
Tasya membantu Putri untuk memakai baju dengan Tasya yang duduk di pinggir ranjang dan Putri berdiri di depannya. Namun Putri tetap saja melihat terus wajah Tasya yang terlihat lelah dan juga pipi Tasya yang masih memerah.
"Putri mau ketempat papa!" ucap Putri tiba-tiba membuat Tasya memberhentikan pekerjaannya dan melihat Putri.
"Jangan! Nanti papa Bram marah!" tolak Tasya yang tidak mungkin mengijinkan hal itu.
"Mama akan di pukul lagi kalau dia tau Putri ketempat papa?" tanya Putri yang sedih melihat Tasya yang pasti bukan 1 kali aja mendapatkan pukulan.
"Sudah ya. Putri sebaiknya belajar aja," sahut Tasya yang tidak mau membahas hal itu.
"Lalu kapan Putri bisa main bersama papa?" tanya Putri dengan wajah sedihnya.
"Nanti mama akan bicara sama papa Bram dan semoga papa Bram menginjinkannya dan kamu bisa main bersama mama Angela dan papa," jawab Tasya.
"Tapi apa mama bicara sama dia. Karena mama terus mengatakan hal itu. Tetepi tidak pernah Putri bisa main sama mama Angela dan papa," sahut Putri. Mungkin alasan dan janji yang di berikan Tasya sudah terlalu sering di dengar Putri makanya Putri sampai mengatakan hal seperti itu dan membuat Tasya menghela napasnya.
"Maafkan mama. Putri harus mengerti situasinya. Sekarang mama sudah menikah dan semua tidak bisa semudah dulu. Ada papa Bram yang juga harus kita hargai dan bagaimana pun dia itu papa Putri juga," ucap Tasya berbicara lembut agar Putri mengerti.
"Tetepi sebelum mama menikah. Semuanya juga seperti ini. Mama kenal dengan Om Bram dan semuanya sudah seperti itu. Kalau sudah tau seperti itu. Kenapa malah menikah dengan Om Bram," jawab Putri yang lebih pintar menganalisa.
"Sayang Putri jangan ajak mama berdebat ya. Putri harus patuh dengan mama dan semua yang mama lakukan demi kebaikan kita bersama," ucap Angela. Putri diam dan tidak menjawab apa-apa lagi.
"Tasya!" tiba-tiba terdengar suara teriakan Bram membuat Tasya dan Putri kaget.
"Ya sudah sayang kamu belajar aja ya. Mama temui papa dulu," ucap Tasya mencium kening Putri dan Tasya langsung pergi keluar dari kamar Putri.
Wajah Putri yang senduh hanya melihat kepergian Tasya.
"Jadi Putri tidak akan pernah bertemu dengan papa lagi. Putri tidak mau tinggal di sini. Putri takut. Om itu sangat jahat pada mama," ucap Putri yang langsung menaiki tempat tidur dan Putri langsung menangis.
Sekarang Putri menjadi anak yang cengeng. Karena terus berada di situasi yang toxix. Selalu mendengar keributan, mendengar kekacauan dan juga melihat Tasya yang di pukul.
************
Risya berdiri di depan cermin yang sedang melihat-lihat dirinya di cermin melihat perutnya dan beberapa kali berputar.
"Sedang apa kamu sayang?" tanya Arga yang memasuki kamar dan melihat istrinya.
"Sayang anak kita sepertinya perempuan deh. Lihat aku semakin lama semakin cantik," ucap Risya dengan percaya dirinya memuji dirinya sendiri.
"Semoga saja tidak perempuan. Aku takut dia seperti kamu yang kepedean," sahut Arga menghela napasnya.
"Issss kamu. Aku juga berharap dia tidak laki-laki. Nanti akan seperti kamu yang sangat menyebalkan," balas Risya.
__ADS_1
"Sayang anak kita harus laki-laki. Supaya aliran diriku mengalir padanya," sahut Arga membuat dahi Risya mengkerut.
"Aliran apa maksudnya?" tanya Risya dengan menatap horor Arga.
"Yang terutama fisik. Dia akan tampan seperti ku dan juga harus menjadi pemain yang menaklukkan hati wanita," sahut Arga.
"Oh jadi nanti kalau anak kita laki-laki dan sudah dewasa. Kamu mau mengajari dia menjadi laki-laki playboy gitu," sambar Risya yang langsung marah.
