
“Kamu menghabiskan semua sate sagunya sendiri?” Eduard memandang piring yang kosong.
Raut wajah Averyl seketika berubah menjadi rasa bersalah, padahal barusan ia sangat senang menikmati makanan keinginannya. “Maaf,” lirih Averyl.
Eduard mengecup kening Averyl. “Masih mau nanti aku pesankan?”
“Tidak, aku sudah kenyang.”
Eduard menarik tangan Averyl agar bangkit dari duduknya. Lalu menuntun Averyl menuju kamar mereka. Eduard melepaskan tangannya dan menepuk sisi tempat tidur.
“Ed, aku baru selesai makan. Tidak mungkin langsung tidur,” tolak Averyl.
“Aku tidak memintamu untuk tidur. Bersandarlah,” titah Eduard. Ia menepuk dipan tempat tidur. Setelah memastikan Averyl di posisinya. Eduard membuka gorden kamar mereka yang mengarah ke laut lepas.
Averyl dapat melihat dengan jelas pemandangan yang belum pernah ia rasakan. Selama ini ia hanya kerja untuk mencari uang agar bisa lepas dari Gumelar. Tidak ada waktu untuknya bersenang-senang menikmati hasil kerja kerasnya.
Eduard duduk di samping Averyl. Menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka. “Kamu ingin memiliki berapa anak?”
Mata Averyl membuat, ia cukup terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Eduard. “Aku tidak tahu.”
Eduard tersenyum tipis, pandangnya menerawang jauh ke depan. “Bagaimana kalau empat?”
“Apa tidak terlalu banyak?”
Eduard memandang Averyl, “Aku rasa tidak. Dua laki-laki dan dua perempuan.”
“Memangnya kamu yakin, satu bulan lagi keputusannya ada padaku. Bisa saja aku memilih berpisah, apalagi kau tidak membuat honeymoon ini berkesan.”
“Jadi kamu masih marah soal tadi aku meninggalkanmu?”
__ADS_1
Averyl sengaja tindak menjawab dan memilih memalingkan wajah.
“Harusnya kamu ikut tadi, pemandangannya sangat indah. Kalau kamu ikut mungkin kita akan mendapat foto romantis.”
Averyl merasa Eduard tidak peka, ia menyibakkan selimut hendak berdiri. Namun tubuh Averyl tertahan karena tarikan Eduard pada tangannya.
“Lepaskan Ed.”
Eduard sengaja tidak melepaskannya, ia merapatkan tubuhnya pada Averyl. Memeluk wanita yang telah berhasil mencuri seluruh hatinya. “Jangan pernah pergi. Sekalipun kamu bisa lepas dariku, aku akan menemukan cara untuk membuatmu kembali.”
Kata-kata Eduard terdengar sangat manis di telinga Averyl. Averyl mengikis jarak di antara mereka dan mencium Eduard lebih dulu. Meskipun Eduard selalu berhasil membuatnya kesal, entah kenapa hati Averyl selalu berhasil luluh.
***
Averyl terbangun saat mendengar suara Eduard yang terdengar kesal.
Siluet tubuh Eduard yang sedang menerima telepon tampak jelas di balik jendela yang menjadi penghalang balkon.
Eduard menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. “Sedikit.”
“Aku tidak apa-apa jika harus pulang sekarang.” Averyl tahu bagaimana posisi Eduard. Dia tidak ingin egois, apalagi jika masalahnya Sangat penting.
“Tapi aku sudah booking diving untuk pagi ini, kamu tidak ingin melihat keindahan bawah laut?”
“Tidak apa-apa, kita pulang saja,” ucap Averyl sambil tersenyum agar Eduard yakin.
“Baiklah kalau begitu,” Eduard mendekatkan wajahnya pada leher Averyl. Menambahkan sedikit tanda kepemilikannya pada bagian yang kosong.
Averyl mendorong tubuh Eduard agar menjauh. “Ini sudah terlalu banyak, jangan lagi. Aku malu!”
__ADS_1
Melihat Averyl yang kesal Eduard terkekeh. “Satu lagi ya, nanti aku akan bantu tutupi agar kamu tidak malu sayang.”
Kedipan genit Eduard membuat bulu kuduk Averyl berdiri. Ia memilih pergi sebelum menyesal seperti semalam.
***
Averyl bangun saat alarm ponselnya berbunyi. Ia melirik tempat tidur di sebelahnya yang kosong. Seprainya sedikit kusut itu tandanya Eduard pulang.
Averyl bangkit dan berlari ke kamar mandi. Saat pintunya di buka ternyata kosong tidak ada Eduard.
Averyl keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Eduard. Setelah berkeliling pun Averyl masih tidak menemukan Eduard. Ia pergi ke garasi mobil, berharap Eduard belum pergi.
Nafas Averyl yang tidak beraturan karena berlari tidak membuahkan hasil apa pun. Mobil Eduard sudah tidak ada.
Averyl berjalan pelan menuju kamarnya. Sudah satu bulan ini Eduard sangat sibuk. Pulang larut malam, berangkat pagi buta. Bahkan hari ini Averyl memasang alarm pukul empat pagi tapi Eduard sudah pergi.
Sesampainya di kamar Averyl duduk kursi santai. Matanya tertuju pada segelas susu di atas meja.
Averyl mengangkat gelas itu hendak meminumnya, namun pandangannya tertuju pada kertas kecil tulisan tangan milik Eduard.
“Jangan terlalu lelah,” ucap Averyl pelan membaca pesan dari kertas tersebut.
Averyl meremasnya dan melemparnya ke tempat sampah. “Jangan terlalu lelah bagaimana? kau membuatku lelah menahan rindu.”
Meskipun Averyl tahu ucapannya tidak akan di jawab oleh siapa pun tapi ia hanya ingin mengeluarkan rasa kesal di hatinya. Eduard sudah sangat keterlaluan dan Averyl tidak bisa menerima ini.
Dulu Eduard selalu mengantarnya berangkat kerja. Tapi itu hanya satu Minggu. Setelah itu ia harus menerima jika Eduard tidak bisa mengantarnya lagi.
Belum lagi Averyl harus rela terlambat makan malam demi menunggu kedatangan Eduard. Tapi lambat laun Eduard pulang sangat larut dan Averyl tidak bisa makan malam selarut itu. Selain tidak sehat ia juga tidak ingin tubuhnya gemuk.
__ADS_1
“Suami macam apa coba yang meninggalkan istrinya di rumah sendirian,” gerutu Averyl.