
Pagi hari Tasya berada di kamarnya dengan wajah sembabnya yang menangis semalaman. Setelah bertengkar hebat dengan Bram dan dia yang di salahkan juga mengalami kdrt. Bram langsung pergi.
"Kau tidak punya bukti. Jika aku berselingkuh. Jadi kau jangan menuduhku sembarangan!" suara lantang Bram masih teringat di benak Tasya. Bagaimana Bram yang tidak mengakui kesalahannya dan bahkan menyalahkan Tasya.
Tasya bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di pinggir ranjang. Tasya mengambil ponselnya dan melihat sudah pukul 10 pagi. Dia sejak tadi tidak keluar kamar.
"Kau pikir aku buta mas. Aku jelas-jelas melihatmu masuk ke Apartemen wanita itu. Aku harus membuktikan jika kau memang berselingkuh. Aku tidak terima di perlakukan seperti ini," ucap Tasya yang sibuk melacak ponselnya.
Bram memang tidak mengakui kesalahannya. Karena Tasya tidak mempunyai bukti. Padahal jelas bukti Tasya itu adalah matanya sendiri. Tetepi namanya juga Bram dan sangat red flag. Jadi tidak akan mengakui kesalahannya
Mungkin Tasya harus menjadi detektif mendadak untuk mempunyai bukti dengan penghiyanatan suaminya.
************
Angela dan Edo tiba di Apartemen Tasya. Mereka sepertinya ingin mengunjungi Putri. Keduanya sudah sama-sama keluar dari dalam lift. Mereka juga sepertinya membawa banyak mainan untuk Putri.
"Tidak apa-apa mas. Jika kita datang tanpa memberitahu Tasya?" tanya Angela.
"Jika kita beritahu Tasya kedatangan kita dia tidak akan menginjinkan kita untuk menemui Putri. Jadi lebih baik ini yang kita lakukan," ucap Edo.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Angela yang hanya bisa menurut saja. Memang belakangan ini suaminya dan juga mantan istri dari suaminya itu sering berselih paham. Angle tidak bisa ikut campur terlalu banyak. Karena takut membuat suasana semakin panas.
Tingnong tinnong tinnong.
Suara bel apartemen Tasya sudah terdengar
Tetapi sang pemilik rumah tidak juga membukanya. Putri keluar dari kamar ketika mendengar suara bel rumah.
"Mama kenapa tidak membuka pintu," gumam Putri bingung.
"Nanti kalau Putri yang buka. Nanti mama malah marah," ucap Putri yang jadi serba salah. Dia juga seharian di kamar dan tidak melihat Tasya datang kekamarnya yang seperti biasa untuk membangunkan dirinya. Namun kali ini tidak ada sama sekali.
"Aku coba lihat mama dulu!" Putri langsung berjalan kekamar Tasya. Putri membuka pintu dan melihat Tasya yang duduk di atas tempat tidur dengan yang sekarang sudah bersama laptop yang di pangkuannya dan terlihat serius.
__ADS_1
"Mama ada tamu. Kenapa pintunya tidak di buka?" tanya Putri.
"Putri buka aja mama lagi sibuk," sahut Tasya yang fokus pada laptop tanpa melihat ke arah Putri.
"Baiklah," sahut Putri yang langsung pergi dan menutup pintu kamar.
Namun tiba-tiba tangan Tasya berhenti mengetik dan mengangkat kepalanya.
"Kenapa aku menyuruh Putri membuka pintu. Bagaimana jika itu mas Bram. Jika dia melihatku sedang menyelidikinya aku bisa di hajar," batin Tasya yang baru teringat dan Tasya buru-buru menyimpan semua apa yang di kerjakannya karena takut Bram masuk kekamar.
"Tidak!" Tasya menghentikan pekerjaannya tiba-tiba yang memang sudah selesai di sembunyikannya.
"Jika dia pulang mana mungkin membunyikan bel. Jadi siapa yang datang. Tidak. Jangan sampai ada yang datang. Putri tidak boleh membuka pintu," Tasya menjadi panik dan buru-buru keluar dari kamar untuk mencegah Putri untuk tidak membuka pintu.
