MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 259 Bram marah.


__ADS_3

Bram yang tertidur di sofa langsung di hampiri Tasya.


"Mas bangun!" Tasya membangunkan Bram.


"Mas bangun! Kamu sudah tidur terlalu lama! Bangunlah mas! Mas!" Tasya menggoyang-goyangkan tangan Bram untuk membangunkan Bram.


"Apa sih kamu!" sentak Bram yang langsung menepis kasar tangan Tasya.


"Aku hanya membangunkan kamu. Bukannya kamu bilang kamu itu ada meeting. Makanya aku bangunkan kamu," ucap Tasya.


"Kamu itu ganggu aja," ucap Bram kesal dan dengan wajahnya yang marah langsung duduk.


"Kerjaan kamu itu nggak ada apa selain mengurus kehidupan orang lain!" tegas Bram yang malah ngamuk.


"Mas kamu kenapa sih? Aku hanya membangunkan kamu aja. Dan itu juga untuk mengingatkan meeting kamu. Tapi kamu malah marah-marah nggak jelas seperti ini," ucap Tasya kesal sendiri dan Tasya lebih baik pergi dari pada dia ikutan kesal.


"Mau kemana kamu!" panggil Bram. Tanya tidak merespon membuat Bram langsung berdiri dan menarik tangan tangan Tasya.


"Mas lepas kamu apa-apa sih!" ucap Tasya dengan kesakitan pergelangan tangannya yang di cengkram kuat.


"Kamu yang apa-apan setelah membangunkan orang dan sekarang mau pergi aja," sahut Bram kesal.


"Ya membesar-besarkan masalah mas. Kamu seharusnya tidak membesarkan masalah! Aku hanya membangunkan kamu!" tegas Tasya.


"Tapi kamu mengganggu tidurku. Tasya aku yang seharusnya kesal dengan mu. Kau tau kau banyak melakukan kesalahan hari ini," ucap Bram.


"Apa maksud kamu mas? Kesalahan apa?" tanya Tasya.


"Kamu lihat kelakukan kamu tadi. Aku sudah memperingati kamu untuk tidak membiarkan Edo dan juga istrinya itu datang ketempat kamu. Tapi apa yang kamu lakukan hah! Kamu membiarkan mereka datang dan berada di sini!" ucap Bram dengan marah-marah.


"Aku juga tidak tau. Kalau mas Edo akan datang. Aku pergi bersama kamu," jawab Tasya.


"Itu karena kamu yang membebaskan anak kamu terus berkomunikasi dengannya. Aku sudah memperingati kamu untuk menjaga jarak dengan mereka. Dengan kamu tidak mendengarkan ku. Itu sama saja kamu itu tidak menghargaiku!" tegas Bram.


"Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu. Jika hal ini terjadi lagi. Maka aku tidak bisa memberikan kamu kesempatan lagi dan satu lagi. Aku berharap kamu tidak terus menerus mengganggu kesenanganku. Jika kamu masih menggangguku. Maka kamu akan tau akibatnya!" tegas Bram dengan penuh penegasan dan penekanan dan melepas kasar cengkraman tangan Tasya yang membuat Tasya langsung jatuh dan terduduk di lantai.


"Kamu ingat itu!" tunjuk Bram pada Tasya dan Bram langsung pergi.

__ADS_1


"Mas Bram tunggu! Mas!" panggil Tasya. Namun Bram tidak merespon dan pergi begitu saja.


"Kenapa jadi aku yang salah. Aku hanya membangunkan kamu dan kamu malah menyalahkan ku. Mas aku juga berusaha untuk hubungan kita agar baik-baik saja dan tidak ada masalah, hambatan bahkan dengan adanya Putri. Aku juga tidak bisa membatasi Putri dan mas Edo. Kenapa kamu tidak paham dengan hal itu," batin Tasya dengan wajah senduhnya.


Posisinya seakan salah. Di sisi lain dia ingin hubungannya dan Bram baik-baik aja dan di sisi lain ada Putri yang harus di pikirannya dan dia juga dulu berjanji untuk tidak membatasi kedekatan Putri dan Edo. Tasya tidak mungkin mengingkari janji itu.


**********


Risya sedang berada di dapur yang memasak bersama Arga. Tema hari ini tiba-tiba saja Risya ingin memasak dan Arga membantunya. Risya itu wanita yang tidak bisa memasak. Jadi harus mengandalkan buku resep yang di lihat dari YouTube.


