
Beberapa detik Hariyanto dan Tasya saling melihat dengan wajah yang sama-sama terkejut dengan Hariyanto yang kesulitan menelan salivanya.
"Pah ayo!" ajak Tantri yang melihat suaminya itu malah bengong.
"Oh iya," sahut Hariyanto mendadak panik dan sampai keringat dingin dan melanjutkan langkahnya yang sekarang bergabung dengan yang lainnya dan juga dengan Tasya.
Namun Hariyanto terlihat gelisah dengan mengatur napas berkali-kali.
"Pak Hariyanto saya pikir tidak jadi datang," ucap Danu.
"Oh pasti jadi tidak mungkin tidak jadi," sahut Hariyanto yang gelisah dan bahkan menghindari untuk melihat ke arah Tasya yang di depannya.
"Tidak apa-apa yang penting Om sama Tante sudah datang," sahut Angela.
"Iya mah. Walau persidangannya sudah selesai," sahut Risya.
"Tapi semuanya lancarkan?" tanya Tantri.
"Alhamdulillah lancar Tante," sahut Edo.
"Ehmmmm, ya sudah sekarang sebaiknya kita masuk saja. Persidangan akan di mulai bukan," sahut Hariyanto yang kelihatan gugup.
"Papah ini. Sudah di bilang persidangannya sudah selesai dan kita telat. Baru aja di bilang mereka," ucap Tantri yang lain geleng-geleng dengan tersenyum.
"Oh benarkah," sahut Hariyanto.
"Papa sedang tidak konsen pastinya," sahut Arga dengan tersenyum.
"Ya ampun papah. Kenapa sampai keringatan gini sih," sahut Risya yang melap keringat di dahi papanya.
"Papa ini habis lari-lari saja deh," oceh Risya heran dengan papanya yang mendadak aneh.
"Oh papa hanya kepanasan saja," sahut Hariyanto yang sejak tadi gelisah dan dia kembali melihat Tasya yang ternyata mata Tasya tidak berhenti melihat Hariyanto.
"Masih pagi juga om," celetuk Angela.
Tantri melihat ke arah Tasya dan pasti bertanya-tanya siapa wanita itu.
"Ini siapa Risya?" tanya Tantri.
"Oh ini," sahut Risya tampak malas.
"Dia ini mantan istrinya mas Edo," sahut Angela yang mengambil alih untuk memperkenalkan Tasya.
"Oh jadi ini ibunya Putri," sahut Tantri dengan mengangguk-angguk.
"Iya benar saya Tasya ibunya Putri," sahut Tasya tersenyum. Tetapi matanya pada Hariyanto.
"Kalian ini sudah mantan suami istri dan tidak seharusnya memperebutkan hak asuh anak. Kasian anak kalian," ucap Tantri memberi saran.
"Terima kasih Tante atas sarannya. Tetapi saya hanya ingin mengambil hak saya dan akan berjuang," ahaut Tasya dengan suara dinginnya.
Risya mendengarnya hanya menghela napasnya yang masa bodo dengan Tasya.
__ADS_1
"Ya itu memang hak kamu. Tetapi semoga hasilnya yang terbaik dan kalau bisa kamu sama Edo tidak saling membenci dan berpengaruh buruk buat Putri dan kalau bisa mengalah harus mengalah demi kebaikan anak," ucap Tantri.
"Terima kasih Tante untuk nasehatnya. Tante sangat peduli kepada Putri saya sangat bersyukur," sahut Tasya tersenyum.
"Hmmm, sebaiknya kita pulang," sahut Hariyanto yang semakin tidak nyaman dan sejak tadi ingin buru-buru pergi.
"Oh iya ayo," sahut Risya.
Yang lain setuju dan mereka semua menuju mobil dan tinggal Tasya di tempat itu yang masih melihat ke arah Hariyanto.
"Mas Hariyanto tidak di sangka kita bertemu setelah 7 tahun dan ternyata Risya adalah anakmu," batin Tasya yang seperti ada sesuatu antara dirinya dan Hariyanto dan sampai-sampai Hariyanto juga begitu terkejut dan seperti ketakutan.
*************
Setelah dari pengadilan dan tadi makan sebentar di luar. Tantri dan Hariyanto pulang kerumah. Arga dan Risya tidak ikut. Karena mereka langsung pulang ke Apartemen mereka.
"Mama sangat berharap masalah Edo dan mantan istrinya cepat selesai," ucap Tantri yang duduk di ruang tamu dan juga Hariyanto juga duduk.
"Mantan istrinya Edo seharusnya lebih pintar. Jika dia ibu yang baik. Dia tidak akan menuntut hak asuh anaknya dan apalagi mendengar cerita Edo. Edo yang berjuang selama ini dan seharunya ibu yang baik tidak membuat anak kehilangan ayah yang pasti lebih dekat dengannya," ucap Tantri.
