
Tangisan pelukan Risya dan Putri masih saja di saksikan banyak orang.
"Makasih pah sudah menitipkan hati papa pada Putri dengan begitu papa tidak pernah pergi dan selalu di dekat Risya. Maaf pah jika masa-masa terakhir papa. Risya banyak mengeluh dan pasti papa juga sangat berat menjalani hal itu,"
"Bagi Risya papa adalah orang yang terbaik untuk Risya yang mencintai Risya dan papa tetap menjadi idola Risya sampai kapanpun. Makasih papa untuk kebaikan papa. Untuk papa yang menyayangi Risya selama ini. Memberikan Risya kebahagiaan. Sehingga Risya tidak pernah merasa kurang sedikitpun,"
"Apapun kesalahan yang sudah papa perbuat. Bagi Risya papa tetap cinta pertama Risya," batin Risya dengan derain air matanya yang sekarang Risya jauh lebih ikhlas dan menerima dengan pelan-pelan.
"Semoga papa di tempatkan di surga Allah. Kita akan bertemu lagi. Hanya waktu yang menentukan semuanya," lanjutnya di dalam hatinya.
Risya melepas pelukan itu dari Putri. Putri tersenyum dan menyeka air mata Risya.
"Tante cantik tidak boleh menangis lagi. Nanti jeleknya bisa muncul," ucap Putri dengan tersenyum. Risya mengangguk-anggukkan kepalanya dan perlahan mencium kening Putri.
Melihat keindahan di pemakaman itu membuat orang-orang yang ada di sana semakin terharu dan pasti tersenyum. Sama dengan Edo yang menghela napas melihat momen manis itu.
***********
Pemakaman itu akhirnya selesai. Haru, tangisan yang bercampur aduk. Juga ada hikmah dalam kebahagiaan. Melihat Risya bertemu dengan Putri dan memeluk Putri layaknya seorang kakak yang juga menguatkan adiknya.
Risya dan Arga sudah kembali pulang. Bersama dengan Tantri, Salmah dan Dehway. Putri juga kembali ke rumah sakit karena Dokter hanya memberikan izin sebentar saja.
Sementara Vio, Samuel, Boy dan Syrala berada di tempat makan yang mereka minum sebentar. Karena mereka juga tidak tidur semalaman yang menemani Risya. Mereka juga tampak lelah. Namun mereka tidak mengeluh dan memang sudah sewajarnya mereka menemani Risya saat-saat kesedihan Risya yang masih berduka.
"Alhamdulillah pemakamannya hari ini benar-benar lancar," ucap Boy yang merasa lega.
"Semoga Om Hariyanto di tempatkan di sisinya. Dia orang yang sangat baik. Sangat humbel dan aku sebagai sahabat Risya sangat bahagia dan beruntung pernah bertemu dengan Om Hariyanto. Dia juga seperti orang tua ku sendiri. Ayah yang baik," sahut Syrala dengan tersenyum yang mengingatkan kebaikan dan kehangatan Hariyanto dan bagaimana tidak dia juga pasti sangat kehilangan.
__ADS_1
"Hmmm Om Hariyanto memang sosok yang baik. Dia juga beberapa kali memberiku masukan mengenai pernikahan, mengajariku tentang pernikahan dan membuatku sadar untuk mempertahankan pernikahanku dan semua itu aku dapatkan dari wejangan Om Hariyanto," sahut Samuel.
"Semoga saja sosok beliau dan kebaikan beliau yang pernah kita dapatkan. Semoga menjadi amal dan jalan untuknya di atas sana," sahut Boy dengan bijak.
"Amin!" sahut semuanya serentak.
"Makasih yah untuk kalian semua yang sudah membantu pemakaman hari ini," sahut Vio yang memang wakil keluarga dan harus mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama Vio," sahut Syrala.
