
Tasya yang setelah selesai makan malam dengan Edo dan yang lainnya akhirnya pulang ke apartemennya. Bram pasti mengantarkannya sampai depan pintu.
"Makasih ya mas kamu udah nemani aku makan malam," ucap Tasya.
"Ini yang terakhir ya Tasya. Aku tidak mau lain kali makan bersama orang-orang itu dan apa lagi salah satu dari mereka adalah mantan suami kamu. Kamu juga tadi mengobrol sangat intens dengannya. Hal itu tidak pantas dan aku tidak mau kejadian itu terulang lagi," ucap Bram dengan memberi peringatan pada Tasya.
"Aku sama mas Edo hanya membicarakan masalah Putri. Kamu tidak ada pembahasan lain," ucap Tasya dengan menjelaskan sedikit agar Bram tidak salah paham.
"Apapun itu aku tidak butuh alasan dari kamu yang penting ini yang terakhir. Aku tidak suka kamu menjalin hubungan atau komunikasi lagi dengan dia. Ini sudah cukup. Kamu dan Dia sudah berpisah dan dia juga sudah punya istri. Jangan jadikan alasan anak untuk kamu dan dia bertemu dan apalagi sampai dia datang ke Apartemen kamu. Mau dia sendiri yang datang atau dengan keluarganya sekalipun yang jelas tidak bisa," tegas Bram yang benar-benar melarang komunikasi Antara Tasya dan Edo.
"Itu berlebihan mas," sahut Tasya yang pasti protes dengan apa yang di katakan Edo.
"Kamu bisa tidak. Jika langsung menurut saja dan tidak membantah. Apa salahnya kamu mengiyakan," tegas Bram dengan penuh penekanan dan penegasan pada Tasya. Sepertinya Bram bukan orang yang main-main.
"Baiklah," sahut Tasya yang menurut saja. Tasya sepertinya tidak mau ribut. Jadi lebih baik dia mengangguk saja dengan larangan Bram.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Kamu langsung istirahat," ucap Bram. Tasya hanya mengangguk saja dan Bram mencium kening Tasya.
"Kamu hati-hati mas!" ucap Tasya. Bram mengangguk dan langsung pergi.
"Aku tidak mungkin tidak berkomunikasi dengan mas Edo atau Angela. Bagaimana dengan Putri nantinya," batin Tasya yang kepikiran dengan Putri. Larangan Bram bisa membuat masalah antara dia dan Edo nantinya.
Ternyata Putri berada di balik tembok yang melihat Tasya di antar Bram. Setelah Bram pergi Putri keluar dari persembunyiannya dan Tasya juga menutup pintu dan berbalik badan. Tasya kaget melihat Putri sudah di belakangnya.
"Putri!" ucap Tasya dengan wajah kagetnya memegang dadanya.
"Mama pergi ketemu papa. Tapi kenapa tidak bawa Putri?" tanya Putri dengan wajah lesunya.
Angela menghela napasnya dan menghampiri Putri dengan berjongkok di depan Putri.
"Tadi Putri ketiduran sayang makanya mama tidak bawa Putri," jawab Tasya.
__ADS_1
"Tidak kok! Siapa bilang Putri ketiduran. Tadi Putri belajar di kamar. Mama bilang hanya pergi makan bersama Om Bram," jawab Putri.
"Maafkan mama ya. Besok kita buat jadwal bertemu papa," ucap Tasya mengaku salah dengan memegang pipi Putri dengan tangannya.
"Tapi bagaimana aku mempertemukan Putri dengan mas Edo. Bram baru saja mengatakan mas Edo atau siapapun tidak boleh datang ke Apartemen ini," batin Tasya yang kebingungan sendiri.
"Ya sudah sayang. Sekarang Putri istirahat aja ya," ucap Tasya.
"Mama jangan terus pergi sama Om Bram ya. Putri tidak suka," ucap Putri.
"Sayang kamu kenapa bilang seperti itu. Om Bram itu orang baik dan Putri nggak boleh seperti itu," ucap Tasya.