Hariyanto tidak tau apa mendengarkan ucapan istrinya atau bagaimana. Karena sejak tadi dia hanya mengatur napas dan kelihatan sangat banyak berpikir.
"Mama benar tidak pah?" tanya Tantri melihat suaminya. Namun tidak mendapatkan jawaban dari suaminya itu.
"Papah!" tegur Tantri menggoyang-goyangkan tubuh suaminya membuat Hariyanto kaget dan langsung tersadar.
"Iya mama tadi bilang apa?" tanya Hariyanto tampak linglung.
"Maf mah. Papa kecapean," sahut Hariyanto dengan menghela napas beratnya.
"Huhhhh papa ini ada-ada aja," ucap Tantri.
"Ya sudah mama buatin kopi ya," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Hariyanto dan Tantri langsung pergi kedapur.
Hariyanto menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari mengusapnya dengan kasar dan beberapa kali membuang napas beratnya.
"Kenapa harus bertemu dengannya," batin Hariyanto yang terlihat panik dan sajak tadi tidak pernah tenang.
**********
Hari ini Risya dan Arga menghadiri acara Perusahaan papa Risya. Tidak hanya ada Risya. Ada juga Dehway dan Salmah besan Hariyanto dan Tantri.
Edo, Angela dan Putri yang sudah di anggap keluarga juga hadir di acara tersebut. Sekedar pesta untuk ulang tahun Perusahaan di bidang bahan aluminium itu. Mengapa Risya tidak bekerja di Perusahaan papanya. Karena memang tidak sesuai dengan bidangnya.
Makanya dia bekerja di Perusahaan keluarga Arga. Karena lebih tepat dengan bidangnya sebagai desain perhiasan.
"Putri Happy berada di sini?" tanya Tantri.
"Pasti Tante. Semenjak papa dekat dengan mama Angela. Putri sering di ajak ke acara pesta. Jadi Putri hanya melihat orang lain," jawab Putri.
"Putri sebentar lagi Om juga akan mengadakan pesta. Putri datang juga ya," sahut Hariyanto.
__ADS_1
"Oh iya pesta apa Om?" tanya Putri.
"Pesta ulang tahun anak om yang cantik ini," jawab Hariyanto melihat ke arah Risya dan Risya tersenyum dengan menyombongkan dirinya.
"Sudah besar tapi kok ulang tahun sih. Seperti anak kecil saja," sahut Putri dengan sewot.
"Ya biarin lah. Namanya juga punya papa yang sama aku," sahut Risya.
"Aku juga punya papa yang sayang sama aku," sahut Putri tidak mau kalah dengan Risya.
Yang lainnya hanya geleng-geleng saja melihat Risya dan Putri kalau bertengkar malah terlihat lucu.
"Sudah-sudah pokoknya nanti Putri datang ya," ucap Tantri.
"Tidak janji Putri harus lihat jadwal dulu," sahut Putri.
"Issss sok punya jadwal," sahut Risya kesal.
"Sudah sayang kamu ini," sahut Arga.
"Selamat malam semuanya," tiba-tiba Tasya datang di tengah-tengah candaan mereka dan wajah mereka langsung datar dan menghela napas namun Hariyanto seperti biasa terlihat kaget dengan kedatangan Tasya.
"Mama!" sapa Putri.
"Hay sayang," sahut Tasya tersenyum.
"Kamu kok bisa ada di sini. Ini acara perusahaan papa ku," sahut Risya heran.
"Oh jadi ini Perusahaan pak Hariyanto," sahut Tasya yang melihat Hariyanto.
"Oh tidak di sangka ya. Ini acara ulang tahun Perusahaan yang kebetulan aku juga dapat undangan dari penyelenggaranya," jawab Tasya.
"Atas dasar apa kamu dapat undangan. Kamu pegawai, klien atau pemegang saham di sini?" tanya Risya.
"Kebetulan aku pernah bekerja di Perusahaan ini dan menjadi sekretaris salah seorang pemegang saham di Perusahaan ini dan itu sudah lama dan aku dapat undangan karena mantan pekerja di Perusahaan ini," jelas Tasya yang melihat Hariyanto.
"Benar pah?" tanya Risya melihat ke arah papanya.
"Ya ampun Risya papa kamu pasti tidak tau. Perusahaan ini besar dan banyak orangnya dan mana mungkin papa kamu mengenal semua orang di Perusahaan ini. Dan lagian aku juga sudah lama resign," jelas Tasya dengan tersenyum dan melihat kembali Hariyanto yang mana Hariyanto selalu menghindar kontak mata dengan Tasya.
"Ya sudah Tasya kamu nikmati pesta ini," sahut Tantri.
"Terima kasih Tante untuk jamuannya," ahaut Tasya tersenyum.
Angela dan yang lainnya pasti kehilangan mood dengan kedatangan Tasya yang membuat tidak nyaman.
Bersambung
...Jangan lupa untuk mampir ke Novel terbaru aku. Silahkan untuk vote dan like dan di komen....
__ADS_1