
Alana memperhatikan Arsya yang sedang tidur di pangkuan Arvan, dengan posisi memeluk tubuh Arvan.
Senyum Alana mengembang melihat Arvan yang sangat perhatian pada Arsya.
Selama ini Arvan selalu memberikan cinta dan kasihnya pada Arsya.
“Kapan kalian akan kembali ke Indonesia?” tanya Arvan memecah keheningan.
Alana menggelengkan kepalanya, dia mengalihkan perhatian pada jalanan yang mereka lalui.
Selama di perjalanan menuju rumah, Alana hanya diam.
Sampai di rumah, Arvan keluar dari dalam mobil dengan Arsya yang masih tertidur pulas di dalam gendongannya.
Alana mengikuti Arvan yang masuk ke kamar Arsya.
Dengan perlahan Arvan membaringkan tubuh Arsya yang sudah kelelahan.
Di usapnya kepala Arsya dengan penuh kasih sayang.
Selama ini Arvan tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan kasih sayangnya pada Arsya.
Di tatapnya dengan lembut wajah Arsya yang pulas, wajah anak ini 80% mirip dengan ayah kandungnya.
“Cabang di Indonesia sudah mulai beroperasi. Abang harap kamu segera memantau keadaan di sana,” tegas Arvan tanpa menoleh ke arah Alana.
“Aku belum bisa kembali ke sana,” lirih Alana sambil menundukkan kepalanya. Menahan gejolak di hatinya.
__ADS_1
“Kapan kamu berdamai dengan masa lalumu, kalau kamu terus menghindar?”
Alana menghela nafasnya, “Benar dugaanku, Abang membuka cabang di Indonesia hanya untuk mempertemukan aku dengan pria itu.”
“Tidak, aku merasa kita memiliki peluang di Indonesia, untuk memasarkan teknologi yang kita buat.”
“Banyak karyawan Abang yang lebih baik dari padaku, aku masih ingin di sini bersama Arsya,” jawab Alana.
Arvan berjalan mendekati Alana, di tatapnya manik coklat milik perempuan di hadapannya.
“Suka atau tidak, kamu harus ingat saya atasan kamu An. Dan saya tidak menerima penolakan.”
Alana memosisikan dirinya untuk membungkuk memberi hormat, “Baik Lord, dengan terpaksa saya menerima perintah.”
Arvan tersenyum mendapat sikap Alana yang kini menjadi bawahannya.
Arvan menepuk pundak Alana dan berjalan keluar dari kamar Arsya.
Sementara Alana mengekor di belakang Arvan, mengantarkan Arvan hingga ke depan rumah.
Alana dengan sigap membukakan pintu untuk Arvan, “Terima kasih,” ucap Alana dengan tulus.
“Jangan berterima kasih, saya belum berhasil menyatukan kalian.”
Alana tidak habis pikir dengan pria yang tidak pantang menyerah padanya, untuk membuka hati Alana.
Setelah memastikan Arvan sudah duduk di kursinya, Alana menutup pintu.
__ADS_1
Arvan membuka jendela mobil, “Kalian berhak bahagia,” ucap Arvan dengan nada serius.
“Terika kasih atas perhatiannya, Lord.”
Arvan hanya tersenyum, Alana selalu bersikap seperti itu jika membahas tentang pria di masa lalunya.
Alana menghela nafasnya, saat melihat mobil yang Arvan tumpangi sudah keluar dari halaman rumahnya.
Alana berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia menghampiri kamar Arsya.
Jagoan kecilnya itu masih tertidur pulas. Di belainya dengan lembut rambut Arysa.
Satu tetes air mata meluncur di pipinya, hatinya masih terasa sakit. Meskipun kemalangan yang menimpanya sudah berlalu empat tahun yang lalu.
Alana memberikan kecupan pada kening Arsya, dia tidak bisa memberikan kasih sayang seorang Ayah untuk Arsya.
Meskipun Arvan selalu hadir untuk memberikan perhatiannya pada Arsya, anak itu masih saja berharap lebih.
Alana memperhatikan Arsya yang membuka kelopak matanya. Yang kini sedang menatapnya.
“Dady mana?”
Alana tersenyum pada Arsya, “Dady sudah pulang,” jawab Alana dengan lembut sambil mengusap lembut kepala Arsya.
“Dady kenapa tidak tinggal bersama kita, atau kita tinggal di rumah Dady yang besar?” pertany itu terlontar dari mulut kecil Arsya.
“Tidak bisa sayang, Mami tidak memiliki hubungan khusus dengan Dady,” jawab Alana sambil mengusap lembut kepala Arsya.
__ADS_1
“Asya juga ingin seharian mendapatkan perhatian dari Dady,” ucap Arsya dengan nada sedih sambil menundukkan kepalanya.