MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 203 Mengetahui.


__ADS_3

Arga yang berada di dalam mobil terlihat sangat gelisah yang merasa ada sesuatu.


"Arga!" tegur Salmah yang melihat putranya itu penuh dengan kegelisahan.


"Iya mah," sahut Arga.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Salmah.


"Iya Arga baik-baik saja," jawab Arga.


"Tapi mama melihat kamu seperti ada sesuatu. Apa kamu punya masalah dengan Risya?" tanya Salmah.


"Tidak kok mah. Aku baik-baik saja dengan Risya," jawab Arga apa adanya.


"Lalu apa yang membuat kamu menjadi gelisah?" tanya Salmah.


"Hanya masalah pekerjaan saja ma," jawab Arga dengan tersenyum.


"Pekerjaan itu tidak ada habisnya Arga. Jadi jangan terlalu di pikirkan. Ingat kamu dan Risya juga sekarang bukannya fokus untuk memiliki anak. Jadi jangan nambah-nambah pikiran. Pikiran kamu harus baik-baik aja sama dengan Risya yang juga harus baik-baik saja," ucap Salmah mengingatkan Putranya itu.


"Iya mah pasti. Terima kasih sudah selalu mengingatkan Arga dan juga Risya," jawab Arga.


"Iya sayang," sahut Salmah.


"Aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. kenapa aku merasa ada sesuatu dan ini berkaitan dengan Tasya. Bukan masalah Tasya dan Edo lagi. Tetapi juga masalah papa yang aku rasa ada yang tidak wajar," batin Arga yang mengingat semua keganjilan yang belakangan ini di lihatnya.


*********


Perusahaan Hariyanto.


Vio dengan perutnya yang sudah membuncit keluar dari mobil yang langsung memasuki Perusahaan tersebut.


"Semoga saja Om Hariyanto ada di kantor. Soalnya Tante Tantri sudah menitipkan makan siang ini untuk Om Hariyanto," gumam Vio yang terus berjalan menuju ruangan Hariyanto.


Sebelumnya Vio tadi kerumah Tantri. Karena ada perlu saat Vio ingin pulang. Tantri minta tolong untuk di antarkan makanan ke Perusahaan suaminya. Karena kebetulan Vio lewat sana. Makanya Vio menyempatkan diri mampir ke Perusahaan Hariyanto.


Yang ternyata Hariyanto tidak ada di ruangannya. Mobil Hariyanto baru sampai di depan Perusahaan dan dia sama-sama keluar dari mobil bersama Tasya.


Untuk melihat hasil tes DNA yang sudah di pegang Hariyanto. Mereka berdua kembali kekantor Hariyanto. Hariyanto merasa tempat yang aman untuk melihat hasil tes DNA itu adalah di ruangan Hariyanto.

__ADS_1


Hariyanto berjalan buru-buru menuju ruangannya yang di ikuti oleh Tasya dan saat memasuki ruangannya Hariyanto melihat ke sekitarnya apakah ada orang atau tidak. Setelah itu Hariyanto langsung masuk keruangannya bersama dengan Tasya.


"Apa kamu sudah tidak sabar mas untuk melihat hasil tes DNA nya. Makanya kamu terlihat buru-buru sekali," ucap Tasya.


Hariyanto tidak menjawab pertanyaan Tasya dan langsung buru-buru membuka amplop yang barusan di terimanya dari Dokter. Namun Tasya menghentikannya dengan memegang amplop tersebut.


"Ada apa lagi Tasya?" tanya Hariyanto.


"Kamu harus menepati janji kamu mas setelah hasilnya kamu lihat," ucap Tasya.


Hariyanto menepis tangan Tasya dan langsung membuka amplop tersebut tanpa memperdulikan ocehan Tasya. Kertas tersebut sudah berada di depan matanya di pegang tangannya yang bergetar dan membaca hasil tes DNA itu.


Hariyanto begitu terkejut melihat hasilnya dengan dadanya yang kembang kempis. Tasya langsung mengambil kertas itu dari tangan Hariyanto dan juga melihat hasil tes itu. Dengan Tasya tersenyum. Sepertinya hasilnya sesuai dengan keinginannya.


"Bagaimana mas aku tidak bohong kan. Jika Putri adalah anak kamu. Putri darah daging kamu," ucap Tasya.


Hariyanto mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya sampai kerambutnya. Menghadap mejanya memegang pinggir meja dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat frustasi dengan hasil tes DNA yang positif jika Putri anak dari Hariyanto.


"Putri anak kamu mas dan bukan anak Edo. Jadi aku mohon untuk kamu bertanggung jawab pada Putri mengambil hak asuh Putri dari Edo. Kamu harus menepati janji kamu," ucap Tasya yang menuntut Hariyanto.


"Diam kamu Tasya!" sentak Hariyanto dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Mas aku selama ini mengalah. Aku sadar posisiku yang mencintai kamu dan memberikan segalanya kepada kamu. Namun kali ini aku hanya ingin kamu mengakui Putri!" bentak Tasya.


