Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Surat Perceraian


__ADS_3

Jordan mencekal tangan Alana, karena wanita itu berniat meninggalkannya.


“Lepas!”


Jordan tidak melepaskannya, dia berlutut di hadapan Alana. “Aku mohon maafkan aku Alana, tapi jangan sakiti Arsya seperti ini.”


“Kau egois Jordan, kau tidak memikirkan perasaanku!” Alana berjalan menuju pintu keluar tanpa memedulikan Jordan.


“Aku mencintaimu Alana,” teriak Jordan sebelum Alana keluar dari ruangan itu. Hanya saja pengakuan cintanya di anggap angin lalu oleh Alana.


Jordan menghela nafasnya, dia berjalan mendekat pada tempat tidur Arsya. “Maafkan Papi sayang.”


Jordan merasa gagal, dia tidak bisa meyakinkan Alana bahwa dirinya benar-benar mencintai wanita itu.


Hatinya sakit melihat penolakan yang di berikan Alana dengan tatapan penuh kebencian.


Jordan melipat kedua tangannya dia atas tempat tidur Arsya, dia menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangannya.


Perasaannya sangat kacau, air matanya keluar dari kelopak mata Jordan yang terutup.


“Tuhan, bukakan pintu hatinya untukku. Agar kami bisa kembali bersama, aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi.”


***

__ADS_1


Air mata Alana turun begitu deras, dia mencari kamar mandi untuk mengeluarkan tangisnya. Dia masuk ke dalam bilik toilet.


Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hatinya benar-benar rapuh saat ini.


Dia tahu Arsya membutuhkan sosok seorang ayah seperti Jordan, tapi hatinya belum bisa menerima Jordan seutuhnya.


Alana mencoba mengulang ingatannya kembali tentang semua pertemuan di Indonesia.


Semua yang Alana tangkap dari memori tersebut adalah sikap Jordan yang berubah.


Jika dulu Jordan akan melakukan segala cara sampai melukai orang lain. Tapi selama beberapa pertemuan ini, Jordan selalu berusaha membuat Arsya senang.


Dan Jordan tidak menuntut seperti empat tahun yang lalu. Bahkan dia seperti membebaskan Alana dan Arsya.


Kalimat sederhana yang baru pertama kali Alana dengar, “Aku mencintaimu Alana.” Sesingkat itu tapi cukup berarti di hati Alana.


Empat tahun yang lalu dia berharap Jordan mengakui sebelum dia benar-benar pergi. Tapi apa yang ia dapat, Jordan malah meminta Nik untuk memberikan apa yang di inginkan Alana.


Alana masih ingat betul, betapa hancurnya hati Alana saat itu. Mendapati fakta bahwa dirinya tidak berharga sama sekali bagi Jordan.


Itu yang membuat Alana memilih diam, dan mengurus Arsya sendirian tanpa memberitahu Jordan tentang kehamilannya.


Alana takut Jordan akan bersikap kasar padanya serta pada Arsya. Dia tidak ingin Arsya merasakan apa yang Alana rasakan.

__ADS_1


Tetapi ada bisikan dari hati kecilnya. ‘Enggak Alana, Jordan enggak kasar. Kamu lihat perjuangan Jordan selama 3 tahun setelah melahirkan, dia menahan dirinya untuk tidak bertemu denganmu. Jika Jordan belum berubah dia akan membawa kamu dan Arsya secara paksa setelah tahu kamu melahirkan ... Bahkan setelah bertemu pun Jordan tidak memaksa kamu untuk kembali bersamanya secara paksa, Jordan terlihat lebih santai tanpa mempermasalahkan yang lainnya. Jordan terlihat sangat tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada Arsya bahkan Jordan mampu membujuk Arsya agar bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa bersama dengan alasan Jordan harus bekerja.’


Alana hanya diam mendengarkan isi hatinya, dia mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari hatinya.


Dia jadi teringat surat perceraian yang harusnya dia terima. Alana menghapus air matanya, mengeluarkan ponsel untuk mengecek data kependudukannya.


Di sana masih jelas bahwa Alana masih berstatus menikah. Dia mengecek pengajuan surat cerai yang di batalkan dan surat cerai yang berhasil ke tahap perceraian di bulan tepat ia meminta Nik untuk mengurus surat perceraian mereka.


Namun hasilnya tidak ada, atas pengajuan perceraian atas nama dirinya dan Jordan.


Kening Alana mengerut, dia tidak mengerti dengan semua yang cukup mengejutkan ini.


Jika mereka tidak bercerai itu artinya Nik tidak benar-benar mengajukan perceraian mereka.


“Tapi kenapa Jordan meminta aku agar kembali menjadi istrinya jika status kami masih suami istri?” pertanyaan itu muncul di benak Alana.


Suara nada dering telepon yang terdengar asing menggema di dalam tasnya. Alana terkejut mendapati ponsel Jordan yang dia rampas waktu itu.


Di sana terlihat jelas nama Nik yang menghubungi ponsel itu. Tanpa ragu Alana menerima panggilan itu, dia membutuhkan penjelasan lebih lengkapnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2