Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Merengek


__ADS_3

“Alana bolehkah aku satu hari ini bermain bersama Arsya?” tanya Jordan dengan suara yang tenang. Meskipun debaran di hatinya cukup membuatnya gugup saat berbicara berdua seperti ini.


Alana diam, “Enggak, Arsya anakku,” tegas Alana.


Dia tidak ingin goyah sedikit pun, mungkin Arsya memang membutuhkan kasih sayang Jordan.


Tapi dia juga tidak ingin berlama-lama dengan pria itu. Hatinya masih terasa sakit jika melihat wajah Jordan, bayangan keegoisan Jordan membuat hatinya resah.


“Ya sudah enggak papa.”


Jordan sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Arsya dan Alana. Tapi dia tidak bisa memaksa Alana, Jordan takut Alana benar-benar pergi lagi darinya.


Ada rasa rindu menyelusup ke hatinya, jika mengingat Alana pernah menyatakan cinta padanya.


Melihat perubahan ini Jordan tahu, bahwa cinta Alana sudah berkurang banyak padanya. Atau mungkin sudah terkikis oleh waktu.


Alana berdiri hendak mengambil Arsya dari gendongan Jordan. Namun Jordan malah memberikan senyuman.


Alana memilih mengurungkan niatnya, kalau dia mengambil Arsya yang di gendong Jordan yang ada dia malah bersentuhan dengan pria itu.


“Tidak boleh Alana,” batin Alana.


“Tolong bawakan Arsya sampai ke mobilku,” ucap Alana dengan nada dingin. Tanpa menunggu jawaban Jordan Alana melangkah pergi terlebih dulu meninggalkan Jordan.

__ADS_1


Alana merasa benar-benar bodoh, karena meminta bantuan pada Jordan.


“Bodoh ... Bodoh,” umpat Alana di dalam hatinya.


Meskipun kesulitan Jordan berusaha membayar biaya makan mereka sebelum menyusul Alana yang sudah meninggalkan.


Jordan mengelus rambut Arsya dengan penuh kasih sayang. Di kecupannya puncak kepala Arsya sebelum Jordan bangkit dan menyusul Alana.


Sampai di basemen Jordan melihat Alana yang berdiri di depan mobilnya dengan raut wajah gelisah.


Alana sudah sangat kesal menunggu Jordan yang tidak kunjung datang, padahal Alana sudah sampai 20 menit menunggu kedatangannya.


“Kau tidak berniat menculik anakku?” tanya Alana dengan nada yang sedikit meninggi.


Jordan menatap mata Alana, terlihat jelas bahwa Alana yang dia lihat bukan Alana yang dulu.


“Maaf.”


Alana semakin kesal mendengar ucapan Jordan yang meminta maaf padanya.


“Cepat tidurkan Arsya di kursi belakang,” perintah Alana dengan suara ketus.


Sebenarnya Jordan ingin menolak, dia tidak tega menidurkan anaknya di kursi penumpang sendirian.

__ADS_1


 Jordan tidak ingin membuat Alana lebih kesal padanya, karena menolak keinginannya.


Dengan terpaksa Jordan menidurkan Arsya di kursi belakang, namun Arysa membuka matanya, dan mengalungkan tangannya ke leher Jordan.


“Arsya mau tidur sama Papi,” gumam Arsya dengan mata yang setengah terbuka.


“Sekarang Arsya harus pulang, nanti Arsya boleh tidur sama Papi.”


Arsya menggelengkan kepalanya, dia mengucek kedua matanya sebelum menatap Jordan.


“Arsya mau sama Papi, Arsya  enggak mau pulang,” ucap Arsya dengan wajah yang menahan tangis.


“Sekarang Arsya harus pulang sama Mami.”


Arsya menangis kencang mendengar penolakan dari Alana.


Jordan kembali menggendong Arsya, lalu menatap Alana.


Alana bukan tidak peduli dengan tangis Arsya, jagoan kecilnya itu memang suka rewel jika jam tidurnya terganggu.


Alana mendekat ke arah Jordan, lalu mengambil alih tubuh Arsya.


Arsya meronta di gendongan Alana dengan tangis yang semakin kencang.

__ADS_1


Alana membuka pintu di samping kemudi lalu menurunkan Arsya agar duduk di sana.


“Papi,” teriak Arsya di tengah tangisnya.


__ADS_2