Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Terpaksa


__ADS_3

“Kau bisa bersantai di sini sementara wanita yang katanya kau cintai hampir di perkosa,” sindir Eduard.


Alana yang baru saja datang cukup terkejut mendengar penuturan Eduard. Ia menghampiri Eduard dan menepuk pundak putranya. “Sekarang bagaimana keadaan Averyl?”


Eduard membalikkan tubuhnya menatap Alana. “Averyl tidak baik-baik saja Mam,” jawab Eduard pelan menahan sakit di hatinya.


Alana mengelus bahu Eduard. “Pulanglah, Averyl lebih membutuhkanmu.”


Arsya, Jordan, dan Alana menatap kepergian Eduard. Alana mengalihkan perhatiannya dari punggung Eduard yang batu saja hilang di balik pintu, ia menatap Arsya. “Kenapa kamu diam saja Arsya saat Averyl menghilang?”


“Untuk apa aku repot-repot mencarinya, Eduard pasti dengan mudah menemukan Averyl,” jawab Arsya.


“Jadi kamu cemburu?” Jordan tersenyum jahil.


“Tidak sama sekali,” jawab Arsya dan berlalu pergi.

__ADS_1


“Bagus kalau tidak cemburu, jadi kamu tidak memiliki alasan untuk memolak perjodohan,” ujar Jordan setengah berteriak supaya Arsya mendengar.


Alana memperhatikan Arsya yang tidak peduli dengan ucapan Jordan. “Papi serius mau jodohkan Arsya?” Tanya Alana setelah Arsya benar-benar menghilang dari pandangannya.


“Tidak, tapi kalau tidak di gertak seperti itu mana mau dia cari pasangan. Kalau terus menerus memikirkan masa lalu, kita tidak akan pernah mendapat cucu dari Arsya.” Alana hanya diam, tidak menanggapi ucapan suaminya. Apa yang di katakan Jordan benar adanya, Arsya tidak bisa move-on.


Jordan menarik tangan Alana ke dalam genggamannya. “Kalau Arsya tidak memberi kita cucu, alangkah lebih baik kalau kita tambah anak lagi.” Alana yang mendengar ucapan Jordan yang menyebalkan memilih menarik tangannya dan meninggalkan Jordan sendiri.


“Ayok sayang, kita bisa memulainya dari malam ini.” Alana yang merasa jengah menghentikan langkahnya dan menatap tajam. “Papi mau tidur di luar dalam jangka waktu yang tidak di tentukan?” Jordan menggeleng dengan wajah yang merajuk, “Jangan dong Mam.”


Eduard masuk ke dalam kamarnya. Terlihat seseorang tidur di atas tempat tidur milik Eduard. Eduard berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Ia memperhatikan wajah Averyl yang sembab.


Eduard membelai pipi Averyl. Ada rasa sakit yang tampak jelas saat membayangkan wajah Averyl yang sedang menangis. “Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik.”


Eduard bangkit dari duduknya, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Aktivitas memberikan tubuhnya sudah selesai. Eduard keluar dengan pakaian tidurnya. Ia terkejut mendapati Averyl yang berada di depan pintu kamar mandi. “Ada apa?”

__ADS_1


“Perutku kelaparan,” ucap Averyl jujur. Eduard mengacak puncak kepala Averyl. “Ayok kita makan,” ujar Eduard. Ia meraih tangan Averyl ke dalam genggamannya lalu berjalan keluar kamar. Sementara Averyl hanya memandang tangannya yang di genggaman Eduard. Akhir-akhir ini Averyl selalu merasakan debaran di jantungnya. Ia merasa harus memeriksakan kondisi jantungnya ke dokter.


Averyl dan Eduard makan dengan tenang. Makanan Averyl habis lebih dulu. Ia menaruh sendok serta garpu di atas piring lalu memandang Eduard. “Apa semua ini ulah Gumelar yang ingin menjual tubuhku lagi?”


Eduard menghentikan gerakannya yang sedang memotong daging. “Memangnya Gumelar pernah menjualmu? tapi saat aku bermain denganmu aku rasa itu pertama kalinya untukmu.”


“Saat itu aku berhasil kabur ... Tolong jawab pertanyaanku barusan?”


Akhirnya Eduard ikut menghentikan aktivitas makannya. Ia memandang Averyl dengan serius. Menimang-nimang jawaban yang harus ia katakan pada Averyl. “Bukan Gumelar, aku masih mencari tahu siapa pelakunya.”


Raut wajah Averyl tampak berpikir. Eduard kembali mengajukan pertanyaan, “Kenapa orang tuamu tega menjualmu?”


Averyl tersenyum sinis. “Seharusnya aku tidak pernah hidup. Begitu kata ibu tiriku.” Meskipun wajah Averyl tampak acuh, tapi Eduard tahu kata-kata itu menyakiti hati Averyl.


“Ibu tiri? Memangnya siapa ibu kandungmu?” pertanyaan Eduard di jawab gelengan kepala oleh Averyl. “Kata ibu tiriku Gumelar pernah berselingkuh dengan wanita penghibur. Wanita itu hamil dan meminta pertanggung jawaban. Tapi ibu tiriku tidak mau, kalau sampai itu terjadi dia memilih bercerai. Akhirnya dengan terpaksa ibu tiriku harus rela aku ada di kehidupan mereka.”

__ADS_1


“Picik sekali mereka, tunggu saja tanggal mainnya. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang karena telah berani menyakiti calon istriku,” batin Eduard.


__ADS_2