Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Hari Lahir


__ADS_3

Pagi itu Averyl bangun dari tidurnya. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Hari libur memang paling menyenangkan, tapi Averyl tidak bisa bebas dari tugasnya untuk hari ini. Ia bangkit dari tempat tidur. Pandangannya tertuju pada buku nikah dan kartu penduduknya yang berbuah status seketika.


Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya. Rasanya Averyl malas bertemu siapa pun hari ini. Buku nikah itu mengacaukan mood-nya.


Dengan sedikit paksaan tubuh Averyl melangkah ke kamar mandi dengan langkah pelan. Averyl tidak membutuhkan waktu lama hanya untuk mandi. Setelah semuanya siap Averyl turun ke basemen dan naik ke mobil. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, kali ini ia tidak terburu-buru karena waktunya masih cukup.


Averyl telah sampai di kediaman orang tua Arsya. Ia turun dari mobil, tersenyum pada penjaga gerbang lalu masuk.


Di halaman depan Arsya menyambut kedatangan Averyl dengan senyuman. “Cepat sekali sampainya. Sudah tidak sabar bertemu dengan Eduard?”


“Aku sedang tidak ingin bercanda Tuan,” jawab Averyl jujur.


Alana berjalan menghampiri Averyl dan Arsya. “Averyl sudah sampai, bantu mami siapkan semuanya yuk,” pinta Alana.


Averyl tersenyum dan mengangguk. Ia berjalan mengikuti Alana ke dapur. Averyl cukup terpana dengan hidangan yang berjejer rapi.


“Bantu Mami untuk menata makanan ini di meja makan.” Averyl menyanggupi. Ia mulai membantu Alana.


Averyl melirik Arsya yang tiba-tiba duduk di kursi meja makan. “Semuanya sudah siap?”

__ADS_1


“Hampir selesai,” jawab Alana.


“Baiklah aku akan menelpon Eduard sekarang.” Arsya mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi nomor Eduard. “Hallo Ed,” sapa Arsya.


[Ada apa?]


Dari suaranya Arsya tahu, Eduard baru saja terbangun dari tidurnya. “Aku lupa memberi tahu bahwa hari ini aku akan melamar Averyl. Kami tunggu kedatanganmu di rumah. Jangan terlambat Ed!” Arsya sengaja mematikan teleponnya sepihak supaya Eduard semakin kesal. “Ayok bersiap, aku yakin lima belas menit lagi Eduard sampai.”  


***


Eduard menatap layar ponselnya yang mati. Rasa kantuk masih menyelimutinya, karena semalam ia harus mengecek beberapa pekerjaan. Baru saja kelopak mata Eduard menutup, dalam hitungan detik terbuka kembali saat ia baru menyadari ucapan Arsya yang ingin melar Averyl. “Sialan, ini tidak bisa di biarkan.”


Eduard melompat dari tempat tidur. Ia berlari ke kamar mandi. Dengan kecepatan kilat Eduard mandi dan berpakaian dalam sepuluh menit. Ia berlari ke garasi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan di luar batas. Beruntung jalanan masih lenggang, sehingga Eduard tidak terlalu banyak mendapat bunyi klakson dari orang-orang yang kesal dengan cara mengemudi Eduard yang sembarangan menyalip.


Eduard membuka pintu kediaman Jordan. Ia cukup terkejut dengan pemandangan yang di luar dugaannya. Averyl tampak cantik mengenakan gaun sederhana seraya membawa kue ulang tahun di tangannya. Arsya, Jordan serta Alana berjejer rapi di samping Averyl. Mereka mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Eduard.


Eduard yang terkejut hanya terpaku di tempatnya. Setelah nyanyian selesai Eduard di minta untuk meniup lilin. Eduard melangkah dan berdiri tepat di hadapan Averyl. Lilin yang ada di kue tersebut mati, Arsya lebih dulu menghampiri Eduard. “Ah rasanya aku belum puas melihat wajah cemburumu, tapi bagaimana lagi. Semuanya sudah berakhir.”


Setelah tahu semua ini hanya sandiwara Eduard menepuk pundak Arsya. “Mau pukulan di bagian mana?”

__ADS_1


“Bukannya berterima kasih malah mau memukulku. Ini semua ideku, supaya kalian lebih dekat.”


“Lebih dekat apanya, kau mengacaukan pernikahanku dengan Averyl.”


“Anggap saja ini balas dendamku, karena kau merebut perhatian Papi.” Eduard yang tahu maksud ucapan Arsya segera menghampiri Arsya dan merangkulnya. “Sorry.”


“Ya, tidak masalah. Setidaknya aku sudah puas membalaskan dendamku. Sebagai gantinya ini hadiah untukmu,” Arsya mengeluarkan kotak beludru dari dalam sakunya.


Eduard menerima kotak  dari Arsya. Ia mengerutkan keningnya saat membuka kotak tersebut berisi cincin. Eduard memandang Arsya meminta penjelasan. “Karena aku mengacaukan pernikahanmu, sebagai gantinya aku berikan cincin untuk melamar Averyl.”


Averyl mengambil tasnya yang ia simpan di kursi. Lalu menghadap Jordan dan Alana. “Tuan, Nyonya. Saya permisi.” Averyl berjalan cepat meninggalkan Arsya, Jordan dan Alana yang masih mematung di tempatnya. Mereka tidak mengerti mengapa Averyl pergi begitu saja. Bahkan mengabaikan panggilan Arsya.


Eduard yang mengerti mengapa Averyl pergi langsung berlari untuk menyusul. “Eduard ada apa?” Tanya Alana.


“Nanti Eduard jelaskan Mam,” jawab Eduard setengah berteriak tanpa menghentikan langkahnya.


 ***


Harusnya kalian udah tahu sih siapa pelaku yang bikin buku nikah Averyl.

__ADS_1


Semoga hari ini aku bisa nambah 1 part lagi ya. Tapi aku gak bisa janji.


Jangan lupa like dan komentarnya, supaya aku lebih semangat 💕


__ADS_2