Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Selamat Datang


__ADS_3

“Ed-eduard.”


Eduard tersenyum, ia memberikan rangkaian bunga mawar yang ia siapkan.


Manik Averyl memandang bunga tersebut sebentar lalu memandang wajah Eduard lekat-lekat. “Aku alergi bunga,” jawab Averyl sembarangan.


“Benarkah?”


Averyl mengangguk. Ia memperhatikan Eduard yang membuang bunga tersebut ke tempat sampah.


“Semoga kamu enggak alergi dengan kehadiranku.”


Averyl melangkah keluar dari ambang pintu. Menutup pintu kamarnya lalu berjalan melewati Eduard.


Eduard berbalik badan, menatap punggung Averyl. Ia berjalan dengan cepat lalu menghentikan langkah Averyl dengan pelukannya dari belakang.


Jantung Averyl berdetak begitu cepat, keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya. Kilasan perlakuan kasar Eduard berputar di kepalanya.


Eduard yang merasakan perubahan dari tubuh Averyl yang menegang segera melepaskan pelukannya. “Maaf,” lirih Eduard.


Eduard berbalik arah menuju halaman belakang rumahnya. Dengan kasar Eduard menyisir rambutnya menggunakan jari tangan. Rasa bersalah itu masih ada. Bahkan Eduard merasa masa tahanannya masih kurang untuk menebus semua perlakukannya pada Averyl.


Eduard duduk, memandang taman kecil yang di hiasi bunga-bunga serta satu ayunan dewasa. Ia duduk menggerakkan perlahan ayunan tersebut. Pandangannya tertuju pada gazebo, ada rak buku papan tulis serta beberapa alat melukis.


Eduard turun dari ayunan. Ia melangkah menuju gazebo. Meneliti setiap inci, ia tidak menyangka Averyl mengajarkan anak-anak mereka untuk melukis. Hasilnya memang tidak begitu bagus. “Apa mereka mengisi waktu dengan belajar melukis bersama?”


Fiona yang mendengar pertanyaan pelan Ayahnya mencoba menjawab. “Ibu bilang melukis itu banyak manfaatnya. Ayah harus tahu sesuatu, Fiona akan tunjukkan.”


Eduard memperhatikan Fiona yang berjalan menuju tumpukan kanvas. Eduard cukup terkejut melihat kanvas yang di tunjukkan Fiona. “Siapa yang menggambar ini sayang?”


Fiona tersenyum malu-malu. “Tapi Ayah jangan bilang Ibu. Ibu yang buat, bahkan ada banyak foto Ayah yang di buat jadi lukisan oleh Ibu. Tapi ini yang paling bagus.” Fiona meneliti keadaan sekitar, setelah memastikan tidak ada orang lalu berbicara dengan pelan di telinga Eduard. “Sisanya ada di gudang.”


Dari kejauhan Averyl memandang Eduard dan Fiona yang berbicara. Ia ingin tahu apa yang sedang di bicarakan mereka, tapi Averyl belum terbiasa untuk berbicara dengan Eduard. Seperti ada benteng besar di antara mereka.


Averyl terkejut saat ia merasakan seseorang telah menyentuh pundaknya, refleks ia membalikkan badan. “Mami.”

__ADS_1


“Maaf ya, sepertinya kehadiran Mami mengejutkan kamu,” ucap Alana nada bersalah.


Averyl tersenyum menanggapi ucapan Alana. Ia kembali memandang interaksi Eduard dan Fiona.


“Mami harap kalian bisa hidup bahagia selamanya, kalau Eduard berani menyakitimu lagi kamu harus lapor sama Mami ya,” pinta Alana.


“Iya Mam.”


“Fiona baru sudah sampai, mari kita makan bersama ... Boleh mami minta tolong untuk panggilkan Eduard dan Fiona?”


Averyl tahu ibu mertuanya ingin membantunya untuk melawan rasa takut yang ada dalam diri averyl.


“Iya Mam.” Averyl berjalan menuju gazebo. Pipinya bersemu merah saat melihat lukisan yang ada di tangan Eduard.


