Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Kembali


__ADS_3

“Masa tahanan Eduard sudah selesai. Besok dia bebas.”


“Papa enggak bohongkan, besok Ayah pulang?”


“Lagi pula Papa tidak pernah berbohong.”


Filio menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Papa pernah berbohong, bilang mau membawa Fio bertemu Ayah. Tapi buktinya Fio di tinggal,” protes Filio.


“Papa meninggalkan Fio karena Ibu mengancam Papa.”


“Jangan mengada-ada Arsya,” ujar Averyl dengan penuh penekanan.


Filio berjalan mendekati Averyl, dan memeluk lengan ibunya. “Kenapa Fio dan Fiona tidak boleh bertemu Ayah?”


Averyl mengusap puncak kepala Filio, putra pertamanya. “Besok Fio bisa bertemu Ayah, dan ibu tidak akan melarang lagi.”


Setelah melahirkan lima tahun yang lalu, Averyl tidak pernah membiarkan anak-anaknya bertemu Eduard. Ia merasa ini hukuman yang pantas, bagaimana pun Averyl harus memastikan bahwa Eduard bisa memegang ucapannya. Dan tidak akan membahayakan keluarga kecilnya lagi.


Fiona yang sejak tadi menguping di balik dinding akhirnya memilih keluar sambil tersenyum canggung. “Apa Fiona boleh ikut bertemu Ayah?”


Averyl merenggangkan kedua tangannya. Ia tersenyum bahagia saat Fiona memeluknya dengan erat. “Terima kasih Bu,” ucap Filio dan Fiona bersamaan.


“Sama-sama sayang,” Averyl memeluk dengan erat kedua anak kembarnya. Anugerah yang hadir di saat luka yang Eduard torehkan cukup besar.


“Besok pagi, tolong kemari ya Arsya.”


Arsya mengangguk menyanggupi. Selama ini Arsya tahu betapa hancurnya Averyl. Pulang pergi ke psikolog untuk menyembuhkan traumanya, saat mengandung Filio dan Fiona. Dan Arsya sangat tahu jika kabar ini bukanlah hal mudah untuk Averyl.


“Aku menginap saja di sini, boleh?”


Averyl mengangguk. “Silahkan.”


Pagi itu Filio dan Fiona sudah selesai bersiap. Wajah mereka terlihat sangat bersemangat.


“Kalian sudah siap bertemu Ayah?”


“Siap Pa,” jawab Filio.


“Ibu kok tidak keluar kamar?” tanya Fiona.


“Biar Papa berbicara dulu dengan Ibu, kalian tunggu di mobil ya.”


Fiona berjalan menuju pintu keluar, di ikuti Filio. Bukan Filio namanya jika ia tidak menjahili adiknya. Filio menarik kucir rambut Fiona.

__ADS_1


“Fio!” bentak Fiona.


Bukannya takut Filio malah menjulurkan lidahnya dan berlari. Arsya tersenyum melihat tingkah Fiona dan Filio yang menggemaskan. Ada rasa sesal di hatinya, andaikan kecelakaan itu terjadi mungkin ia tidak akan sendirian seperti sekarang. Kesepian, di tinggal pergi oleh istri dan calon bayinya untuk selama-lamanya.


Arsya menghela nafasnya. Ia berjalan menuju kamar Averyl lalu mengetuk pintunya.


“Averyl ayo kita berangkat.”


Averyl membuka pintu dan tersenyum pada Arsya. “Pergi duluan saja, nanti aku menyusul.”


Tebakan Arsya benar, Averyl memintanya kemari karena dia belum siap bertemu Eduard.


“Baiklah kalau begitu aku berangkat ya,” pamit Arsya.


“Titip anak-anak ya.” Averyl senang melihat Arsya tersenyum. Meskipun di balik senyum itu Averyl bisa melihat kesedihan di wajah Arsya.


Averyl masuk kembali ke kamarnya. Pandangannya meneliti setiap penjuru dinding kamarnya yang di penuhi foto Eduard.


Averyl mengambil kotak. Melepaskan satu persatu foto Eduard. Dia tidak ingin Eduard sampai tahu jika fotonya terpanjang cukup banyak di kamar mereka, itu sangat memalukan.


***


Eduard sedang membersihkan tubuhnya. Hari ini adalah hari kebebasannya, dan ia bisa bertemu Averyl berserta anak kembarnya.


Pikiran Eduard melayang jauh, kala mengingat bagaimana ia bisa rela menjalani hukuman yang di jatuhkan Averyl. Mendekam di penjara selama lima tahun sesuatu yang sangat sulit bagi Eduard, tapi ia tidak bisa memilih berpisah dengan Averyl.


Yang sangat Eduard sayangkan adalah kehancurannya, sementara polisi tidak menemukan keterikatan antara pembunuhan ibunya dengan Namira. Nasi sudah menjadi bubur, kini hanya penyesalan yang Eduard rasakan. Setidaknya dengan kesempatan kedua ini ia tidak akan lagi menyia-nyiakan Averyl.


