
Malam hari yang seharusnya untuk istirahat. Namun tidak untuk Hariyanto yang tidak bisa tidur dan keluar dari kamar meninggalkan istrinya yang sedang tertidur. Hariyanto yang keluar dari kamar yang ternyata menuju ruang kerjanya. Dia terduduk dengan lemas yang bersandar pada bangku kerjanya dengan memijat kepalanya.
Hariyanto melihat foto yang ada di dalam bingkai kecil itu. Yang mana foto Risya yang masih remaja yang memakai seragam sekolah yang saat itu bersama Hariyanto yang mencium pipi Hariyanto.
Tangan bergetar Hariyanto mengambil foto itu dan air matanya menetes di foto itu.
"Maafkan papa Risya. Papa bukan papa yang baik untuk kamu. Putriku yang manja dan yang sangat cantik maafkan papa," ucap Hariyanto merasa sangat bersalah pada Risya.
"Pah!" tiba-tiba suara itu terdengar membuat Hariyanto melihat kearah pintu dan ternyata Tantri. Hariyanto menyeka air matanya dengan cepat dan Tantri langsung masuk dengan berdiri di belakang suaminya memeluk suaminya dari belakang.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Tantri.
"Masih belum mengantuk," jawab Hariyanto memegang tangan Tantri.
"Kalau kenapa tiba-tiba melihat foto ini?" tanya Tantri.
"Papa hanya tidak menyangka. Jika Risya sekarang sudah menikah dan memiliki suami. Lihat mah di sini dia masih kecil. Masih remaja dan sekarang papa tidak menyangka dia sudah sangat besar dan sudah menikah," ucap Hariyanto dengan tersenyum getir melihat Risya.
"Ya Risya akhirnya menikah dengan laki-laki yang tepat. Walau itu karena paksaan dari mama yang selalu mendesaknya untuk menikah," ucap Tantri.
"Kamu jahat sekali selalu bertengkar dengannya dan kalian berdua ibu dan anak yang kalau bertemu ada aja di permasalahkan," ucap Hariyanto.
"Dan papa selalu membelanya. Heran papa tidak pernah membela mama dan apa-apa Risya. Padahal kalau tidak ada mama Risya tidak akan lahir," seloroh Tantri.
Hariyanto tersenyum dan melihat istrinya itu.
"Makasih sudah melahirkan Risya ke dunia ini. Terima kasih sudah menghadirkan Putri yang sangat cantik seperti Risya. Dia anak kita satu-satunya," ucap Hariyanto dengan matanya berkaca-kaca.
"Dan Putri kita satu-satunya ini sudah menikah. Dia menikah dengan suami yang hebat. Dia mengagumi suaminya. Karena mengagumi kamu. Kamu papa yang hebat yang membuat Risya sangat bangga pada kamu," ucap Tantri.
"Papa masih sangat banyak kekurangan dalam menjadi seorang ayah. Bahkan kesalahan fatal yang papa lakukan di masa lalu tidak bisa menjadikan papa. Seorang ayah yang hebat untuk Risya," ucap Hariyanto.
"Papa ini bicara apa. Sudah jangan membahas hal yang berlalu. Semua orang tidak lupuk dari kesalahan yang penting seorang pelaku pendosa sudah meminta ampun dan melupakan semua itu. Jadi jangan mengungkit hal itu," ucap Tantri.
"Papa takut mengecewakan Risya mah," ucap Hariyanto.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang mengecewakan Risya. Kita punya komitmen untuk membuat anak kita bahagia. Dengan begitu kita akan terus berdampingan untuk kebahagiaan Risya," ucap Tantri.
"Maafkan papa pernah melukai hati mama," ucap Hariyanto meneteskan air matanya.
"Jangan meminta maaf dan membuat kesedihan. Mama tidak mau nangis-nangis," ucap Tantri yang memeluk erat suaminya itu dengan Hariyanto yang memejamkan matanya.
Mungkin di masa lalu kesalahan fatal Hariyanto dengan hubungan gelap dengan Tasya di ketahui istrinya dan ada pengampunan dan kesempatan yang di berikan Tantri. Tetapi mungkin Tantri tidak tau siapa wanita yang menjadi duri dalam ruang tangganya. Makanya dia biasa saja saat bertemu dengan Tasya.
Masa lalu yang pasti menyakitkan itu membuat Tantri sabar dan membuka pintu maaf atas pengakuan menyakitkan dari suaminya. Marah pasti tetapi dia bertahan untuk Risya. Dan makanya masalah besar itu sampai detik ini Risya tidak tau.