Eduard yang menyadari kehadiran Averyl menoleh, “Lukisannya bagus aku suka.”


Senyuman Eduard sedikit menggemparkan jantung Averyl. “Mami menunggu kita di ruang makan,” ucap Averyl pelan lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Eduard dan Fiona.


Eduard memperhatikan Fiona yang menggulung senyum. “Kenapa tersenyum?”


“Lukisannya beneran bagus kok, Ayah senang. Selama ini tidak ada yang pernah melukis wajah Ayah.


Averyl mendengar ucapan Eduard sayup-sayup, ia segera mempercepat langkah kakinya.


Fiona melirik Averyl sebentar lalu mendekat ke telinga Eduard. “Ayah berhasil membuat Ibu menahan malu,” bisik Fiona.


Eduard memandang tubuh Averyl uang kini sudah masuk ke dalam rumah.


“Kalau begitu besok Ayah juga akan berhasil membuat ibu jatuh cinta.”


Ucapan percaya diri Eduard menimbulkan kerutan di dahi Fiona. “Kenapa harus membuat ibu jatuh cinta, Fiona rasa ibu memang mencintai Ayah.”


“Benarkah?”


Fiona kembali menumpuk lukisan yang berceceran. “Iya, papa bilang seperti itu waktu ada om-om yang mendekati Mami Fio marah besar dan mogok makan. Fio akhirnya di bujuk papa, papa bilang Ibu tidak akan pernah berpaling dari Ayah. Karena ibu cinta sama Ayah, jadi Fio jangan khawatir meskipun om-om itu mendekati Mami.”

__ADS_1


Rasa penasaran Eduard tidak bisa di sembunyikan. Selama ini tidak ada yang pernah bercerita bahwa ada laki-laki yang mendekati Averyl. “Om-om siapa?”


“Temannya Fio Rangga tidak punya ibu, dan sangat dekat dengan ibu. Saat itu dia bilang sama papanya kalau dia mau ibunya Fio juga jadi ibunya Rangga.”


Eduard lekas berdiri dan berjalan setengah berlari menuju rumah.


“Ayah ko Fiona di tinggal!”


Eduard terus berjalan menuju ruang makan, nafasnya sedikit memburu. “Kenapa tidak ada yang bilang padaku, bahwa ada pria yang mendekati Averyl!”


Semua orang yang ada di ruangan tersebut menghentikan aktivitasnya, mata mereka pada Eduard.


Suara Eduard yang terdengar membentak menimbulkan rasa takut dalam diri Averyl.


“Jawab kenapa kalian diam saja!”


Alana yang mulai jengah memberi kode pada Arsya agar membawa Eduard pergi.


Perhatian Alana tertuju pada wajah pucat Averyl. Ia menggenggam tangan Averyl yang bertautan, meremas satu sama lain.


Eduard memberontak dan menolak untuk pergi namun ia mengikuti arah pandangan Arsya. Dengan jelas Eduard melihat rasa takut dalam diri Averyl. Ia pergi dengan rasa penyesalan.


“Averyl,” panggil Alana.


Alana mengambil segelas air untuk Averyl. “Minum dulu sayang.”


Averyl memejamkan matanya, berusaha menenangkan rasa takut dalam dirinya. Tapi ia tidak berhasil, air matanya mengalir. Ia malu jika harus terlihat lemah di depan semua orang, apalagi di depan Filio.


Averyl berlari menuju kamar, menguncinya dengan cepat. Tangannya gemetar bukan main, air matanya terus mengalir.


Ia mengutuk dirinya yang terlalu lemah, itu hanya suara dengan nada tinggi. Bukan sebuah pukulan, kenapa respon tubuhnya sangat berlebihan.


Tangan Averyl memukul-mukul lantai, meluapkan rasa kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan untuk semua orang tapi kenapa selemah ini tubuhnya merespon ucapan Eduard.


Arsya memandang Eduard dengan raut wajah kecewa. Alana yang mengusul pun memberikan tatapan yang sama.

__ADS_1


“Mami rasa sebaiknya kalian berpisah saja!”


__ADS_2