MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 224 Bujukan.


__ADS_3

Tidak lama akhirnya Arga pun sampai ke rumah sakit.


"Itu Arga sudah datang," ucap Samuel yang melihat kedatangan Arga.


"Arga!" sahut Salmah.


"Mah bagaimana keadaan papa?" tanya Arga dengan penuh ke panikan.


"Papa masih di rawat Arga. Kondisi papa kamu sangat kritis," jawab Tantri dengan suara bergetar yang sangat takut suaminya kenapa-kenapa.


"Ya ampun pah," sahut Arga yang juga ikutan panik melihat keadaan orang tuanya.


"Risya mana Arga?" tanya Tantri yang tidak melihat kehadiran anaknya itu. Semua orang yang ada di sana juga bertanya-tanya dan melihat ke arah Arga yang pasti sangat menunggu jawaban dari Arga.


"Risya tidak bisa ikut," jawab Arga apa adanya membuat Tantri langsung kecewa yang pasti sangat sedih.


Sangat tidak mudah membawa Risya. Apa lagi datang kerumah sakit. Setelah apa yang terjadi padanya. Sakit hatinya yang sudah menyatu membuatnya tidak gampang untuk datang menemui orang yang melukainya begitu sakit.


"Apa dia tau jika papanya masuk rumah sakit?" tanya Dehway.


"Aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya pah dan Risya tidak merespon apa-apa. Aku juga tidak bisa membujuknya terlalu banyak. Karena aku juga khawatir dengan papa dan mungkin Risya masih butuh waktu," jelas Arga singkat.


"Risya masih sangat begitu marah sampai tidak mau hadir ketempat ini menemui papanya. Walau dia tau kondisi papa nya sedang tidak baik. Kemarahannya dengan rasa kecewanya ternyata tidak bisa mengubah apapun. Dia sangat kecewa dan hatinya tidak luluh meski terjadi hal besar pada papanya," ucap Tantri yang semakin sedih melihat Risya yang tidak ada saat-saat seperti itu.


"Maafkan Arga mah. Seharusnya Arga lebih lama membujuk Risya," sahut Arga memegang tangan ibu mertuanya yang sangat dingin. Arga sangat takut terjadi sesuatu pada Hariyanto dan ibu mertuanya itu terlihat sangat takut.


"Ini bukan kesalahan kamu Arga dan tidak seharusnya kamu minta maaf. Risya mungkin sangat kecewa. Sehingga hatinya menjadi lebih keras," sahut Tantri yang memaklumi tindakan Risya.


"Mbak Tantri jangan memikirkan apa-apa. Masalah Risya kami semua akan berusaha dengan sebaiknya dan pasti Risya akan datang kemari untuk melihat mas Hariyanto. Mbak Tantri juga harus jaga kesehatan dan jangan berpikir hal-hal yang buruk," ucap Salmah.


"Iya mbak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Risya. Jadi fokuslah dengan mas Hariyanto. Jangan sampai mbak juga ikutan sakit," sahut Dehway menambahi.


"Terima kasih untuk kalian semua. Tolong bantu Risya dan jaga Risya. Saya tidak bisa ada di sisinya untuk saat ini jadi mohon untuk kalian membantunya," ucap Tantri.


"Itu pasti mah dan jangan khawatir," sahut Arga yang memang itu adalah tugasnya.


*********


Arga kembali ke rumah setelah melihat keadaan Hariyanto. Hariyanto masih tidak sadar yang masih dalam ke adalah kritis karena kondisi jantungnya.


Sementara Arga memilih pulang kerumah. Karena harus melihat Risya juga. Saat memasuki kamar. Arga sudah melihat Risya yang tertidur berbaring di atas tempat tidur.


Arga menghela napasnya dan menghampiri Risya. Arga langsung menyusul berbaring di samping Risya dengan Arga yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.

__ADS_1


"Papa masih belum sadar," ucap Arga menoleh ke arah Risya yang sedang tidur.


Mungkin saja Arga tau jika Risya belum tidur sama sekali. Jadi Arga perlu mengatakan hal itu kepada Risya.


"Papa mengalami serangan jantung sayang. Mama menemukan papa tergeletak di ruang kerja papa. Kasihan mama yang pasti sangat butuh kamu di sampingnya. Mama sangat sedih dengan kondisi papa sayang," lanjut Arga. Risya tetap diam dan memiringkan tubuhnya membelakangi Arga.


Dari reaksi Risya yang seperti itu. Memang ternyata Risya tidak tidur dan dia bangun dengan air matanya yang keluar.


"Aku tau perasaan kamu dan aku tidak mungkin memaksakan kamu Risya. Tetapi ini kenyataannya Risya. Papa tidak baik-baik aja dan sangat membutuhkan kamu," ucap Arga lagi.


Risya masih diam tanpa mengatakan apa-apa. Arga langsung memeluknya dari belakang dengan menempelkan pipinya pada Risya. Mencium lembut kening Risya dan mata Risya yang kembali terpejam. Arga memeluk Risya dengan begitu erat untuk membuat Risya jauh lebih tenang.


