
Mereka keluar dari Restauran tersebut menuju mobil dan Arga langsung membukakan pintu untuk Risya dan Risya langsung memasuki mobil dan Arga menyusul untuk duduk di samping Risya di kursi pengemudi.
Biasalah kalau melihat wanita yang sudah datang bulan. Pasti sangat memprihatikan yang termasuk Risya yang kelihatan kesakitan yang terus memegang perutnya. Apalagi tadi dia sudah marah-marah yang menguras banyak tenaganya.
"Kamu minum dulu!" ucap Arga yang memberikan Risya air mineral dan Risya mengangguk yang langsung mengambilnya.
"Sebaiknya kamu jangan bekerja lagi. Aku akan mengantarmu pulang. Kamu istirahat di rumah saja," ucap Arga dengan lembut dan sangat terlihat khawatir pada Risya. Dan Risya menganggukkan kepalanya yang menuruti Arga saja.
**********
Malam hari Arga pulang dari kantor dan kebetulan orang tuanya ada di ruang tamu.
"Aku pulang!" ucap Arga yang duduk di Sofa dengan terlihat sangat lelah sampai menyandarkan tubuhnya di kepala Sofa.
"Kamu ini jangan kebanyakan kerja. Pulang-pulang langsung seperti ini. Kurang-kurangi dalam bekerja," ucap Salmah yang memberi saran pada putranya itu. Karena Salmah sebagai ibu pasti sangat kasihan dengan putranya yang terlihat lelah. Hanya karena pekerjaan dan dulu juga suaminya seperti itu. Namun sudah mengurangi jadwal pekerjaannya.
"Risya mana?" tanya Arga yang langsung teringat pada Risya dan sepertinya Arga tidak mendengarkan saran dari sang mama.
"Ada di kamar. Dia sepertinya tidak enak badan. Sejak tadi kamu mengantarnya pulang dia terus di kamar dan belum pernah keluar kamar," jawab Salmah.
"Arga kamu itu lebih perhatikan istri kamu. Jangan hanya bisanya bertengkar saja. Tidak di rumah di kantor. Kalian berdua itu sudah menikah dan sudah seharusnya saling serius untuk tujuan pernikahan kalian. Jangan hanya menikah. Tapi tabiat kalian berdua tidak berubah sama sekali. Malah semakin parah," sahut Dehway yang memberi Arga saran.
"Tapi pah. Risya yang sudah di kasih tau dan selalu memulai duluan," sahut Arga yang mencari pembelaan.
"Kamu itu kan suami. Jadi kamu yang harus mengarahkan. Dan kalau kamu bersikap baik kepadanya. Dia juga tidak akan mungkin seperti itu. Jadi semua tergantung pada kamu dan ingat ya Arga mama tidak mau dengar kamu ikut campur dengan urusan mantan kamu," ucap Salmah dengan serius mengingat Arga.
"Mah, Arga tidak pernah ikut campur. Risya aja yang berlebihan. Arga hanya menolongnya," sahut Arga yang masih membela dirinya.
__ADS_1
"Apapun itu Arga. Kamu sudah menikah dan wanita itu juga sudah menikah. Kalian punya kehidupan masing. Jadi dengarkan apa yang amma katakan. Bagaimana jika sebaliknya terjadi pada kamu ada Pria yang dekat dengan istrimu. Apa kamu akan diam. Jadi jangan memancing sesuatu yang terlihat spele dalam pernikahan kamu. Karena hal yang spele akan berdampak serius dan yang rugi itu adalah kamu," tegas Salmah yang lebih penekanan dalam setiap kata-katanya dan Arga tidak bisa membantah atau membela dirinya lagi.
"Kamu sekarang sana kekamar kamu lihat istri kamu dan terus pantau kesehatannya," ucap Salma.
"Iya," sahut Arga dengan menghela napasnya kasar dan langsung berdiri dari tempat duduknya yang pasti langsung menuju kamarnya.
"Huhhhh, ada-ada saja permasalahan Risya dan Arga. Ke-2 anak itu tetap saja tidak berubah. Malah menikah semakin parah," ucap Salmah dengan geleng-geleng kepala.
