
Semua orang melihat ke arah Edo yang tidak hentinya melihat kearah Putri yang padahal sudah tidak terlihat lagi. Matanya berkaca-kaca saat harus berpisah dengan anak yang selalu di jaganya itu dan pasti tidak mudah baginya untuk melepasnya begitu saja.
"Edo apa yang kamu lakukan sudah yang terbaik. Kamu Ayah yang hebat dan sangat luar biasa. Putri akan bangga memiliki Ayah seperti kamu dan kita doakan saja Tasya juga bisa seperti kamu yang melanjutkan untuk merawat Putri," sahut Tantri yang memberikan Edo pengertian.
Edo hanya menganggukkan kepalanya saja. Pelan-pelan dia akan berusaha untuk ikhlas. Walau butuh waktu. Tapi pasti akan bisa.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya," ucap Tantri.
"Terima kasih Tante untuk semua bantuan dan saran Tante," ucap Edo. Tantri hanya mengangguk saja.
"Ayo Arga, Risya!" ajak Tantri. Arga dan Risya mengangguk.
"Untuk semuanya kami duluan ya," ucap Risya pamitan.
"Kami duluan Edo!" Arga menepuk bahu Edo sebelum pamit. Edo hanya menganggukkan kepalanya. Risya, Tantri dan Arga meninggalkan Bandara terlebih dahulu.
"Aku sama Vio juga duluan ya," sahut Samuel yang juga pamitan.
"Aku juga karena masih ada yang harus aku urus," sahut Syrala.
"Terima kasih untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktunya," sahut Edo.
"Sama-sama," sahut Samuel.
"Ayo Vio!" ajak Samuel. Vio mengangguk dan meninggalkan tempat itu. Sama dengan Boy dan juga Syrala.
Sekarang hanya tinggal Edo dan Angela. Angela menghadap Edo dengan Angela yang tersenyum dan memeluk Edo. Angelia memberikan kekuatan pada Edo. Agar Edo jauh lebih tenang.
"Aku tau perasaan kamu mas. Tetapi kamu harus percaya. Jika semua ini ada hikmahnya dan Putri pasti baik-baik aja," ucap Angela yang selalu memberikan kata-kata yang bisa membuat Edo tenang.
"Terima kasih Angela kamu sudah banyak membantuku. Terima kasih untuk semua kebaikan kamu," ucap Edo.
"Sama-sama mas," sahut Angela yang masih memeluk Edo. Ke-2nya sama-sama sedih. Tetapi keduanya sama-sama menguatkan satu sama lain.
**************
__ADS_1
Risya, Tantri dan Arga ternyata mampir ke makam Hariyanto. Mereka berziarah ke makam Hariyanto. Risya meletakkan Boucket bunga di atas pusarah makam itu dengan Risya yang tersenyum memegang mesan sang ayah.
"Papa sekarang sudah tidak sakit lagi di sana. Papa sudah jauh lebih baik. Papa sudah berada di tempat yang sangat indah. Pah Risya di sini baik-baik aja. Risya sama mama dan Arga, mama Salmah dan papa Dehway. Mereka selalu ada untuk Risya. Jadi papa jangan khawatir. Risya tidak akan nangis lagi kok," ucap Risya yang bercerita di pusarah makam sang ayah.
"Dan kandungan Risya juga baik-baik aja. Papa akan menjadi kakek. Walau nanti anak Risya tidak bertemu papa. Tetapi mereka akan mengenal sosok kakek yang sangat baik," ucap Risya.
"Mas kamu sudah dengarkan apa kata Risya. Jika dia tidak akan menangis lagi. Dan memang belakangan ini dia itu sudah baik-baik saja. Dia sering tersenyum. Kamu jangan khawatir mas. Kami akan menjaga anak kesayanganmu," ucap Tantri dengan tersenyum.
"Aku juga akan menjaga Risya dengan baik pah. Sesuai janjiku pada papa," sahut Arga.
"Kami semua sangat bahagia di sini mas. Kami juga merindukan kamu. Tetapi semoga rasa rindu kami terobati dengan doa yang kami kirim," ucap Tantri.