"Laki-laki wajar seperti itu sayang," sahut Arga dengan santai.
"Enak aja. Awas aja kalau anak aku sampai seperti itu nanti. Jika dia laki-laki aku akan masukkan dia sekolah pesantren sampai dewasa. Supaya jauh-jauh dari perbuatan itu," tegas Risya.
"Ya ampun sayang kamu itu jahat banget. Kamu mau mengekang anak kita. Memang dia mau jadi ustad apa," sahut Arga.
"Biarin jadi ustad dari pada mengikuti jejak kamu," kesal Risya.
"Tapi nggak bisa gitu sayang. Kamu harus memberi kebebesan untuk anak kita nanti. Jangan sampai anak kita menjadi orang yang tertekan," sahut Arga.
"Aku ibunya, aku mengandungnya dan aku yang punya hak. Aku tidak akan membiarkan anak kita mesum seperti kamu!" tegas Risya. Arga hanya menghela napas saja yang pasti akan kalah jika berdebat dengan istrinya.
"Kalian berdua ini pagi-pagi sudah bertengkar," tiba-tiba Tantri sudah memasuki kamar yang pintunya masih terbuka.
"Anak aja belum lahir sudah membahas ke sana kemari," sahut Tantri geleng-geleng.
"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi. Anak kalian itu tergantung sifat orang tuanya dan bagaimana anak kalian mau jadi baik. Jika masih di kandungan aja. Kalian sudah ribut seperti ini," ucap Tantri.
"Sudah Risya sekarang sebaiknya kamu turun ada Syrala di bawah nungguin kamu dari tadi," ucap Tantri.
"Untuk apa dia datang?" tanya Risya heran.
"Mana mama tau makanya sana kamu lihat," jawab Tantri.
"Ya sudah aku lihat dulu," sahut Risya yang yang pergi dan sebelum pergi pasti melihat suaminya dengan sewot.
"Jangan ribut-ribut Arga. Kepala mama pusing," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Arga yang mengalah kembali.
***********
Risya menuruni anak tangga untuk menghampiri sahabatnya itu.
"Syrala!" sahut Risya.
__ADS_1
"Hey Risya," sapa Syrala.
"Tumben banget pagi-pagi udah datang. Ada hal penting?" tanya Risya yang duduk di samping Syrala.
"Nggak juga sih," sahut Syrala yang terlihat santai.
"Kamu sudah sarapan belum?" tanya Risya.
"Dah kok tadi," jawab Syrala.
"Hmmm begitu,"
"Oh iya kenapa datang kemari?" tanya Risya yang penasaran.
"Risya aku itu pengen tanya sesuatu sama kamu?" tanya Syrala yang mulai serius.
"Tanya apa?" tanya Risya.
"Menurut kamu Bram itu seperti apa sih?" tanya Syrala membuat dahi Risya mengkerut.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya mengenai Bram. Memang ada sesuatu?" Risya bertanya kembali.
Syrala menghela napasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Syrala langsung menunjukkan pada Risya tentang gambar yang diambilnya di group yang membuat Risya kaget melihatnya.
"Aku nggak tau ada apa. Tapi kemarin aku melihat hal ini dan kelihatan Bram itu bukan orang baik," ucap Syrala.
"Kamu benar Syrala dia memang bukan orang baik. Karena aku dan Arga juga pernah bertemu dengan Bram dengan wanita lain dan wanita memanggilnya dengan sayang. Sebelumnya aku juga pernah melihat Bram bersama wanita yang berbeda dan saat itu juga terlihat romantis," jelas Risya.
"What!" pekik Syrala dengan terkejut.
"Lalu Tasya bagaimana? Dan apa itu sudah menikah dengan Tasya?"tanya Syrala.
"Sebelum menikah," jawab Risya.
"Dan kamu tidak beritahu Tasya?" tanya Syrala.
"Aku tidak punya bukti dan jika hanya mengatakan berdasarkan ucapan aku takut salah dan nanti memperpanjang masalah," jawab Risya dengan apa adanya.
"Astaga jadi masalah ini memang sangat besar. Risya sekarang aku ada buktinya. Kita harus beri tahu Tasya," ucap Syrala yang ingin bertindak cepat.
"Iya kamu benar. Aku juga khawatir pada Putri," sahut Risya yang setuju dengan Syrala. Karena Syrala sudah mempunyai bukti.
Bersambung
__ADS_1