi ingin melihat Risya hancur. Apa yang di katakan Salmah adalah kebenaran yang sesungguhnya.
"Aku memang iri pada Risya. Hidup ku tidak seindah hidup Risya dan bukan hanya iri kepada Risya. Aku juga iri kepada Putri. Putri mendapatkan ayah sambung yang menyayanginya sementara aku masa kecilku sangat berantakan. Anak broken home dan mempunyai ayah tiri bajingan dan aku tidak seperti Risya dan Putri. Aku memang hanya iri," ucap Tasya tersenyum getir dengan matanya yang bergenang.
Dia mengakui sendiri jika dia memang iri dengan kehidupan Risya dan Putri. Dia ingin orang-orang merasakan penderitaan. Makanya dirinya berulah.
*************
Salmah kembali ke dalam mobil. Setelah berbicara dengan Tasya. Ternyata di mobil itu ada Tantri besannya.
"Mbak menunggu lama?" tanya Tantri.
"Tidak mbak! jawab Tantri.
"Bagaimana mbak?" tanya Tantri.
"Saya sudah bicara kepadanya dan berharap dia benar-benar tidak muncul lagi dan mengganggu Risya," jawab Salmah dengan apa yang sebenarnya.
"Semoga saja wanita itu benar-benar sadar dan tidak mengganggu Risya lagi. Saya sudah tidak tau bagaimana menangani Risya. Mental saya dan Risya berbeda. Saya takut semua berpengaruh dengan kejiwaan Risya," ucap Tantri meneteskan air matanya yang takut terjadi hal yang semakin buruk pada Risya.
Salamah langsung memegang tangan dingin Tantri dengan Salmah yang mencoba untuk menguatkan Tantri.
"Mbak tidak sendirian, masih ada kamu yang sangat menyayangi Risya dan kami akan menjaga Risya dengan baik. Tidak akan ada yang salah mbak Risya akan tetap bersama kami. Kami akan mendampinginya terus," ucap Salmah yang menguatkan Tantri.
"Terima kasih mbak. Terima kasih sudah sangat menyayangi Risya. Saya sangat berharap keluarga kalian akan terus menjaganya," ucap Tantri.
"Itu pasti mbak. Jangan khawatir," ucap Salmah yang memeluk Tantri.
Hanya menguatkan yang bisa di lakukan Salmah. Selagi masih ada yang bisa di lakukannya. Maka di lakukannya. Namun pasti tidak akan bisa mengatasi masalah besar di keluarga Risya.
*************
__ADS_1
Rumah sakit.
Tantri yang walau di khitanati masih setia berada di sisi suaminya dengan duduk di samping suaminya menunggu suaminya itu kapan akan silumannya. Seperti apa yang di lakukan Tantri sekarang ini. Tantri melap-lap suaminya itu dari tangannya sampai wajahnya.
Melakukan semuanya dengan ketulusan. Karena memang itu tugas seorang istri. Dia yang memilih jalannya untuk bertahan dan ini pilihannya yang tetap akan berada di sisi suaminya. Ini sudah seminggu lebih Hariyanto tidak sadarkan diri.
Mungkin sangat lelah menjadi Tantri. Tetapi Tantri hanya mencoba ikhlas dan bersabar atas semuanya yang semoga saja harapannya keluarganya baik-baik saja.
Di tengah kesibukan Tantri membersihkan suaminya. Tiba-tiba saja jari tengah Hariyanto bergerak dan sangat kebetulan bersamaan dengan mata Tantri mengarah pada jemari tersebut.
"Mas!" lirih Tantri yang terkejut melihat reaksi suaminya. Tantri langsung melihat ke arah wajah suaminya.
"Mas kamu sudah bangun?"
"Mas!" Tantri mengajak Hariyanto berbicara dengan memegang pipi Hariyanto melihat dengan dekat mata suaminya itu yang memperhatikan dengan teliti apa mata suaminya bergerak.
"Mas!"
"Mas bangunlah!"
Tantri yang panik sendiri. Langsung memencet bel darurat. Dan tidak berapa lama akhirnya Dokter datang.
"Baiklah. Biarkan kami memeriksanya. Ibu tunggu di luar ya," titah Dokter.
"Baik Dok. Tolong selamatkan suami saya," pinta Tantri dengan wajahnya yang panik.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk suami ibu. Jadi ibu tunggu di luar sebentar ya," ucap Dokter. Tantri mengangguk dan langsung keluar yang membiarkan Dokter menolong suaminya.
"Semoga saja mas Hariyanto baik-baik saja," batin Tantri dengan kepanikan di wajahnya.
"Tante!" tiba-tiba Syrala datang dan langsung menghampiri Tantri.
"Syrala!"lirih Tantri.
"Tante nggak apa-apa?" tanya Syrala yang melihat Tantri begitu panik.
"Syrala tadi Om kamu jarinya bergerak dan Dokter sekarang sedang memeriksanya," ucap Tantri dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Tante serius?" tanya Syrala yang kaget.
"Iya Syrala," jawab Tantri.
"Semoga aja Tante Om baik-baik aja dan semoga ada kabar baik," ucap Syrala yang penuh dengan harapan.
"Iya Syrala," sahut Tantri.
************
Setelah Dokter memeriksa Hariyanto. Akhirnya Hariyanto siuman juga dan sekarang bersama dengan Tantri yang menemaninya.
"Pah!" lirih Tantri yang berdiri di samping suaminya. Memanggil nama Hariyanto dengan lembut.
Hariyanto menoleh kearah Tantri dengan kepalanya yang masih sulit di gerakkan. Kondisi Hariyanto masih begitu lemah. Tangan Hariyanto yang terangkat yang ingin memegang tangan istrinya dan Tantri langsung menyambut uluran tangan itu.
"M-m-mah" lirih Hariyanto yang sulit untuk berbicara.
"Iya pah ini mamah. Papa baik-baik aja kan?"
"Papa jangan banyak gerak dulu, jangan banyak bicara," saran Tantri.
"Di_ di_ di mana Ri_ ris_ Risya," ucapnya yang akhirnya bisa menyebut nama Risya ketika berusaha mengeluarkan suara itu.
Tantri terdiam mendengar pertanyaan suaminya itu. Karena Risya memang tidak ada di sini dan juga Tantri tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya yang bisa mempengaruhi kesehatan Hariyanto.
"Apa Risya Hhhhh, Apa Risya tidak mau melihat papa?"
"Risya masih marah pada papa?"
Hariyanto walau kesulitan berbicara. Tetapi sangat memaksakannya berbicara.
"Risya sedang menuju ke mari. Risya tidak marah kok pah. Dia akan datang. Papa jangan memikirkan apa-apa ya," jawab Tantri bohong. Dia harus bohong demi kebaikan suaminya.
"Sudah-sudah papa jangan memikirkan Risya lagi. Papa harus sembuh dan jika papa tidak sembuh. Risya tidak akan mau datang," ucap Tantri.
Hariyanto menganggukkan kepalanya. Dia berharap apa yang di katakan istrinya adalah benar.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan. Aku tau mas Hariyanto pasti sangat ingin bertemu dengan Risya. Namun Rusyd pasti tidak mungkin datang ke mari lagi. Apa yang harus aku lakukan," batin Tantri yang sekarang kebingungan. Dia sudah berjanji pada suaminya. Tetapi dia saja tidak tau caranya membawa Risya bertemu suaminya.
Bersambung