"Tapi Putri lihat dari wajahnya dia sangat galak dan Putri takut. Apalagi dia tidak pernah mau senyum dengan Putri dia selalu menatap Putri sinis seperti tidak menyukai Putri," ucap Putri yang mengeluhkan apa yang di nilainya terhadap Bram yang mungkin benar apa adanya.
"Mungkin itu karena Putri belum berapa kenal dengan Om Bram. Jadi Putri tidak boleh menilai seperti itu ya," sahut Tasya yang tidak menanggapi keluhan dari Putri.
"Sudah Putri sekarang tidur aja. Ini sudah malam," titah Tasya.
"Putri kenapa bisa berpikiran seperti itu kepada mas Bram. Mungkin aku harus bicara dengan mas Bram untuk lebih mendekat lagi pada Putri. Agar Putri nyaman dan tidak takut pada mas Bram," batin Tasya yang jadi kepikiran.
Kedekatan Bram dan Tasya memang tampaknya tidak di sukai Putri dan feeling Edo benar yang takut Putri kenapa-kenapa dengan apa yang menjadi keputusan Tasya menjalin hubungan dengan Bram. Bahkan hubungan itu serius.
***********
Risya dan Salmah sedang mampir ke salah satu Restaurant. Mereka tadi habis shoping dan di lanjutkan makan berduan. Risya memang semenjak hamil bawaannya belanja terus yang menguras dompet suaminya itu. Tetapi Arga memang bekerja untuk kebahagiaan istrinya.
"Risya kamu mau pesan apa lagi?" tanya Salmah sembari mengunyah makanannya.
"Nanti dulu mah ini saja belum habis. Nanti mubajir," jawab Risya.
"Cielah menantu mama yang sekarang sudah paham mengatakan kata mubajir," goda Salmah.
__ADS_1
"Ya kan memang benar mama sayang. Nanti mubajir. Kalau mubajir sayang. Makanan tidak boleh di buang-buang," sahut Risya.
"Lalu kalau shoping itu nggak mubajir namanya buang-buang uang," sahut Salmah.
"Mama shoping itu kebutuhan dan tidak buang-buang uang. Lagian yang terbuang juga bukan yang Risya. Tetapi uang Arga," sahut Risya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Issss kamu ini benar-benar menantu nakal ya," sahut Salmah.
"Nggak apa-apa. Sekali-kali sama seperti mama," sahut Risya.
"Iya-iya deh yang penting menantu mama ini bahagia dan itu sudah menjadi kebahagiaan untuk mamah," sahut Salmah. Risya hanya tersenyum mendengarnya dan melanjutkan namakannya.
Mata Risya tiba-tiba melihat ke arah depan Restaurant dan tiba-tiba pandangannya itu melihat serius ketika melihat orang yang memasuki Restaurant tersebut.
"Bukannya itu Bram!" batin Risya yang melihat Bram menggandeng seorang wanita dengan tangan Bram di pinggang wanita itu dan wanita itu bukan Tasya.
"Siapa wanita itu dan kenapa kelihatan begitu dekat sekali?" batin Risya bertanya-tanya sampai melihat terus mereka yang sudah menduduki salah satu bangku dan Bram juga menarik kursi dengan wanita itu yang langsung duduk dan terlihat romantis sekali.
"Siapa wanita itu? Kenapa mereka kelihatan begitu sangat romantis perlakukan bram juga aneh?" batin Risya dengan penuh tanda tanya.
"Risya kamu kenapa?" tanya Salmah melihat menantunya itu sudah tidak fokus lagi.
"Oh nggak apa-apa kok mah," jawab Risya.
"Lalu kamu lihat apa sayang. Kenapa makannya tidak di makan!" ucap Salmah.
"Tidak kok mah. Ini mau makan kok," jawab Risya dengan tersenyum.
"Ya sudah sayang kamu lagi ya. Makanannya di habiskan," ucap Salmah.
"Iya mah. Mama juga makannya di habiskan," ucap Risya. Salamah mengangguk dan mereka berdua kembali makan. Namun pasti Risya yang masih penasaran dengan Bram dan wanita itu sehingga dia makan sudah tidak nikmat lagi.
__ADS_1
Bersambung