
Risya kembali kekamar dan dengan membawa bubur yang sudah di masaknya dan tidak lupa air putih. Di dalam kamar Arga yang sedang bersandar di kepala ranjang dengan bermain ponsel. Melihat kenopi pintu yang bergerak ke bawah membuat Arga kaget dan spontan melempar ponselnya dan cepat-cepat memperbaiki posisinya yang terlihat lemas.
"Aku bawakan bubur," sahut Risya yang sudah memasuki kamar.
"Oh begitu," sahut Arga yang masih panik dan melihat handphonenya yang melayang di ujung ranjang dan untung tidak terlempar ke lantai.
"Kamu makanlah!" ucap Risya meletakkan nampan itu di atas nakas. Arga mengangguk dan ingin mengambil bubur itu.
"Auhhh," Arga tiba-tiba mengeluh kesakitan.
"Ada apa?" tanya Risya melihat Arga menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tidak tau sepertinya tanganku terkilir soalnya tadi sempat tertimpa," keluh Arga yang kelihatan begitu kesakitan.
"Benar!" tanya Risya yang kelihatan begitu panik. Arga menganggukkan kepalanya menahan sakit.
"Kenapa ceroboh sekali sih," oceh Risya kesal.
"Aku telpon tukang urut aja," sahut Risya.
"Tidak usah, bentar lagi juga pasti sudah baik-baik aja," cegah Arga.
"Benar tidak perlu?" tanya Risya meyakinkan.
Arga menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu sarapan lah, aku mau turun dulu," ucap Risya. Arga hanya mengangguk dan Risya bergegas pergi. Namun langkahnya terhenti dan Arga yang pada posisinya memperhatikan punggung Risya dengan Arga yang tersenyum tipis.
Saat Risya berbalik badan. Arga dengan cepat pura-pura kesakitan lagi.
"Yanga sakit tangan kanan?" tanya Risya. Arga menganggukkan kepalanya.
"Kalau tangan kanan. Bagaimana kamu mau makan," ucap Risya.
"Kalau sudah enakan. Nanti aku baru makan," ucap Arga dengan wajahnya yang sangat di kasihani.
"Ada-ada saja. Kapan makannya bukannya tadi lapar," sahut Risya yang langsung menghampiri Arga duduk di samping Arga dengan mengambil bubur itu.
"Aku akan menyuapimu," ucap Risya memutuskan.
Wajah menyedihkan Arga seperti menahan senyum. Namun Arga hanya mengangguk tanpa dosa. Yang pasti ada sandiwara di balik tangannya itu.
"Ayo buka mulutmu," ucap Risya yang sudah menyodorkan sendok ke mulut Arga dan Arga sudah membuka mulutnya menerima suapan Risya.
"Merepotkan sekali. Apa-apa harus aku yang mengerjakannya, makanya lain kali hati-hati, sudah tau sakit tangan bisa ketimpahan lagi," ucap Risya dengan kesal yang mulutnya mengoceh seperti rel kereta api.
"Tidak ada yang menginginkan musibah ini," ucap Arga dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Itu artinya lain kali harus hati-hati. Kalau begini siapa yang repot coba," oceh Risya lagi.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Arga batuk-batuk dengan memegang dadanya yang terasa sesak. Risya langsung buru-buru mengambil air putih dan memberi Arga minum.
"Pelan-pelan," ucap Risya panik dengan kondisi Arga.
Arga terlihat lemas dan membuat wajah Risya sangat cemas. Belum lagi Arga masih batuk-batuk saja.
"Dada kamu sakit?" tanya Risya..Arga mengangguk. Risya pun mengusap-usap dada Arga.
"Dokter bilang tidak ada masalah dengan paru-paru kamu," ucap Risya.
Arah meraih tangan Risya dan meletakkan telapak tangan itu tepat berada di dada kirinya.
"Mungkin di sini yang bermasalah. Kamu bisa merasakan getarannya dan di sinilah letak kesalahannya," ucap Arga bicara dengan lembut sembari menatap Risya yang mana Risya juga menatapnyanya.
"Apa sih," sahut Risya yang langsung melepaskan tangannya dari Arga.
"Nggak usah cari kesempatan, nggak mempan kata-kata seperti itu dan tidak ada hubungannya dengan batik sama getaran-getaran itu, Busyyit," Icao Risya dengan kesal yang mengaduk-aduk bubur.
Gombalan Arga ternyata tidak mempan membuat Arga hanya menghela napas dengan gombalannya yang gagal maning yang seharusnya dia bisa merayu Risya dan Risya luluh lalu memaafkannya.