"Sayang jangan menghukum papa terlalu kama. Kamu tidak bisa seperti ini. Kasihan papa sayang," ucap Arga. Tidak ada yang di katakan Risya selain menangis tanpa suara.


Pria yang membuatnya kecewa dan sangat di bencinya sekarang sedang sakit. Perasaannya campur aduk. Namun tidak bisa bohong dari hati kecilnya jika dia sebenarnya takut terjadi sesuatu pada papanya.


Namun masih ada ego yang tertanam. Kebencian yang bercampur aduk dengan rasa khawatirnya terhadap sang ayah yang pasti sangat di cintainya.


************


Pagi hari kembali tiba. Hari berlalu begitu cepat. Risya yang baru bangun dari tidurnya. Matahari sudah begitu terik masuk dari sela-sela jendela kamar mereka. Namun ternyata Arga masih tertidur di samping Risya.


Risya menguap dengan menutup mulutnya dengan satu tangannya. Duduk dan melihat ponselnya dan melihat jam brapa sekarang.


"Sayang bangun!" ucap Risya dengan lembut membangunkan suaminya itu dengan mencium kening Arga sembari membelai-belai rambut tebal Arga.


"Sayang!" Risya kembali membangunkan Arga dengan lembut sampai akhirnya Arga terbang dengan membuka matanya perlahan.


"Ayo bangun sudah siang," ucap Risya dengan tersenyum.


"Memang jam brapa sekarang?" tanya Arga.


"Sudah jam 7," jawab Risya.


"Hhhhhhh," Arga menghela napas beratnya yang mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Kamu siap-siap ke kantor ya," ucap Risya.


Arga meraih tangan Risya menggenggamnya meletakkannya di atas dadanya.


"Aku nggak bisa kekantor sayang," ucap Arga.


"Kenapa?" tanya Risya.

__ADS_1


"Aku mau kerumah sakit lihat papa," jawan Arga. Wajah Risya langsung datar mendengar kata-kata suaminya itu.


"Kamu ikut ya!" ajak Arga.


"Kita di rumah sakit bareng-bareng. Kasihan mama sendirian di sana. Di butuh kamu untuk mendampinginya," bujuk Arga dengan pelan yang membuat Risya tidak merespon apa yang di katakan suaminya.


"Aku buatkan kamu teh ya," Risya langsung mengalihkan dan langsung turun dari tempat tidur.


"Sayang!" panggil Arga. Risya tidak peduli dengan Arga memanggilnya dan langsung menuju dapur membuat Arga menghela napasnya kasar perlahan ke depan.


"Aku pasti akan membawa kamu Risya ke rumah sakit. Kamu sebenarnya sangat khawatir pada papa. Tapi kamu masih marah Risya," batin Arga yang memang tidak akan menyerah. Karena dia sudah berjanji pada ibu mertuanya.


**********


Di dapur Risya sedang membuatkan teh dan di sana ada Dehway dan Salamah yang sedang sarapan. Namun gerak-gerik suami istri itu sangat aneh yang terdengar bisik-bisik yang terus melihat ke arah Risya yang punya kesibukan sendiri.


"Papa aja yang bilang," ucap Salmah dengan pelan.


"Jangan papa dong mah. Mama yang bilang," jawab Dehway ya tidak berani.


"Mama takut salah ngomong," jawab Salmah.


"Jadi menurut mama papa tidak takut," sahut Dehway.


Risya yang membuat teh merasa. Jika ke-2 mertuanya itu heboh sendiri yang membuat Risya membalikkan tubuhnya melihat mertuanya. Salmah dan Dehway langsung cepat-cepat kembali sarapan yang mengalihkan dengan pura-pura sarapan. Namun tatapan Risya merasa aneh melihat ke-2 orang itu.


"Mama dan papa ingin mengatakan sesuatu?" tanya Risya dengan melihat Salmah dan Dehway secara bergantian.


"Oh nggak kok," sahut Salmah geleng-geleng yang kelihatannya tidak berani mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.


"Papa sendiri?" tanya Risya.


"Hmmmm, itu Risya papa dan mama hari ini mau kerumah sakit. Kalau menantu papa yang cantik tidak keberatan bisa dong menemani papa dan mama," jawab Dehway membujuk Risya dengan caranya sendiri.


"Iya benar sayang. Nanti pulang dari rumah sakit kita berdua langsung shoping," sahut Salmah menambahi. Mereka seperti membujuk anak kecil dengan banyak iming-iming.


"Risya antar teh untuk Arga dulu ya," ucap Risya yang langsung pergi yang tidak merespon perkataan Salmah dan Dehway.


"Huhhhhh!" Salmah dan Dehway membuang napas kasar yang mendapatkan penolakan dari Risya.


"Ternyata begitu sulit," ucap Dehway yang tidak bersemangat.


"Papa benar," sahut Salmah dengan kekecewaan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2