
Happy Reading 💕💕💕
Seorang peria dengan setelan jas mahalnya tengah menikmati wine yang ia pesan. Dia adalah Eduard Havelaar, CEO yang memiliki sejuta pesona tersebut tengah melepas penatnya dari berkas-berkas yang menumpuk.
Eduard memilih salah satu klub tempat langganannya. Di sana ada ruangan VIP yang terbuka berada di lantai dua.
Dari ruangan VIP tempat Eduard duduk. Maniknya mengawasi seorang wanita yang duduk di bar yang ada di lantai bawah, wanita tersebut sesekali mengacak-acak rambutnya. Sepertinya wanita itu tengah frustrasi.
Senyum miring tercetak jelas di wajah Eduard, ia melihat seorang pria yang mencoba berinteraksi dengan wanita tersebut. Sepertinya mereka tengah berdebat.
Dengan gaya santainya Eduard menenggak habis wine di gelasnya.
"Tuan apa kau ingin aku menemani malammu?" wanita dengan dress mini, duduk di hadapan Eduard.
Tangan Eduard mengibas, lalu memerintahkan agar wanita itu pergi dari hadapannya.
Melihat pria yang bersitegang dengan wanita tersebut telah pergi. Eduard turun dari kursinya, ia berjalan menuruni tangga dengan perlahan.
Kepulan asap rokok lebih pekat masuk ke dalam indra penciumannya, tidak hanya itu suara dentuman musik yang di mainkan oleh Disc Jockey sedikit memekak di telinga Eduard. Tetapi banyak sekali para penghuni klub tersebut yang tubuhnya meliuk-liuk di bawah lampu disko.
Eduard duduk di samping wanita tersebut. Seorang bartender menawarinya minuman, namun Eduard menolaknya. Ia melirik wanita di sebelahnya, tapi sepertinya wanita tersebut tidak peduli dengan kehadirannya.
Eduard penasaran dengan setelan yang wanita itu pakai. Kemeja kerja yang melekat pada tubuhnya menampilkan beberapa lekukan yang membuat Eduard mereguk salivanya.
Tidak hanya itu, tiga kancing kemeja yang wanita itu pakai tampak terbuka menampilkan gundukan yang menyembul.
Eduard yakin, gundukan itu pasti sangat kenyal jika ia sentuh. Sontak bagian bawahnya sedikit menegang membayangkan tangannya bermain di gundukan tersebut.
'****!'
Rambutnya yang terlihat acak-acakan memuat wanita tersebut mampu menggugah seleranya. Sepertinya Eduard harus mencicipi tubuh wanita tersebut di bawah kungkungan tubuhnya.
"Sepertinya kau butuh teman," ujar Eduard dengan nada santai. Tapi wanita itu tidak merespons.
Wanita yang di ajak berbicara oleh Eduard bernama Averyl. Kesadaran sedikit terganggu karena ia sudah menenggak beberapa gelas wine yang ia pesan.
Menarik, satu kata itu cukup untuk mendeskripsikan wanita yang mengacuhkan Eduard. Sebelumnya dia tidak pernah di acuhkan seperti ini. Jika wanita mendengar suaranya saja, mereka langsung terpesona dengan ketampanan Eduard.
__ADS_1
Bartender tadi memberikan pesanan pada Averyl yang duduk di sampingnya. Averyl menenggak minumannya sampai tandas tanpa bersisa. Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Eduard sendirian.
Eduard tersenyum miring, ia bangkit dan berjalan mengikuti wanita tersebut yang berjalan dengan sedikit terseok-seok. Tidak ingin kehilangan kesempatan Eduard berjalan cepat. Dengan sengaja ia menyenggol wanita tersebut hingga jatuh.
Eduard menghentikan langkahnya, ia bersandar pada mobil miliknya dengan kedua tangan yang di lipat pada dada bidangnya.
Mendengar helaan nafas membuat Eduard senang bermain-main dengan wanita yang kini terlihat jelas di depannya.
Bibirnya terlihat ranum, hidungnya runcing serta maniknya yang terlihat coklat terang. Sepertinya wanita tersebut tahu bawah Eduard menyenggol dengan sengaja.
Averyl hendak melangkah, namun tangan Eduard menahannya.
"Jangan menggangguku!" tegas Averyl.
Ancaman tersebut tidak membuat Eduard takut, ia semakin tertarik pada wanita di hadapannya. Di tariknya wanita tersebut hingga tubuh lemahnya membentur mobil Eduard.
Tangan Eduard mengunci agar mangsanya tidak bisa lari darinya. Dari jarak dekat Eduard bisa melihat bahwa wanita tersebut sepertinya dalam pengaruh obat perang*sang.
Eduard merasa beruntung karena pria tadi, ia jadi lebih mudah mencicipi wanita bermanik coklat tersebut.
