
Alana hanya memeluk tubuh Arsya dengan erat, memberikan kenyamanan untuk menenangkan hati anaknya.
Selama ini Alana tahu dia mencari sosok Ayah. Sering beberapa kali dia bertanya soal Arvan yang tidak tinggal bersama.
Mungkin Arsya melihat dari beberapa video yang dia lihat di YouTube yang menggambarkan keseruan seorang keluarga kecil yang bahagia.
Selama ini Alana menitipkan Arsya pada pengasuh jika dia bekerja. Tetapi Alana selalu memantau aktivitas yang di lakukan anaknya.
***
Alana sudah berpakaian rapi untuk segera pergi ke kantor.
Dia melihat Arsya yang masih asyik sarapan di meja makan, dengan tablet yang sedang menayangkan film kartun yang dia sukai.
Alana berjalan menghampiri Arsya memberi kecupan di pipi gembil anaknya.
“Mami berangkat kerja dulu ya sayang,” ucap Alana sambil menampilkan senyum di wajahnya.
Arsya menatap Alana lama, “Iya mam, hati-hati.”
Alana mengacak-acak rambut Arsya sebelum berjalan pergi meninggalkan anaknya.
Di usia Arsya yang menginjak hampir empat tahun, Alana selalu merasa bersyukur di belikan jagoan kecil yang menemani hari-hari sulitnya.
Dia masih ingat betapa terkejut dirinya mengetahui dia sedang mengandung.
__ADS_1
Sementara terakhir dia berhubungan hanya dengan Jordan.
Tidak pernah ada rasa ingin kembali kepada Jordan, mengingat semua perlakuan buruk pria itu padanya.
Alana memang tidak memberitahu Jordan maupun Nik, bahwa dia mengandung.
Selama ini pun Alana tidak pernah bertemu dengan Jordan, setelah empat tahun lalu dia meminta bercerai.
Sembilan bulan saat mengandung Arsya adalah hal tersulit baginya. Dirinya harus membagi waktu untuk bekerja serta kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak baginya.
Dia tidak ingin orang-orang memandang rendah pada dirinya. Sudah cukup penghinaan pria itu menjadi cambuk baginya.
Bahwa dirinya harus bangkit dari ke terpurukan itu. Dia juga tidak ingin menutup mata bahwa selama satu tahun, Arvan banyak membantunya.
Ada satu hal yang Alana tahu tentang Arvan. Pria itu adalah pria yang sangat lembut dan penyayang.
Awalnya dirinya bersikeras untuk ikut, tapi Arvan tidak Memberi ijin.
Saat itu Alana tidak ingin ambil pusing, dari tempatnya dia terus berdoa untuk kebaikan Stella. Wanita yang telah banyak membantunya, dan Alana merasa berhutang budi padanya.
Bukan hanya pada Stella, Alana juga merasa berhutang budi pada Arvan.
Pria yang membantunya dari nol. Saat di Italia itu, Alana tinggal di sebuah apartemen milik Arvan.
Arvan orangnya sibuk, hingga Alana meminta pekerjaan pada Arvan.
__ADS_1
Dia tidak ingin menjadi benalu siapa pun. Dia bekerja keras, menabung uang untuk persalinannya.
Di tahun kedua Alana baru memiliki rumah, rasa senang dan bahagia menyelimuti dirinya.
Bukan hanya menjadi ibu untuk jagoan kecilnya, tetapi Alana mampu mengubah hidupnya lebih baik.
Di saat berjuang untuk mencapai keinginannya, dirinya selalu mengingat Jordan.
Namun dia mencoba mengenyahkan pikiran itu, dia mencoba terus fokus pada kehidupannya yang di jalaninya.
Alana keluar dari mobilnya, dan berjalan memasuki gedung tinggi yang menjadi saksi bisu bagaimana dia meniti karier di negara Italia.
Alana duduk di ruangannya, tidak sia-sia dia mengenyam bangku pendidikan selama 4 tahun.
Karena sekarang dia memiliki posisi yang terbilang tinggi, yaitu sekretaris dari CEO Cyberaya, perusahaan pusat benua Eropa dan Amerika yang di pimpin oleh Arvan.
Jabatan sebagai sekretaris ini baru Alana duduki beberapa bulan lalu.
Helaan nafas keluar dari mulut Alana, saat membaca beberapa email yang masuk.
Yang membuatnya pusing adalah, surat perintah pemindahan tugasnya ke Indonesia.
Untuk menjadi sekretaris CEO di perusahaan pusat Cyberaya di Indonesia.
***
__ADS_1
Aku ucapkan terima kasih untuk kalian semua yang sudah memberikan dukungan, serta sarannya.