"Sayang tepungnya tidak sebanyak itu!" protes Risya ketika melihat Arga yang memasukkan tepung kedalam baskom dan Risya merasa Arga salah melakukan hal itu.


"Kamu bilang 500 gram. Ini sudah 500 gram," sahut Arga.


"Siapa bilang 500 grm. Aku bilang 250. Kamu itu sih tidak pernah mendengarkan dengan baik. Jadi salahkan," ucap Risya dengan kesal yang menyalahkan Arga.


"Jadi ini salah?" tanya Arga.


"Ya iya salah dong ayo buruan ganti!" tegas Risya.


Arga hanya menghela napas dengan kasar. Sejak tadi permasalahan pada tepung tidak selesai-selesai dan bagaimana Arga tidak kesal. Dia hanya sabar menghadapi istrinya itu.


"Lalu tambahkan baking soda," gumam Risya yang membaca resep tersebut.


"Baking soda yang mana sayang?" tanya Risya pada Arga.


"Budayakan membaca. Semua ada bacaannya. Jadi bacalah dengan baik," jawab Arga dengan penuh penekanan.


"Isss kamu itu biasa aja ngomongnya!" sahut Risya kesal dan mencari-cari yang bacaannya backing soda sesuai dengan apa yang di arahkan.


"Nah ini dia," sahut Risya tersenyum yang akhirnya menemukannya dan langsung memasukkan kedalam wadah yang berisi tepung.


"Risya kebanyakan!" cegah Arga melihat Risya asal tuang saja.


"Orang katanya secukupnya!" sahut Risya.


"Tapi itu kebanyakan sayang!" sahut Arga.

__ADS_1


"Secukupnya itu tidak ada batasannya dan ini tidak kebanyakan. Karena menurutku ini secukupnya," sahut Risya yang tidak mau kalah dari Arga dan tidak mendengar apa yang di katakan Arga.


"Terserah kamu Risya. Entah jadi apa nanti kuenya," sahut Arga kembali kesal.


"Awas ya kalau nanti sudah masak minta-minta," sahut Risya yang belum jadi aja sudah pelitnya minta ampun.


"Makan aja sendiri," sahut Arga kesal.


"Udah-udah jangan mengajakku berantem sekarang buruan lelehkan coklatnya," sahut Risya.


"Kamu kerjakan sendiri. Nanti aku yang mengerjakannya salah lagi di mata kamu," sahut Arga yang sudah tidak mau di salahkan dan di protes lagi.


"Issss sayang kamu kok jahat banget nggak mau bantuin aku. Yang mau makan roti awan ini anak kamu dan kamu malah membiarkan aku sendiri yang mengerjakannya," rengek Risya dengan manjanya dan mengungkit segalanya membuat Arga garuk-garuk kepala dengan kelakuan istrinya itu.


"Iya-iya aku bantuin," Arga terpaksa menuruti istrinya dari pada istrinya nanti seperti orang gila. Jadi ada baiknya dia yang mengalah.


Ternyata suami istri yang memasak itu di intip Salmah dan Dehway.


"Anak kita tidak salah pilih jodohkan pah," ucap Salmah.


"Kenapa mama bilang gitu?" tanya Dehway.


"Dia seperti tertekan. Mama khawatir dia kenapa-kenapa," ucap Salamah dengan wajah sedihnya.


"Apa yang di rasakan Arga sama dengan apa yang mama rasakan dulu. Mama juga tertekan dengan mama yang melakukan semuanya dengan seenak mama yang membuat papa kesal," ucap Dehway yang mengungkit hal itu.


"Apa-apaan sih pah. Kenapa jadi ungkit-ungkit masalah itu. Papa pikir gampang apa hamil ," sahut Salamah.


"Udah-udah. Kita jangan ribut. Nanti kita ketahuan mau mama hah jadi korban Risya!" sahut Dehway mengingatkan istrinya itu.


"Ya nggak mau lah," sahut Salmah yang membayangkannya saja sudah ngeri apa lagi nanti terjadi.


"Ya sudah makanya diam," tegas Dehway.


Salmah menurut saja. Mereka berdua memang kerap kali menjadi korban Risya dan mereka harus sabar-sabar dengan menantu mereka itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2