Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Arsya Rindu Papi


__ADS_3

“Tapi kenapa Mami tidak pernah ikut main bersama Papi dan Arsya. Sementara bersama Dady Mami selalu senang bermain. Kalau Mami enggak suka sama Papi enggak papa, Arsya enggak mau lagi ketemu Papi.”


“Tidak sayang, jangan berbicara seperti itu. Mami senang melihat Arsya bermain dengan Papi, tapi ada hal yang belum bisa Arsya mengerti tentang Mami dan Papi.” Ada perasaan aneh yang menyelusup ke hatinya saat menyebutkan kata ‘Mami dan Papi'. 


*** 


Sudah dua hari ini Alana pulang malam, tubuhnya benar-benar lelah. Pukul Sembilan ia baru saja tiba di rumah, ada masalah kecil yang cukup menguras pikiran dan waktunya. 


Alana berjalan membuka pintu kamar Arsya. Senyum mengembang di wajah lelahnya, ia berjalan mendekati tempat tidur Arsya. Di kecupnya kening Arsya sebelum ia kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya.


Setelah membersihkan tubuhnya Alana memilih tidur tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Matanya benar-benar  lelah seharian ini fulltime di depan komputer.


Sinar mentari menyambut pagi Alana, ia mengerjapkan matanya saat sinar mentari masuk lewat celah gorden yang tidak tertutup rapat. 

__ADS_1


Alana membalikkan tubuhnya untuk melihat jam, dia terkejut melihat jam di kamarnya menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia bangkit dan bergegas ke kamar mandi, untuk segera bersiap ke kantor sebelum dirinya benar-benar terlambat.


“Mami.”


Mendengar panggilan dari Arsya Alana membalikkan tubuhnya, “Iya kenapa sayang?”


“Papi kok lama, Arsya sudah enggak sabar ingin main sama Papi.” 


Alana tersenyum dan membelai pipi Arsya, pagi ini anaknya tampak sedih karena merindukan Jordan. “Papi masih kerja, Arsya tunggu aja. Sekarang Mami harus berangkat  dulu.”


Air mata Arsya turun melihat tubuh Alana hilang di balik pintu, “Bibi Arsya ingin main sama Papi,” keluh Arsya pada pengasuhnya.


“Nanti yah main sama Papi, sekarang main sama bibi aja.”

__ADS_1


Arsya menggelengkan kepalanya. “Arsya mau main sama Papi,” ucap Arsya dengan raut wajah sedih.


Seharian itu wajah Arsya tidak bersemangat, ia hanya menonton televisi. Makan siangnya tidak di habiskan Arsya merindukan perhatian Jordan, “Papi,” lirih Arsya.


Pengasuhnya merasa kasihan melihat wajah tuan kecilnya tampak lesu. Ia sudah beberapa kali membujuk Arsya untuk bermain. Tapi semua ajakannya di tolak Arsya dengan jawaban, “Arsya mau mainnya sama Papi.”


Arsya yang sedang menonton kartun bersorak gembira mendapati kedatangan Alana,  ia berlari memeluk kaki Alana. “Mami telepon Papi, Arsya mau minta Papi ke sini. Arsya mau main sama Papi.”


Perut Alana sakit seharian ini, dia melewatkan sarapan pagi. Saat jam makan siang pun ia hanya memakan biskuit. Mendengar rengek anaknya Alana, berusaha memberikan sisa tenaganya. “Mami enggak punya nomor Papi. Nanti Papi pasti ke sini bawa mainan banyak.”


“Enggak mau, Arsya maunya sekarang.” Arsya sudah tidak sabar, dia benar-benar merindukan Jordan.


Alana menghela nafasnya, rasa pusing di kepalanya cukup membuatnya sedikit kepayahan untuk berpikir. “Hari minggu Papi libur, ia akan ke sini.” Hanya jawaban itu yang Alana bisa pikirkan, kepalanya buntu.

__ADS_1


Arsya mengerucutkan bibirnya, ia kesal mendapati Alana yang tidak mengerti keinginannya. “Pokoknya Arsya mau Papi sekarang.”


Pusing dan sakit di bagian perutnya serta lelah tubuhnya membuat Alana tidak bisa mengontrol emosinya. Saat ini dia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Tetapi malah mendapati rengekan Arsya yang ingin bertemu Jordan.  “Papi masih kerja … Mami mau istirahat dulu yah.”


__ADS_2