
Pintu ruangan kerja Eduard terbuka, menampilkan Simon yang masuk di ikuti seorang wanita yang tampak awet muda. Di usianya yang hampir kepala lima ia masih tampak cantik dengan gaun yang di desain khusus oleh desainer ternama. Tas serta sepatu yang di pakainya pun menunjukkan betapa kayanya wanita tersebut.
Eduard bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan tamu yang tak di undang. “Selamat datang Nyonya Namira.” Wanita yang di panggil Namira oleh Eduard hanya tersenyum kecut.
“Jangan pernah kau dekati Averyl, dia tidak pantas untukmu!” ucap Namira tanpa berbasa-basi. “Duduklah dulu Nyonya, jangan terburu-buru.” Namira duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Eduard. “Jauhi Averyl!”
“Kau sebut aku tidak pantas untuk Averyl? ... Kasta kita sama, aku dan Averyl sama-sama anak dari hasil perselingkuhan.” Bayi kecil yang dulu di buang Namira kini tumbuh besar dan berani melawan, Namira tersenyum sinis. “Tidak sama, kau lahir dari seorang wanita pelacur!”
Eduard tidak menyangka wanita tua yang akan menjadi mertuanya ini seperti nenek lampir. “Lalu kau sebut dirimu apa? ... Wanita yang berselingkuh di belakang suaminya lalu menghasilkan anak, dan membuang anaknya, lalu dengan teganya membuang anak dari hasil perselingkuhan suaminya ke dalam dunia hitam.”
“Kau pantas mendapatkan itu!” Mendengar kalimat yang luar biasa egoisnya Eduard sudah tidak tahan lagi. “Kalau aku pantas mendapatkan perlakuan jahatmu, aku rasa Averyl pun pantas mendapatkan perlakuan jahat dariku.” Eduard menyesap minuman yang baru saja di hidangan oleh office boy.
***
“Berani-beraninya kau tidur dengan Eduard tanpa sepengetahuanku!” bentak Arsya.
“Tidak, itu hanya akal-akalan Eduard saja. Kami tidak melakukan apa pun,” jadwal Averyl cepat, tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
“Bohong.”
__ADS_1
“Saya tidak bohong Tuan, kami hanya ci-“ Averyl mengatupkan bibirnya. Ia hampir saja keceplosan.
“Hanya apa?”
Tatapan Arsya yang mengintimidasi membuat rasa takut dalam diri Averyl muncul ke permukaan. “Ciuman, tidak lebih seperti di foto itu,” Averyl memilih jujur. Ia tahu Arsya paling tidak suka di bohongi.
Arsya menahan tawa yang hampir keluar dari mulutnya. “Bagus pertahananmu bisa menolak raja se*ks. Jangan sekali-kali tidur lagi dengannya kalau tidak ingin hamil seperti dulu.”
Averyl terkejut mendengar penuturan kalimat terakhir Arsya. “Tuan mengetahui masalah itu?”
Arsya tersenyum. “Ya jelas aku tahu, aku ini atasanmu. Kau tahu betapa frustrasinya Eduard saat dokter menyatakan kau keguguran. Dia sampai memukul wajahku, dan menuduhku sebagai dalang dari keguguranmu.”
“Tapi saya tidak mencintainya.”
“Benarkah, lalu kenapa kalian berciuman?”
Averyl terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Ia baru sadar mengapa mereka berciuman jika Averyl tidak jatuh cinta pada Eduard. Jantung Averyl berdetak kencang seperti semalam. Tidak, tidak mungkin aku sampai jatuh cinta pada Eduard.
“Akui saja Averyl!”
__ADS_1
“Tuan permisi aku harus kembali bekerja.” Averyl memilih lari dari hadapan Arsya. Ia tidak ingin Arsya terus memojokkan dirinya.
Averyl baru saja sampai di meja kerjanya dering telepon kantor berbunyi.
[Selamat pagi Bu Averyl]
“Iya selamat pagi,” jawab Averyl.
[Ibu ada seorang pria bernama Abimanyu menunggu ibu di resepsionis]
“Baik, saya ke bawah sekarang.” Averyl tidak tahu siapa pria tersebut, tapi ia harus memastikan terlebih dahulu takut ada hal penting. Dengan langkah yang sedikit tergesa Averyl berjalan menuju resepsionis.
Seorang pria tiba-tiba menghampiri Averyl. “Nona Averyl?” Averyl mengangguk sebagai jawaban. “Anda siapa?”
“Perkenalkan saya Abimanyu sopir baru Tuan Gumelar. Saya di minta untuk menjemput Nona, karena Tuan Gumelar mengalami kecelakaan.”
Averyl terkejut mendengar hal tersebut. Ini kali pertama ia mendapat kabar papanya kecelakaan. “Sekarang Tuan Gumelar di mana?”
“Di rumah sakit, mari Nona ikut saya.” Tanpa pikir panjang Averyl mengikuti pria tersebut menuju mobil. Namun saat ia hendak masuk ada pria dari dalam yang tiba-tiba menariknya dan membekap Averyl dengan sapu tangan yang di beri obat bius hingga Averyl tidak sadarkan diri.
__ADS_1