Setelah selesai bersiap, Eduard menandatangani beberapa surat. Semua urusannya sudah selesai Eduard keluar ia terkejut melihat kedua anak kembarnya yang begitu mirip dengan Eduard. Selama ini Averyl tidak memperbolehkan siapa pun mempertemukan anaknya pada Eduard, bahkan sekedar memperlihatkan foto pun tidak boleh.


“Ayah,” teriak Filio sambil berlari menuju Eduard dan memeluknya dengan erat.


Arsya melirik Fiona yang masih berdiam di sampingnya tidak menghampiri Eduard. “Fiona kenapa?” tanya Arsya.


“Ayah kok jelek sih Pa, enggak sama kayak di foto yang Ibu tunjukkan ke Fiona,” ungkap Fiona dengan jujur.


Eduard yang mendengarnya hanya tersenyum. “Sini sayang,” panggil Eduard.


Fiona yang ketakutan memilih bersembunyi di balik tubuh Arsya. “Papa Fiona takut,” lirih Fiona.


“Apaan sih kamu Fiona, penakut banget,” sindir Filio.


Kepala Fiona mengintip dari balik lengan Arsya. Menjulurkan lidahnya untuk mengejek Filio.

__ADS_1


Eduard menarik tangan kecil Filio untuk menghampiri Fiona. Ia menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Fiona. Tangan Eduard mengelus rambut Fiona dengan penuh kasih sayang.


Fiona hanya diam terpaku, meneliti setiap inci wajah Eduard sembari mengingat foto Ayahnya yang Averyl tunjukkan. “Bibir milik Fiona mirip Ibu, cantik,” puji Eduard dengan rasa kagum. Sama persis seperti bibir Averyl.


Pipi Fiona memerah saat mendapat pujian dari Ayahnya. Selama ini tidak ada yang memujinya cantik selain Averyl. Filio selalu berkata bahwa ia jelek, belum lagi Arsya tidak pernah membela saat Filio mengejeknya jelek.


“Ibu tidak ikut?” tanya Eduard pada Fiona.


Kepala Fiona menggeleng. “Tidak, kata Papa Ibu sedang sibuk menata hati so-”


Arsya dengan sigap menutup mulut Fiona. Ia tersenyum kikuk saat Eduard menatapnya. “Averyl sedang memasak makanan yang cukup banyak untuk menyambut kedatanganmu,” ucap Arsya menimpali.


“Papa tidak boleh berbohong, tadi kan Ibu sedang di kamar.”


“Sebaiknya mari kita pulang yang lain pasti sudah menunggu,” ajak Arsya.


“Yang lain siapa Pa?” tanya Fiona penasaran.


“Oma, Opa dan Tante Asyila.”


“Kenapa Tante Asyila harus ikut juga,” keluh Filio.


“Tante Asyila juga ingin ikut menyambut kedatangan Ayah. Memangnya kenapa kalau ada Tante Asyila?”


Bibir Filio mengerucut.


“Kak Fio enggak suka, soalnya Tante Asyila suka mencubit pipinya ka Fio sangat kencang. Sambil ngomong kayak gini. ‘ih menggemaskan ya kamu, mirip banget ka Eduard’ terus habis itu pipinya Fio merah-merah,” ucap Fiona sambil memperagakan cara bicara Asyila.


“Fiona awas ya kamu,” ancam Filio.


Fiona yang takut di jahili Filio memilih berlari menuju mobil.


Filio yang tidak terima di ejek Fiona ikut berlari mengejar Fiona. Sementara Eduard dan Arsya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Filio dan Fiona.


***


Averyl sudah selesai membereskan foto-foto milik Eduard. Ia menyimpannya ke gudang. Averyl kembali ke kamar, maniknya menatap foto bayi Filio dan Fiona. Lalu beralih pada foto Selfi dirinya yang di ciu’m oleh Eduard. Ada rasa senang bercampur kesedihan yang mendalam di hati Averyl. Ini adalah kenangan terindah sebelum semuanya menjadi kenangan yang sangat pahit dalam hidup Averyl.


Air mata Averyl jatuh begitu saja. Dengan cepat ia menghapusnya, Averyl merasa tidak boleh sedih. Ini adalah awal untuk kebahagiaan kehidupannya bersama Eduard dan anak-anak.


Jari Averyl membelai wajah Eduard yang tampak tersenyum. “Semoga kamu bisa menepati janjimu Ed.”


Averyl terkejut saat pintu kamarnya di ketuk. Ia berjalan menghampiri pintu dan membukanya dengan cepat.

__ADS_1


Averyl mengira Alana yang mengetuk pintu, ia menampilkan senyum terbaiknya untuk menutupi sembab di wajahnya. Namun senyum itu memudar saat melihat tubuh Eduard yang berdiri di depan pintu.


“Ed-eduard.”


__ADS_2