"Sudahlah mah, mereka juga sudah dewasa. Lama-lama mereka juga akan capek dengan ulah mereka. Jadi biarkan saja waktu yang menjawabnya," ucap Dehway.
"Mama juga berharap seperti itu," sahut Salmah.
************
Arga memasuki kamar dan melihat Risya yang tertidur. Namun bukan di atas tempat tidur melainkan di sofa dengan selimut yang menutup tubuhnya.
"Risya kenapa kamu tidur di sini? ayo pindah," tanya Arga
"Hmmmmmm, bukannya ini jadwal kamu tidur di tempat tidur," sahut Risya tanpa membuka matanya dan dari suaranya terdengar menahan sakit.
Arga mendengarnya menghela napasnya, "kamu lagi sakit. Tidak nyaman untuk tidur di sofa. Kamu pindahlah," ucap Arga dengan lembut yang pasti harus menggunakan kemanusiaannya dan Arga sangat mengenal Risya.
Jadwal datang bukan itu sangat menyakitkan untuk Risya dan seolah Arga juga bisa merasakan sakitnya seperti apa.
"Ayo Risya naik," ucap Arga. Risya tidak merespon tidak tau apakah dia mendengar atau tidak apa yang di katakan Arga.
Arga kembali menghela napasnya dengan berat dan langsung mengangkat tubuh Risya menggendongnya ala bridal style dan Risya juga tidak terbangun walau Arga sudah menggendongnya memindahkannya ke atas tempat tidur dan membaringkannya perlahan.
__ADS_1
"Dosamu semakin banyak. Dasar berat," umpat Arga yang masih sempat-sempatnya mengejek Risya. Dan Risya tetap tidak terbangun dan Arga pun tidak ingin membangunkannya dan Arga langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum Arga tidur.
***********
Tidak lama Arga keluar dari kamar mandi yang menggunakan pakaian santainya dan melihat Risya yang terbaring miring meringkuk dengan memegang perutnya yang sepertinya menahan rasa sakit. Atau mungkin Risya sedang menangis tanpa suara karena tidak tahan dengan sakitnya.
"Risya kamu mau ke Dokter?" tanya Arga yang duduk di samping Risya dengan memegang bagian tubuh Risya.
"Tidak perlu. Sakit sekali," keluh Risya dengan suara seraknya membuat Arga jadi bersimpatik dengan mengusap-usap punggung Risya.
"Aku harus melakukan apa? aku mana tau Risya harus berbuat apa?" tanya Arga bingung. Karena sejak dulu juga dia tidak tau mengatasi hal yang datang setiap bulan itu.
"Sakit! sakit!" keluh Risya dengan dengan merengek manja.
"Aku ambilkan air hangat yah," ucap Arga dengan lembut.
"Aku sudah meminum sangat banyak," jawab Risya tanpa membuka matanya. Arga sendiri jadi bingung. Pasti kalau sudah seperti ini semua akan menjadi serba salah yang tidak salah pun akan menjadi salah.
Arga pun langsung berbaring di samping Risya dan langsung membawa Risya kedalam pelukannya dengan mengelus-elus rambut Risya. Agar Risya bisa kembali tertidur dan rasa sakitnya akan hilang.
Risya sama sekali tidak memberontak saat di peluk Arga. Malah dia juga ikut memeluk Arga dengan erat dan sepertinya pelukan Arga mengurangi rasa sakitnya itu.
"Kau tidak berubah Risya. Kau selalu seperti ini sejak dulu. Bahkan kau harus menelponku tanpa melihat waktu. Jika kau tidak bisa menghadapi situasi ini," gumam Arga yang terus menengakan Risya. Tidak tau Risya mendengar atau dengan apa yang di katakan Arga.
Risya memang sangat merasa tenang jika Arga menemaninya di saat 1 hari pertama yang menyakitkan itu dan bahkan dulu saat mereka pacaran. Arga harus menemui Risya walau sudah tengah malam. Hanya karena Risya ingin Arga ada di susunya dan mungkin itulah pertolongan yang bisa di lakukan Arga.
Bersambung
__ADS_1