Mereka semua tersenyum dan saling melihat. Ternyata ikhlas itu membuat hati jauh lebih tenang dan sama seperti sekarang ini ketenangan yang mereka rasakan. Air mata yang sudah waktunya berhenti menangisi kepergian Hariyanto. Atau kenyataan yang seperti mimpi buruk. Mereka hanya berusaha ikhlas sabar dengan semua takdir yang sudah menjadi ketentuan Tuhan.
"Kita pergi?" tanya Tantri.
"Iya mah," sahut Risya.
Risya mencium mesan Hariyanto, sama dengan Arga dan juga Tantri. Mereka berpamitan dan pergi dari makam itu. Karena hari juga sudah sore.
*********
"Menurutku dengan Putri bersama Tasya itu sudah menjadi yang lebih baik," ucap Vio sembari menyeruput es jeruk yang di minumnya itu.
"Kenapa mengatakan seperti itu?" tahta Syrala heran.
"Aku hanya berpendapat saja. Bagaimana pun Putri dan Risya adik kakak. Jika Putri terus di Jakarta bersama Edo. Ya aku tidak tau apa yang Risya rasakan dan mungkin lama kelamaan Putri juga pasti tau yang sebenarnya dan akan tanda tanya. Untuk usinya yang seperti ini. Belum waktunya dia tau dan pasti sulit mengerti dan mungkin akan menciptakan masalah baru. Jadi lebih baik Putri bersama Tasya," jawab Vio menurut apa yang di pikirannya.
"Aku juga setuju sama Vio. Mau Risya dan Tante Tantri menerima takdir itu. Tetapi mungkin mereka akan sulit mengubah jika Putri anak dari wanita yang merusak keluarga mereka. Ya pada intinya sudah waktunya Putri bersama dengan Tasya," sahut Samuel menambahi.
"Ya kita doakan sajalah yang terbaik untuk Putri dan Risya juga semoga dia tetap tabah dengan semua ini dan ini juga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua," ucap Syrala.
"Aku setuju itu," sahut Vio, "ya sudah kita makan lagi!" sahut Vio.
Mereka mengangguk-angguk dan mereka kembali menikmati makanan yang mereka makan.
__ADS_1
**********
Syrala pulang kerumahnya setelah seharian keluar dari rumah. Dia pulang malam hari dan keluar dari mobilnya yang terparkir di depan rumahnya.
"Syrala!" tiba-tiba ada suara yang memanggil Syrala membuat Syrala berbalik badan.
"Angela!" sahut Syrala heran melihat kedatangan Angela malam-malam kerumahnya.
Angela melangkah menghampiri Syrala.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Syrala.
"Mau ketemu kamu," jawab Angela.
"Ya kenapa tidak masuk aja?"
"Mungkin dulu bisa. Aku menunggu di dalam dan walau tidak ada kamu. Tetapi bukannya sekarang sangat canggung," ucap Angela. Mendengar kata-kata Angela hanya membuat Syrala diam.
"Syrala semenjak kamu ke Luar Negri dan pulang. Kita belum pernah bicara. Kita seperti orang asing," ucap Angela yang menyadari ada jarak di antara keduanya.
"Maafkan aku Syrala jika sifat ku waktu itu membuat kamu kecewa dan kesal kepadaku. Aku benar-benar tidak memikirkan perasaanmu dan jujur sampai detik ini aku masih merasa bersalah," ucap Angela yang mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Syrala menghela napasnya, "Angela sudahlah kita lupakan saja apa yang terjadi. Lagian itu juga bukan salah kamu. Aku saja yang baper dan juga kurang dewasa dan kita berdua tidak ada masalah," sahut Syrala dengan tersenyum.
"Jadi kita masih teman?" tanya Angela.
"Memang kita kapan menjadi musuh. Kita masih teman," jawab Syrala dengan tersenyum.
Angela juga tersenyum mendengarnya dan mereka berdua langsung berpelukan dengan erat.
"Kangen tau," ucap Angela.
"Aku juga. Maaf ya aku sedikit judes," sahut Syrala.
"Aku juga minta maaf sedikit plin-plan," sahut Angela.
__ADS_1
Keduanya tertawa dalam pelukan jangan mereka. Mereka adalah sahabat dekat. Namun harus ada jarak. Hanya karena salah paham di antara keduanya.
Bersambung