"Aku juga tidak percaya saat melihat Risya tadi. Risya benar-benar sangat baik. Hatinya luas dan menerima semuanya dengan ikhlas. Aku tadi sempat berpikir. Ketika Risya melihat Putri maka yang terjadi tidak akan mudah. Mungkin saja Risya akan semakin hancur. Namun tidak dia memeluk Putri seolah menjadi seorang kakak. Hatinya sangat luas," ucap Syrala yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana tidak luas. Dia memiliki seorang ibu yang kuat. Luar biasa baiknya, hatinya sangat tulus. Jadi jika ibunya seperti itu. Anaknya juga seperti itu," sahut Boy.
"Tante Tantri dan Risya pasti akan selalu di beri kekuatan dan semoga saja mereka selalu ikhlas dan mendapat kebahagiaan yang kuat biasa. Hadiah terindah yang pasti datang dari Allah," sahut Samuel.
"Itu pasti. Bagaimana Putri masih kecil dan harus sembuh. Kehidupannya masih panjang dan semoga saja Om Hariyanto tidak pernah menyesal memberikan organnya pada Putri," ucap Vio.
"Iya itu pasti," sahut yang lainnya.
********
Arga berada di dalam kamar yang menyelimuti Risya. Risya begitu lelah dan akhirnya tertidur.
"Pah!" lirih Risya yang mengigau menyebutkan nama sang ayah. Arga yang duduk di samping Risya memegang kuat tangan Risya dengan memebelai pucuk kepala istrinya itu.
"Aku tau sayang semua ini tidak mudah untuk kamu. Tetapi kamu harus ikhlas sayang dan pasti ada hikmahnya dari apa yang terjadi percaya kepadaku," ucap Arga menghela napasnya dan mencium kening istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu istirahat yang sayang!" ucap Arga dengan mengusap-usap lembut pipi Risya.
Arga yang tidak ingin mengganggu istrinya langsung meninggalkan Risya membiarkan Risya istirahat.
Arga menuju ruang tamu yang di sana ada mama dan papanya. Juga ada Tantri ibu mertuanya.
"Risya sudah tidur Arga?"' tanya Salmah.
"Jangan khawatir mah. Risya sudah tidur kok. Keadaannya juga sudah mendingan. Walau tadi Risya juga sempat mengigau. Tetep dia sudah jauh lebih baik," ucap Arga yang menyakinkan semua orang yang ada di sana.
"Arga mama titip Risya ya. Tolong kamu jaga dia dan jangan biarkan dia sendirian. Mama sangat khawatir Risya kenapa-kenapa," ucap Tantri.
"Mama tenang aja. Menjaga Risya itu sudah kewajiban Arga dan pasti Arga akan menjaganya dengan baik. Mama jangan khawatir ya," ucap Arga yang memang itu pasti di lakukannya tanpa ada yang memerintahkannya.
"Makasih ya Arga," sahut Tantri.
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu mbak kami sudah mengatakan last akan menjaganya Risya dengan baik. Di rumah ini Risya bukan hanya menantu kami saja.. Tetep Risya sudah menjadi anak kami dan kesehatan Risya dan lain sebagainya itu sudah kewajiban kamu," sahut Salmah yang apa adanya.
"Benar kata istri saya. Risya bukan hanya menantu kami saja. Tetapi juga anak kami sama seperti Arga dan kami sebagai orang tuanya akan melakukan yang terbaik untuk Risya," sahut Dehway.
"Saya lega dengan kebaikan kalian semua sekali lagi saya benar-benar sangat berterima kasih. Di saat seperti ini. Kalian ada untuk Risya. Saya benar-benar sangat beruntung Risya di dekatkan dengan orang-orang yang baik dan termasuk kamu Arga makasih sudah mencintai anak saya," ucap Tantri.
"Apa yang mama katakan. Mama tidak perlu berterima kasih pada ku. Risya istriku dan dia adalah tanggung jawabku," sahut Arga.
"Sudahlah mbak jangan merasa tidak enak seperti itu. Kita semua ini keluarga," sahut Salmah.
Tantri mengangguk dan merasa jauh lebih lega sekarang dengan hikmah di balik semua kejadian ini.
__ADS_1
Bersambung