Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Lepaskan!


__ADS_3

Averyl kini tampak cantik dengan riasan makeup yang membuatnya terlihat bagaikan seorang putri. Mahkota yang berkilap di kepalanya terlihat indah dan mewah. Gaun pernikahan terlihat anggun dan sederhana tapi mampu membuat orang tahu berapa harga gaun tersebut. Yang pasti bukan orang sembarangan yang memesan gaun dari butik terkenal dengan ciri khas yang menonjol pada design-nya.


Gumelar yang melihat kecantikan putrinya tersenyum bahagia. Bagaimana tidak Averyl terlihat sangat cantik sekali, dan ia akan mendapatkan bonus tambahan dari menantunya.


“Cepat Averyl!”


Mendengar perintah sang Papa, Averyl berjalan dengan sangat perlahan. Tatapannya bertemu dengan adik tirinya, yang tersenyum mengejek. Sementara istri Gumelar tampak tak acuh pada Averyl, yang ada di kepalanya ialah saldo ATM-nya akan membengkak dan ia bisa shopping sepuasnya tanpa takut uangnya akan habis.


Selama di perjalanan Averyl diam memikirkan cara untuk kabur. Di liriknya Gumelar yang tengah duduk di kursi depan tampak fokus pada layar ponselnya. Sementara Averyl duduk di belakang sendirian.


Satu cara yang terlintas di kepalanya adalah keluar dari mobil dengan melompat. Tetapi yang ada badannya akan remuk, dan ia akan kesulitan untuk berlari. Kepala Averyl menggeleng perlahan, ia tidak mungkin melancarkan ide gila tersebut.


“Ada apa kau geleng-geleng?”


Manik Averyl bertemu dengan bola hitam tegas milik Gumelar. “Pa aku tidak tahan ingin buang air kecil, makanya aku geleng-geleng kepala.”


“Alasan!”


“Ya sudah Averyl buang air kecil di sini saja. Jadi mobil Papa dan gaun yang Averyl kenakan basah. Terus pernikahan ini batal,” ujar Averyl dengan senyum gembiranya.


Tidak ingin itu terjadi Gumelar memerintahkan kepada supirnya untuk mengabulkan keinginan Averyl. Tidak lama sang super menghentikan mobilnya. Avery bersorak gembira di dalam hatinya.

__ADS_1


Ia turun di ikuti oleh Gumelar di belakangnya. Tidak masalah menurut Averyl, yang penting saat ini ia mencari celah supaya bisa lari.


Mereka berjalan beriringan menuju toilet. Averyl masuk ke dalam, tapi ia tidak benar-benar buang air kecil. Ia memandangi wajahnya dengan serius sambil memikirkan cara untuk lari.


Sudah lima menit berlalu tapi kepala Averyl tidak bisa di ajak kerja sama. Isi kepalanya berantakan, sampai suara ketukan di pintu pun tidak ada satu ide pun yang bisa membuatnya pergi.


“Cepat Averyl!” teriak Gumelar. Ia melanjutkan aktivitasnya untuk mengecek kondisi di lokasi pernikahan Averyl melalui ponselnya.


Ketukan tersebut semakin kencang, akhirnya Averyl memilih menyerah dan keluar dari toilet.


“Kau sengaja memperlambat pernikahanmu?” tuduhan Gumelar tidak salah tapi tidak mungkin Averyl mengakui itu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Averyl memandangi ponsel Gumelar yang berada tepat di bawah gaunnya, beruntung otaknya sedikit cerdas. Ia menendang ponsel Gumelar dengan sangat kuat hingga terlempar beberapa meter.


Gumelar yang setengah berjongkok kembali berdiri dengan mata memerah. “Beraninya kau!”


“Aku tidak sengaja,” ujar Averyl tanpa merasa bersalah.


Dering ponsel Gumelar berhasil menarik perhatian sang pemilik. Ia berjalan untuk mengambil ponselnya, kesempatan tersebut di gunakan dengan baik oleh Averyl ia melepas sepatu hak tingginya dan berlari secepat mungkin.


Ia berlari tak tentu arah karena sopir Gumelar mengejarnya. Ia menyeberang tanpa melihat kanan kiri, mobil yang melintas terkejut membunyikan klakson mobil dan menekan pedal rem.

__ADS_1


Kaki Averyl berhenti, ia melirik ke arah kanan ada sebuah mobil yang berhenti di depannya dengan jarak sepuluh centimeter.


“Nona tunggu,” teriak supir Gumelar dari kejauhan.


Averyl yang melihat itu hendak berlari kembali namun pergelangan tangannya di tahan oleh seseorang. Ia membalikkan tubuhnya dan terkejut mendapati tatapan tajam pria yang ia kenal dengan nama, “Eduard.”


Eduard tersenyum sinis, “Rupanya kau masih mengingat namaku.”


“Lepaskan aku, aku harus pergi,” ujar Averyl mencoba menarik tangannya. Namun tampaknya Eduard malah mengeratkan cengkeramannya.


Averyl menengok ke arah supir Gumelar yang semakin mendekat. “Lepaskan aku mohon, kali ini saja.”


Eduard memperhatikan tubuh Averyl dari atas hingga ke bawah, ia terkejut mendapati Averyl memakai gaun pengantin. “Berani-beraninya kau menikah dengan pria lain setelah melenyapkan darah dagingku!”


💕💕💕


Selamat pagi, semoga kalian sehat selalu di tengah pandemi yang tidak ada habisnya. Apalagi sekarang ada Umicron.


Silahkan pilih Averyl mau penderitaan yang mana, dengan pria tua bangka atau bersama Eduard?


Ada yang mau bantu Averyl untuk memilih? tulis di kolom komentar ya 💕

__ADS_1


__ADS_2