"Ikutlah denganku, aku akan memberikan kepuasan untukmu. Aku jamin kau tidak akan melupakannya."
Dorongan Averyl tidak mampu membuat tubuh Eduard menjauh. Tanpa basa-basi Eduard melahap bibir wanita di depannya.
Manis. Eduard melahap bibir tersebut dengan sedikit tidak sabar. Akibat obat yang di masukan seseorang ke dalam minumannya, membuat Averyl kehilangan akalnya. Bahkan ia membalas ciuman dari orang asing yang terasa memabukkan.
Gairah dalam tubuh Eduard semakin bergejolak, ia menghentikan ciumannya. Tangannya menekan tombol kunci mobil, lalu membuka pintu bagian samping dan mendorong tubuh wanita itu hingga mendarat di kursi mobilnya.
Eduard mengitari mobil, lalu duduk kursi kemudi. Mobil yang di kendarainya mulai melaju meninggalkan klub tersebut, sesekali ia melirik wanita di sampingnya yang tampak gelisah.
Tanpa membuang waktu ia memarkirkan mobil di hotel miliknya. Ia membawa wanita tersebut pada kamar pribadi.
Eduard mendorong tubuh wanita tersebut ke atas tempat tidur. Bibir mereka beradu, saling menyesap satu sama lain.
Tangan nakal Eduard meraba titik sensitif wanita di bawahnya. Ia bermain pada gundukan kenyal yang terasa pas di tangannya.
Eduard memberikan beberapa tanda kepemilikannya di leher putih wanita tersebut.
__ADS_1
Gairahnya semakin mencuat, ia merobek kemeja kerja yang melekat di tubuh wanita tersebut.
Eduard ikut melepaskan seluruh pakaiannya. Dia memosisikan bagian tubuhnya yang sudah menegang sempurna tepat di kelembaban wanita tersebut. Saat memasuki kelembaban Eduard merasakan ada sesuatu yang menghalangi jalan masuknya.
Dalam satu kali entakkan miliknya melesak sempurna. Rasanya sungguh luar biasa, miliknya terasa di remas.
Eduard menatap raut wajah wanita itu yang sedikit meringis.
"Please!" mohon Averyl.
Suara itu benar-benar terdengar sensual di telinganya Eduard. Ia mulai memompa tubuhnya dengan gerakan cepat. Wanita di bawahnya mendesah tidak beraturan setiap kali dirinya menghunjam lebih dalam.
Suara indah yang keluar dari mulut wanita tersebut semakin memacu diri Eduard. Ia memompa lebih cepat, lebih dalam dan lebih kasar.
Eduard merasakan wanita di bawahnya sudah mencapai *******. Kedutan dari wanita tersebut menambah rasa luar biasa pada miliknya. Tidak berapa lama Eduard menghunjam lebih dalam dan mengeluarkan pelepasannya di dalam.
Rasanya luar biasa, tetapi gairah dalam diri Eduard belum sepenuhnya hilang. Satu kali saja rasanya tidak cukup, ia masih menginginkannya lagi dan lagi.
Di pelepasan yang ke empat kalinya ia mengeluarkan benihnya di dalam kelembutan wanita tersebut, Eduard benar-benar merasa puas. Ia menarik diri dan membaringkan tubuhnya ke sisi kanan.
Wanita di sampingnya tampak ke kelahan karena memuaskan nafsu Eduard. Bahkan kini kelopak mata wanita tersebut tertutup, dan ia benar-benar terlelap.
Eduard memiringkan tubuhnya, ia menatap wajah teman tidurnya malam ini. Wanita yang sampai kini tidak ia ketahui namanya tampak tenang di alam mimpinya. Bibirnya bengkak, lehernya penuh dengan mahakarya.
Eduard bangkit dan membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian lengkap ia menyimpan kartu nama miliknya di atas meja kecil samping tempat tidur.
Eduard menatap sebentar wajah teman tidurnya, ia menarik selimut dan menutupi tubuh polos tersebut.
Eduard berjalan meninggalkan kamar tersebut, untuk kembali ke rumahnya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Setidaknya Eduard bisa mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali pada rutinitasnya.
***
Saat mentari pagi mengintip dari jendela yang menyilaukan mata, Averyl mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa lelah, ia ingin tidur lebih lama lagi. Apalagi kepalanya terasa pusing akibat semalam ia ke klub dan menenggak wine.
Matanya yang sedikit terbuka Kini membulat sempurna, tempat ini terasa asing dan ini bukan apartemen miliknya.
Tangannya mengepal lalu memukuli kepalanya yang tidak bisa mengingat dengan benar kejadian semalam. Ia bangkit dari tidurnya hendak duduk, namun tertahan saat merasakan bagian intinya terasa perih.
__ADS_1
Astaga Tuhan, apa yang telah terjadi?