"Cukup Tasya. Hentikan semua omong kosong mu. Semua ini terjadi. Itu karena kamu menjebakku dan menghancurkan pernikahanku," sentak Hariyanto.


"Kamu menyalahkanku dengan kata menjebak. Mas kamu lupa. Jika bukan aku sekretarismu yang menyelamatkan Perusahaan mu waktu itu. Perusahaan itu sudah hancur dan kamu sendiri yang memujiku. Mengagung-agungkan ku. Kamu selalu membuatku menjadi wanita yang sangat di butuhkan. Sehingga aku jatuh hati padamu. Apa kamu lupa semuanya!" teriak Tasya mengingatkan semua kejadian itu.


"Kau hanya sekretaris Tasya dan seharusnya kau sadar diri dan tidak terbawa perasaan. Tapi kau menganggap semuanya berlebihan," tegas Hariyanto.


"Aku bisa sadar diri. Jika kamu tidak meladeni ku mas. Tetapi hubungan kita lebih dari itu dan kamu sendiri menjalani hubungan itu di belakang keluargamu," tegas Tasya.


"Dan Putri menjadi saksi hubungan kita dan Putri juga hasil cinta kita berdua yang memang itu salah. Tapi Putri tidak salah dan butuh pengakuan dari ayahnya!" tegas Tasya.


"Tutup mulut kamu. Jangan bicara masalah omong kosong lagi," tegas Hariyanto yang tidak mau mendengarkan apa-apa dan hendak pergi. Namun Tasya langsung memeluknya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan Tasya!" ucap Hariyanto dengan berusaha melepaskan pelukan Tasya.


"Aku tidak akan mengganggu kamu dan juga keluargamu. Aku hanya ingin kamu mengakui aku dan Putri. Kami akan pergi keluar Negri. Tetapi kamu tetap bertanggung jawab untuk melihat keadaan kami,"

__ADS_1


"Aku tidak meminta lebih mas. Aku tidak meminta setiap hari, atau Minggu bahkan bulan. Aku hanya ingin beberapa kali saja mas," ucap Tasya dengan bernegosiasi.


"Aku punya keluarga dan aku tidak akan melakukan hal itu!" tegas Hariyanto.


"Aku mencintai mu mas dan perselingkuhan kita dulu bukan kesalahan ku saja. Tetapi juga kamu mas," ucap Tasya.


Ceklek.


Tiba-tiba Hariyanto dan Tasya sama-sama kaget. Ketika mendengar pintu kamar mandi yang di buka membuat tangan Tasya langsung lepas dari pinggang Hariyanto dan Hariyanto membalikkan tubuhnya.


Hariyanto terkejut dengan matanya yang terbuka lebar melihat Vio yang berdiri di depan kamar mandi dengan tubuhnya bergetar dan tatapan yang tajam pada Hariyanto dan Tasya.


"Vio!" lirih Hariyanto yang sangat terkejut dengan keponakannya itu.


"A_ apa semua ini om?" tanya Vio dengan bibirnya yang bergetar.


"Aku mendengar semuanya. Ada apa ini?" tanya Vio dengan suaranya yang kesulitan untuk berbicara.


"Kau! kau, kau!" tunjuk Vio pada Tasya.


Vio yang mengepal tangannya menghampiri Tasya.


Plakkkkkkk.


Vio langsung melayangkan tamparan panas ke pipi Tasya membuat Tasya terkejut dengan memegang pipinya dan terutama Hariyanto yang juga kaget.


"Wanita gila apa yang kau lakukan. Apa maksud kata-kata mu itu!" teriak Vio yang menarik rambut Tasya yang mengamuk di ruangan Hariyanto.


"Lepaskan aku sakit!" keluh Tasya yang berusaha menahan amukan Hariyanto.


"Kau ingin menghancurkan keluarga Om Hariyanto. Kau wanita ja*la*ng yang tidak tau diri. Bangga sekali dirimu yang menjadi selingkuhan," teriak Vio yang benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Keluar kau dari ruangan ini. Sebelum aku mencakar wajahmu! Keluar!" Vio juga mengusir paksa Tasya dengan kasar dan Hariyanto hanya diam yang terduduk lemas.


Baru keponakannya saja yang mengetahui hal itu sudah sangat sehancur itu. Lalu bagaimana dengan putrinya sendiri. Bagaimana jika Risya tau semuanya. Hariyanto tidak akan bisa membayangkan hancurnya Risya yang mana papa yang selalu di banggakannya menghiyanati dirinya dan sampai punya anak dengan wanita lain.


Hariyanto hanya diam dengan air mata yang jatuh melihat amukan Vio pada Tasya yang Vio memang berada di kamar mandi karena kebelat pipis setelah meletakkan bekal di meja Hariyanto. Namun siapa sangka Vio mendengar semuanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2