
Persidangan akan di lanjutkan setelah makan siang dan keputusan hakim juga akan di tentukan. Semua berharap hasil yang terbaik untuk keputusan hakim.
Edo, Angela, Risya, Arga, pak Danu, Hariyanto dan Tantri makan siang bersama di dekat kantor pengadilan sebelum acara persidangan di lanjutkan.
"Mas Edo aku sangat yakin hak asuh Putri akan jatuh ketangan kamu," ucap Angela.
"Aku juga berharap seperti itu Angela. Semoga saja usaha kita tidak sia-sia," sahut Edo.
"Kamu memang pantas Edo mendapatkan hak asuh Putri. Karena semua bukti yang sudah di tunjukkan di pengadilan. Semua menjelaskan jika kamu yang paling tau Putri dan Putri lebih banyak dominan kepada kamu dan pengadilan akan memutuskan untuk mendapatkan hak kamu sepenuhnya," sahut Arga.
"Semoga saja hasil yang kita inginkan memuaskan dan semua ini juga karena Om Hariyanto dan pak Danu yang banyak membantu saya," sahut Edo.
"Saya pengacara hanya melakukan yang terbaik untuk klien saya. Kita sama-sama berdoa saja semoga hasilnya sesuai keinginan kita," ucap Pak Danu.
"Amin," sahut Semuanya dengan serentak yang pasti menginginkan hal yang terbaik.
"Ya sudah kita makan yang banyak. Supaya pikiran kita tidak terganggu nanti. Karena untuk pikiran yang jernih perlu memanjakan perut," sahut Risya.
"Iya-iya Risya," sahut Angela.
"Hmmm ya sudah mama mau ke toilet sebentar ya," ucap Tantri yang berdiri dari tempat duduknya.
"Iya mah," sahut Risya.
"Mau papa temani?" tanya Hariyanto.
"Issss papa ini ada-ada aja," sahut Tantri yang jadi malu dan apalagi yang lainnya jadi senyum-senyum.
"Tau nih papa. Mama itu tidak akan kemana-mana," sahut Risya.
"Sudah-sudah mama mau ke toilet dulu," ucap Tantri yang langsung pergi dan sementara yang lainnya melanjutkan makan mereka.
************
__ADS_1
Tantri berada di toilet yang sedang mencuci tangannya di wastafel dengan di depannya yang terdapat cermin begitu lebar dan tiba-tiba Tasya datang yang juga mencuci tangannya yang tepat di samping Tantri. Keduanya tidak ada pembicaraan satu sama lain dan sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Tasya apapun keputusan pengadilan. Kamu harus berbesar hati menerimanya. Tidak ada seorang ayah yang ingin memisahkan Putrinya dari ibu kandungnya dan pasti keputusan pengadilan ini yang terbaik untuk kamu dan Edo dan jangan menjadikan perceraian untuk merusak mental anak kalian," ucap Tantri.
Mendengar ucapan itu membuat Tasya berhenti mencuci tangannya dan langsung melihat ke arah Tantri.
"Bicara seperti ini seolah aku akan kalah di pengadilan," ucap Tasya.
"Kamu tau kamu akan kalah akan menang. Sebagai seorang ibu saya hanya memberi saran kepada kamu. Karena seperti yang saya katakan kepada kamu sebelumnya. Jika kamu menyayangi anak kamu. Kamu tidak akan menuntut hak asuh anak kamu. Karena kamu tau apa yang terbaik untuk anak kamu," ucap Tantri dengan bijak.
"Saya ibunya dan apa salah saya ingin hak asuh anak saya?" tanya Tasya.
"Tidak ada yang salah Tasya. Kamu berhak dan berhak berjuang untuk hal itu. Tetapi kamu coba pikirkan kebelakang. Apa selama Putri di tangan mantan suami kamu. Apa Putri mengalami sesuatu hal. Apa dia tidak baik-baik saja selama bersama Edo," ucap Tantri.
"Lalu maksud Tante apa anak saya tidak akan baik-baik saja dengan saja," sahut Tasya dengan menekan suaranya.
"Saya tidak mengatakan hal itu Tasya. Pasti baik-baik aja. Lalu apa Putri nantinya tidak akan bertanya kepada kamu. Mengapa dia tiba-tiba harus bersama kamu dan bukan ayahnya yang selama ini bersamanya. Jika kamu ibu yang baik kamu akan mengerti apa yang terbaik untuk anak kamu," ucap Tantri.