"Makan lagi!" Risya kembali menyuapi Arga.
"Kalau sakit mana ada yang cocok untuk lidah. Karena lidah memang bermasalah dan sudah syukur kamu makan bubur yang aku buat. Rasanya tidak hambar dari pada bubur yang di rumah sakit yang di pastikan sudah hambar. Mau kamu makan nya," ucap Risya kembali mengoceh.
"Iya-iya terserah kamu," sahut Arga harus pasrah dengan Risya yang memberinya makan apa aja.
"Lagian ini juga enak kok. Kamu supaya cepat sembuh," ucap Risya. Arga mengangguk saja dan mau tidak mau memakannya sampai habis yang penting di suapi Risya dan itu sudah menjadi nilai plus di suapi Risya.
Dratttt, Dratttt Dratttt
Ponsel Arga tiba-tiba berdering membuat Arga dan Risya sama-sama melihat ke ujung ranjang suara ponsel yang berisik itu. Arga yang melihat Risya langsung dengan cepat mengambilnya dengan bergeser yang kesulitan. Bukannya mengangkatnya Arga malah mematikannya.
"Kenapa di matikan?" tanya Risya heran.
"Tidak penting," jawab Arga.
"Lalu kenapa ponselmu bisa sampai ke ujung sana?" tanya Risya heran.
"Oh, ini tadi, tadi," Arga terbata-bata yang belum menemukan jawaban apa-apa sementara Risya sangat menunggu jawaban itu.
"Tadi apa?" tanya Risya.
"Tadi tersenggol, makanya tanganku sakit," jawab Arga yang ada saja jawabannya.
__ADS_1
"Ohhh," sahut Arga yang hanya mengiyakan saja.
**********
"Risya!" panggil Tantri yang berada di ruang tamu dengan Hariyanto suaminya.
"Iya mah," sahut Risya yang menuruni anak tangga.
"Kamu ini lama sekali sih. Mentang-mentang ada suaminya di kamar, mau nya di kamar aja. Di panggil dari tadi nggak dengar-dengar," ucap Tantri.
"Apa sih mama," sahut Risya kesal dengan mamanya yang kembali menggodanya.
"Issss, nggak usah malu sama mama dan papa. Mama dan papa juga dulu waktu baru-baru nikah kalau bertengkar pasti akan seperti ini. Kalau sudah baikan maunya nempel mulu," ucap Tantri.
"Masalahnya nggak ada yang baikan!" tegas Risya dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
"Sudah-sudah lah, mah biarkan saja Risya seperti dan Arga hubungannya mengalir. Sekarang kita ayo pergi nanti terlambat lagi," sahut Hariyanto.
"Mama sama papa mau kemana?" tanya Risya
"Mama sama papa mau ke Makasar ada teman mama dan papa di sana yang sedang menikahkan anaknya jadi kamu di rumah sama Arga," jawab Tantri.
"Kenapa sih pergi mendadak," protes Risya.
"Kemarin bukannya papa sudah bilang dan bahkan ajak kamu loh dan sekarang tidak mungkin kamu ikut. Arga sedang sakit," ucap Hariyanto.
"Ya udahlah," sahut Risya.
"Ya sudah mama sama papa pergi dulu. Kamu jangan ribut-ribut dengan Arga. Sudah kamu itu maafkan suami kamu aja," ucap Tantri.
"Mama bisa nggak sih, nggak usah bahas Arga, memang mama pikir apa yang di lakukannya itu tidak menyakitkan apa untuk Risya. Jadi jangan menyuruh Risya untuk memaafkannya. Semuanya tidak mudah dan Risya merawat atau baik pada Arga. Itu karena Risya masih menggunakan ke manusiaan Risya, bukan apa-apa," tegas Risya.
"Mama hanya memberi saran. Demi kebaikan hubungan kalian juga," sahut Tantri.
"Tapi Risya tidak butuh saran," tegas Risya.
"Iya-iya deh, kamu ini ya kerjanya marah-marah mulu. Ya sudah mama dan papa pergi dulu. Kamu jaga rumah dengan baik," ucap Tantri malas berdebat dengan putrinya itu.
"Ya sudah Risya papa pergi dulu," ucap Hariyanto.
"Hati-hati," ucap Risya.
"Iya," sahut Hariyanto.
Orang tua Risya pun akhirnya pergi dari rumah yang tujuan mereka ke Makasar penerbangannya sore ini.
"Apa-apa bawa nama Arga. Nggak pernah mengerti perasaan anak nya heran kadang-kadang," batin Risya yang mengumpat dengan kesal sendiri pada mamanya itu.
__ADS_1
Bersambung