Karena kehebatan seorang ibu yang menjaga aib suaminya dan bahkan tidak pernah bertengkar dan ribut di depan Risya dari Risya kecil sampai dewasa. Makanya Risya sangat bangga pada orang tuanya.
Lalu bagaimana selanjutnya. Jika orang yang di banggakannya sangat mengecewakannya apa yang akan terjadi pada Risya. Apa Risya akan seperti ibunya yang memberi maaf walau terluka.
*************
Pagi-pagi Risya dan Arga siap-siap di dalam kamar yang seperti biasa melakukan aktivitas mereka yang masih bekerja. Walau Risya tidak menentu bekerjanya.
Risya membantu suaminya untuk memainkan dasi dengan Arga pasti akan menatap terus istrinya yang sangat cantik itu.
"Kenapa kalau di lihati? istri siapa. Jadi terserah mau melihat atau mau melakukan apa. Kamu itu istriku dan milikku. Jadi semua dari luar dan dalam itu milikku. Jadi kalau aku melihatmu itu hal yang sangat wajar," ucap Arga.
"Apa iya," sahut Risya yang membuat Arga tersenyum dan mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Issss sayang sakit," kesal Risya memukul tangan suaminya.
"Pipi kamu semakin cabi. Jangan kebanyakan makan," ucap Arga
"Issss bodyshaming pasa istirnya," kesal Risya.
"Iya-iya. Ya sudah sayang sekarang kita siap-siap ya. Hari ini ada pertemuan dengan pak Danu di rumah papa," ucap Arga.
"Oh iya. Kok aku nggak tau," ucap Risya heran.
"Memang kamu nggak di telpon sama Angela?" tanya Arga. Risya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kamu sudah tau. Kita ingin membahas untuk sidang lusa. Jadi kita sekarang pergi jangan sampai orang-orang menunggu kita," tegas Arga mencubit hidung istrinya.
"Iya sayang," sahut Risya dengan tersenyum.
***********
Danu, Edo, Angela, Risya dan Arga berkumpul di rumah Danu untuk membicarakan sidang yang akan di laksanakan 2 hari lagi. Di sana juga ada Hariyanto yang ikut mendengarkan diskusi mereka. Namun Hariyanto kelihatan tidak fokus.
Mungkinkah dia memikirkan ancaman Tasya. Tasya mungkin tau jika dirinya akan kalah mengingat persidangan pertama bagaimana pengacara Edo yang sangat kuat. Dia mengancam Hariyanto menggunakan Risya.
Pasti hal itu di pikirkan dan di takutkan Hariyanto. Karena dia tidak ingin Tasya ada di sekitar keluarganya.
"Jika Tasya menang pengadilan. Maka Tasya akan membawa anaknya pergi dan tidak akan muncul lagi. Jadi hal ini tidak akan mengganggu keluargaku dan juga Risya,'' batin Hariyanto yang dengan kebimbangan hatinya yang sepertinya tertarik untuk saran dari Tasya demi keluarganya.
"Papa ingin bicara sesuatu," sahut Hariyanto yang tiba-tiba memotong diskusi yang serius itu.
"Ada apa pah?" tanya Risya.
Hariyanto melihat Edo, Angela, Risya, Arga, Danu dan istrinya secara bergantian.
"Papa ingin Pak Danu untuk tidak..." Hariyanto menjeda omongannya.
"Untuk tidak meninggalkan kasus ini walau apa yang terjadi yang harus berjuang untuk hak Edo," lanjut Hariyanto yang mengubah dengan cepat keputusannya.
"Pak Hariyanto tenang saja. Saya pasti akan melakukan hal yang terbaik," sahut Danu.
"Kami percaya dengan pak Danu," sahut Edo.
"Aku tidak bisa lemah. Jika aku mengikuti Tasya. Itu sama saja aku menunjukkan ketakutanku dengan ancamannya. Jadi aku tidak akan melibatkan orang lain dalam urusan ini. Jika dia ingin macam-macam. Maka aku yang harus berlawanan dengannya dan tanpa mengorbankan masalah Edo," batin Hariyanto yang memutuskan tidak akan terpancing dengan ancaman Tasya.
Dia tidak akan mengabulkan keinginan Tasya yang hanya akan membuat Tasya menganggap dirinya takut. Dia akan berusaha melindungi keluarganya dari Tasya yang ingin kembali mengahancurkan keluarganya dan hal itu tidak akan di biarkannya.
Laki-laki yang gentelment tidak akan mengorbankan orang lebih banyak lagi.
Bersambung.
__ADS_1