Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Tuan Muda Selalu Benar


__ADS_3

Pelayan mengetuk pintu kamar tuan muda, saat Jordan muncul pelayan tersebut membungkuk memberi hormat.


“Ini tuan sup untuk nona.”


Jordan mengambil alih nampan berisikan semangkuk sup dan satu gelas susu untuk Alana. Jordan membawa nampan dan berjalan mendekati Alana.


Alana mengerucutkan bibirnya saat melihat menu makanan yang di bawa Jordan. “Tidak ada menu lain? Aku bosan jika harus makan sup terus,” rengek Alana.


Jordan sedang tidak ingin di bantah, dia tidak menggubris ucapan Alana. Dan mulai menyuapi gadisnya.


Meskipun rasanya bosan jika makan sup terlalu sering, tetapi kalau di suapi oleh Jordan, Alana tidak kuasa untuk menolak.


Lihatlah kelakuan gadisnya, tadi dia menolak makan sup, tapi suapan yang di berikan Jordan di terimanya dengan baik olehnya. Cih wanita!


Terlintas ide dalam pikiran Alana. Alana merebut sendok yang di pegang oleh Jordan.


Jordan memperhatikan Alana yang mulai menyendok sup dan mengerahkan ke mulutnya. Gadisnya tersenyum sangat manis, Jordan terus memperhatikan Alana yang kini menyendok sup lagi.


“Aaaa,” ucap Alana sambil mendekatkan sendoknya pada mulut Jordan.


Jordan diam tidak merespons, dia ingin tahu sampai mana gadisnya akan bertingkah.


“Jordan, kamu harus coba ini supnya enak, beda dari yang lain.”

__ADS_1


Jordan diam tidak merespons, dia tahu Alana sedang mengada-ada. Bagaimana supnya terasa berbeda, Jordan tidak percaya karena sebelum Alana Jordan sudah sering makan sup buatan kokinya.


“Ini lebih enak serius, soalnya di suapi aku,” ucap Alana sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.


Enggak mempan Alana sekelas babang Jordan kamu kasih gombal receh kaya gitu.


Dering ponsel di saku Jordan memecah keheningan, Jordan memberikan mangkuk supnya pada Alana. “Makan!”


Alana mengerucutkan bibirnya, ucapan Jordan seperti sedang memerintah pegawainya. Alana menatap punggung Jordan yang menjauh darinya dan hilang di balik pintu.


Jordan masuk ke ruang favoritnya, dia menekan layar ponselnya. 


“Tuan barusan kepala pelayan mengabarkanku bahwa Alana hilang, apa betul?”


“Apa nona Alana sudah di temukan?”


“Alana baik-baik saja, dia hampir saja di culik karena kelalaianmu!”


Nik memberengut kesal di ruang kerjanya, mungkin Nik lengah. Tetapi seharusnya tuan muda yang menjaga Alana dengan baik saat di sampingnya.


Percuma menyalahkan tuan muda, karena semua tuan muda selalu benar dan tidak pernah salah.


“Maafkan saya tuan.

__ADS_1


“Bagaimana tentang kasus Emily?”


“Saya menemukan fakta baru, tuan. Emily telah menandatangani surat perjanjian saat memulai hubungan dengan Bryan, di sana tertulis jika di kemudian hari pihak kedua hamil anak pihak pertama, pihak kedua tidak bisa menuntut pihak pertama untuk bertanggung jawab.”


Jordan mengepalkan tangannya, dia tidak menyangka Emily akan sebodoh itu. “Itu perjanjian asli, bukan rekayasa?”


“Asli, saya sudah konfirmasi pada Em, dan Emily mengakuinya.”


“Bodoh!”


Niko tahu tuan muda bukan mengumpat untuknya, tetapi untuk kelakuan bodoh Emily. “Sebanyak apa pun bukti yang saya dapat, tidak akan berlaku karena perjanjian ini tuan.”


“Fokus pada orang yang ingin menculik Alana dariku!” perintah Jordan sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Jordan mencoba menghubungi Emily, saat nada tersambung Jordan mengumpat dengan sangat keras. “Kau benar-benar bodoh Emily!”


Di sebrang sana Emily mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, air matanya meluncur mendengar Jordan mengatainya sebagai perempuan bodoh. “Aku memang wanita bodoh, Mik! Harusnya kau di sini bersamaku.”


Suara Emily terdengar bergetar menahan isak tangis, “Kenapa masih di bahas! Kau sudah tahu alasannya, Em,” ucap Jordan setengah berteriak.


“Kau milikku, Mik!”


Jordan membanting ponselnya dengan cukup keras, ponsel keluaran tipe terbaru itu hancur tidak berwujud. Menggambarkan seberapa kuatnya Jordan meluapkan emosinya saat membanting ponsel miliknya.

__ADS_1


__ADS_2