
Di atas kursi roda, tubuh Jordan di penuhi keringat.
Sudah empat tahun lamanya dia tidak pernah mengingat dengan jelas kejadian yang merenggut nyawa adik kesayangannya.
Tangannya mengepal, kelopak matanya terbuka dengan sempurna.
Karena kebodohan dan keegoisannya, Jordan telah menghilangkan tiga nyawa dalam satu waktu.
Jordan masih ingat betul semua orang menyalakan dirinya, mengatai-nya seorang pembunuh.
Bukan hanya satu orang, bahkan semua keluarga besar Anderson menyalahkan dirinya. Hanya orang tuanya yang tidak menyalahkan dirinya.
Karena setelah kejadian itu Jordan menutup diri, rasa ketakutan itu selalu menghantui.
Ledakan besar itu setiap hari datang di mimpinya, bahkan dia bermimpi orang-orang di dalam mobil itu berteriak meminta tolong.
Yang lebih menyakitkan adalah, adiknya Jordan tersenyum tanpa rasa benci kepadanya.
Di saat semua orang menyalahkan dirinya adiknya yang menjadi korban malah tersenyum di mimpi itu.
Sampai saat ini Jordan tidak tahu arti dari senyum yang di tunjukkan adiknya, dalam mimpi itu.
Air yang menggenang di kelopak mata Jordan sudah tidak bisa dia bendungan lagi, buliran air itu turun membasahi rahang tegas Jordan.
Hatinya sakit, semua ini bukan keinginannya. Jika saja waktu bisa di putar, mungkin Jordan akan berlari menyelamatkan semua orang yang ada di dalam mobil itu.
Sayangnya trauma pada api itu malah membuatnya kehilangan kesadaran. Jordan tidak bisa menolong mereka.
Dadanya serasa di hantam oleh balok keras, sakit tapi tidak berdarah.
Jordan menghapus air matanya. Dia mengatur nafasnya, lalu menelepon Nik agar masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
***
Alana berjalan dengan langkah gontai menuju apartemen milik Arvan, dengan air mata yang terus mengalir.
Dia masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dengan posisi meringkuk Alana memejamkan matanya, semua terasa menyakitkan.
Mungkin jika dirinya mendengar alasan Jordan, sudah bisa Alana pastikan bahwa dia akan luluh dan terjebak di dalam genggaman pria itu.
Untuk kali ini dia ingin egois, hidupnya sudah cukup menderita, dan kini pria yang dia cintai adalah orang yang berhasil bebas tanpa merasakan dinginnya di balik jeruji atas perbuatannya.
Alana terkejut saat merasakan tangan yang membelai rambutnya. Dia membalikkan tubuhnya, untuk melihat siapa pemilik lengan kekar itu.
“Arvan,” panggil Alana. Dia terkejut dengan kehadiran Arvan di kamarnya.
Arvan menampilkan senyum miliknya, ada rasa sakit melihat wanita di depannya berlinang air mata.
“Kenapa kau masih di sini, bukankah,“ Alana menghentikan ucapannya karena telunjuk Arvan berada tepat di atas bibirnya.
“Ssst, aku baru saja naik ke mobil. Tapi aku melihatmu menangis saat turun dari taksi.“
Alana menundukkan kepalanya. Alana tidak habis pikir dengan sikap Arvan yang seperti memprioritaskan dirinya.
“Bolehkah aku ikut denganmu ke Italia?“ ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Arvan menganggukkan kepala, “Bersiaplah, aku tunggu di depan.”
“Terima kasih,” Ucap Alana dengan senyum mengembang dari bibirnya.
***
__ADS_1
Setelah mengurus paspor miliknya, Alana meminta waktu pada Arvan. Dia ingin melihat makam kedua orang tuanya, sebelum Alana pergi ke Italia.
Setelah sampai di area pemakaman, Alana turun dari mobil.
“Aku berjanji tidak akan lama,” Ucap Alana.
Alana berjalan menuju makan kedua orang tuanya.
Dari kejauhan Alana melihat seorang pria yang duduk di kursi roda, berada tepat di antara kedua makam orang tuanya.
Dan seorang pria yang berdiri tidak jauh, dari pria yang duduk di kursi roda.
“Mereka siapa?” tanya Alana dengan raut wajah kebingungan. Seingatnya dia tidak memiliki saudara yang harus duduk di kursi roda.
Saat jarak mereka tinggal 5 meter, Alana menghentikan langkahnya.
Alana memperhatikan dua pria tersebut dengan seksama. Jantung berdebar, setelah mengamati dua pria tersebut.
Alana sudah tau siapa pria itu, ‘Jordan dan Nik'
Alana mengurungkan niatnya, dia memutar tubuhnya dan berlari dengan cepat. Dia tidak ingin bertemu dengan dua pria yang membuat hidupnya menderita.
Arvan terkejut melihat Alana yang tiba-tiba masuk ke mobilnya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, bahkan kepergian Alana baru sekitar 10 menit yang lalu.
“Sudah selesai?” tanya Arvan berbasa-basi. Karena Alana tidak membuka suaranya.
“Sudah, kita jalan sekarang.” Ucap Alana tanpa menoleh pada Arvan.
Arvan tidak ambil pusing dengan sikap Alana, mungkin wanita di samping sedang tidak ingin berbicara banyak.
“Jalan sekarang!”
__ADS_1
“Baik, Lord.”