Ceklek.
"Putri jangan!" cegah Tasya. Namun tidak sempat pintu sudah terbuka.
"Papa!" sahut Putri dengan bahagianya. Edo langsung berlutut dan memeluk Putri yang sangat di rindukannya itu. Sementara Tasya sudah tidak bisa menghentikan hal itu yang hanya berdiri di belakang Putri dengan jarak yang tidak jauh.
Mata Angela juga mengarah ke arah ruang tamu. Rumah itu terlihat berantakan seperti kapal pecah. Perabotan ada yang pecah seperti terjadi sunami di rumah itu.
"Kalian datang," sahut Tasya yang menyadari Angela memperhatikannya dan Tasya yang pura-pura mencari kesibukan dengan memegang rambutnya.
"Iya maaf kami tidak memberitahu kamu," sahut Angela
"Putri apa kabar?" tanya Edo yang sudah melepas pelukan itu.
"Papa bisa lihat sendiri keadaan Putri," jawab Putri yang terlihat sangat kurusan.
"Apa Putri sakit?" tanya Edo dengan memegang pipi Putri.
"Tidak kok pah. Putri hanya lapar," jawab Putri.
__ADS_1
"Putri belum sarapan?" tanya Edo.
Putri menganggukkan kepalanya, "Putri juga belum makan malam," jawab Putri jujur membuat Edo kaget dan Tasya panik yang tidak bisa mencegah Putri untuk tidak bicara terlalu jauh.
Karena pengaduan Putri Angela dan Tasya langsung melihat ke arah Angela.
"Aku- aku," Tasya tidak tau harus menjawab apa. Dari pengaduan anaknya itu.
"Mama lagi sakit pah. Jadi tidak bisa memasak atau membeli makananan," sahut Putri yang harus bohong agar Tasya tidak semakin di salahkan.
"Ya ampun Tasya. Seharusnya kamu menelpon aku dan mas Edo. Jadi kita bisa mengirim kamu makanan," sahut Angela.
"Aku tidak ingin merepotkan siapa-siapa," sahut Tasya memberi alasannya.
"Ya sudah kalau begitu. Putri sekarang sarapan ya. Kebetulan papa dan mama membawa makanan kesukaan Putri," ucap Edo.
"Baik pah," sahut Putri dengan tersenyum.
Edo berdiri dari tempat duduknya menuju sofa untuk duduk. Edo baru memperhatikan rumah Tasya yang sangat berantakan. Apa yang terjadi jelas membuat Edo penuh dengan kecurigaan dan kembali melihat ke arah Tasya yang seolah bertanya ada apa.
"Maaf berantakan. Putri main-main lari-larian dan sampai memecahkan barang-barang. Aku juga belum sempat membereskannya," sahut Tasya yang langsung berjongkok dan membereskan rumah itu. Dia membuat Putri sebagai alasannya dan padahal sangat tidak masuk akal.
Edo sangat mengenal anaknya itu yang sangat hati-hati orangnya dan lagian kalau mau lari-larian. Lari dengan siapa. Putri hanya sendiri masa iya lari dengan hantu.
Angela yang melihat Tasya beberes langsung di bantu Angela dan mereka sama-sama mengutip bekas pecahan gelas yang sama-sama saling berhadapan.
"Tidak apa-apa biar aku saja," ucap Angela yang tidak ingin di bantu.
"Tidak apa-apa," sahut Angela yang tidak masalah. Namun tiba-tiba Angela melihat tangan Tasya yang membiru membuat Angela heran dan pasti semakin curiga.
Menyadari Angela sedang memperhatikannya membuat Tasya langsung berdiri.
"Ya sudah kalian mengobrol bersama Putri aku mau mandi sebentar," ucap Tasya yang langsung pergi yang terlihat menyembunyikan sesuatu yang membuat Angela semakin mencurigai sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya dengan Tasya kenapa tangannya sampai seperti itu," batin Angela dengan Rasa penasaran kepada Tasya.
Bersambung