Tasya terdiam dengan kata-kata Tantri yang memberinya nasehat.
"Saya sudah banyak mengalah," sahut Tasya membuat langkah Tantri terhenti.
"Saya mengandungnya. Saya kehilangan banyak hal saat mengandung Putri. Semua saya korbankan untuk Putri tanpa peduli dengan diri saya. Jika di tanya mengalah sudah banyak pengorbanan yang saya lakukan. Saya lebih berhak atas Putri di bandingkan mas Edo. Mau apa yang di tunjukkan di pengadilan dan pengorbanan maa Edo lebih banyak. Tetapi saya yang lebih banyak berkorban dan berhak atas Putri," tegas Tasya.
"Jangan mengajari saya tentang mengalah. Karena saya banyak mengalah untuk keluarga yang harus bahagia tanpa memperdulikan bagaimana perasaan saya dan kehidupan saya yang berantakan," ucap Tasya dengan suaranya yang bergetar dan membuat air matanya menetes.
Tanti hanya menghela napas mendengar apa yang di katakan Tasya.
"Sebagai seorang ibu saya paham perasaan kamu. Tetapi keputusan pengadilan adalah yang terbaik dan kamu juga mengakui itu suatu saat dan jika hak asuh Putri tidak jatuh ketangan kamu. Bukan berarti kamu akan menjauh dari anak kamu. Saya hanya berdoa untuk kamu bisa memahami semua ini," ucap Tantri dengan tenang berbicara.
"Sampai bertemu di pengadilan. Permisi!" ucap Tantri yang langsung pergi.
Tasya mengepal ke-2 tangannya dan tubuhnya yang bergetar.
__ADS_1
"Aku juga ingin melihat apa kau juga bisa memahami keadaanmu setelah ini. Aku sudah mengorbankan segalanya dan kali ini aku tidak akan tinggal diam," batin Tasya dengan yakin yang menyeka air matanya.
**********
Setelah selesai jam makan siang akhirnya persidangan kembali di lanjutkan dan semua orang-orang yang berkepentingan sudah memasuki persidangan.
Tanya yang duduk di tempatnya bersama 3 pengacaranya sangat dek-dekan. Sementara Edo jauh lebih tenang. Karena keyakinan dirinya hak asuh Putri akan jatuh ke tangannya selanjutnya. Angela yang berada di sampingnya menggenggam tangan Edo untuk memberikan kekuatan kepada Edo.
"Kita pasti menang," ucap Angela yakin.
"Iya. Makasih kamu sudah mendukungku sejauh ini," ucap Edo yang tersenyum dan merasa bersyukur.
"Sama-sama," jawab Angela.
"Baiklah untuk keputusan persidangan akan segera di bacakan," sahut Pak hakim.
Suasana semakin tegang dengan pembacaan keputusan persidangan.
"Saudara Tasya dan Edo yang berpisah atau bercerai 3 tahun lalu dan perceraian karena tidak adanya kecocokan dan percekcokan terus menerus di tambah kelalaian seorang istri dalam menjaga anaknya. Kalian memiliki Putri yang yang berusia 7 tahun dan selama ini tinggal bersama ayahnya. Hidup dengan baik dan tidak ada masalah,"
"Maka pengadilan memutuskan. Jika hak asuh dari Putri isnari jatuh kepada Edo Pratama," ucap pak hakim membuat Edo lega dan juga yang lainnya.
"Dengan begitu ke-2 belah pihak bisa berdiskusi mengenai pertemuan kepada anak yang di tentukan hak asuh. Maka persidangan hari ini se...."
"Tunggu!" Tasya berdiri dari tempat duduknya membuat pak hakim tidak jadi mengetuk palu.
"Hak asuh Putri tidak bisa jatuh ke tangannya," ucap Tasya.
"Tanya pengadilan sudah memutuskan dan kamu tidak bisa protes," sahut Edo.
"Putri bukan anak kandung kamu dan kamu tidak berhak atas Putri," sahut Tasya dengan matanya yang membulat sempurna membuat Edo kaget mendengarnya.
Bukan hanya Edo semua orang juga kaget. Risya dan Arga yang saling melihat dengan wajah shcok mereka. Angela dan pak Danu yang juga kaget. Sama dengan Tantri yang tidak kalah kagetnya dan Hariyanto juga yang juga sangat terkejut dengan pernyataan Tasya.
__ADS_1
Bersambung.