
Kontraksi normal dan kontraksi memakai obat rangsangan sangatlah berbeda. Kalau dulu Alana merasa bisa menarik nafas karena sakit yang di rasakannya teratur sesuai tahapan, jika memakai obat perangsang sakitnya akan bertubi-tubi.
Serangan kontraksi itu tiada hentinya hanya memiliki waktu sebentar untuk menarik nafas saat sakit di perut Alana hilang, selama tiga jam Jordan menemani Alana yang terus meringis menahan sakit dari kontraksi.
Jangan tanyakan wajah Jordan tetap tampan atau tidak, jelas kini wajah berkarisma milik Jordan lenyap. Wajahnya tegang sekaligus sedih melihat Alana yang merasakan sakit luar biasa. Bagaimana bisa Jordan tahu rasa sakit yang di rasakan Alana? genggaman Alana sangat kuat saat merasakan kontraksi.
Dokter sudah menyatakan pembukaannya selesai, dan Alana sudah siap melahirkan. Arahan dari dokter terus Alana lakukan, demi melahirkan buah hatinya.
Untuk pertama kalinya Jordan melihat seorang wanita melahirkan, ada rasa menyesal yang sangat dalam pada diri Jordan melihat perjuangan Alana melahirkan bayi mereka.
Rasanya kata maaf serta perhatiannya selama ini ia berikan tidak cukup untuk menggantikan hinaan yang pernah Jordan lontarkan pada Alana.
Dia tidak pernah tahu bahwa wanita akan sekuat ini demi melahirkan bayi mereka, sementara Jordan selalu merendahkan dan menganggap wanita hannyalah sebuah mainan. Air matanya menetes, dia sangat menyesal dengan perbuatannya dulu terhadap wanita.
“Ayo terus nyonya sedikit lagi,” titah dokter.
Namun Alana kehabisan nafas, dia berhenti mengejan. Mencoba menghirup udara, agar kembali memiliki kekuatan untuk melahirkan bayinya.
“Jangan berhenti, cepat nyonya sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat.”
Jordan cemas melihat Alana yang kehabisan nafas, bahkan kelopak matanya tertutup. Jordan mengecup kening Alana, “Kamu pasti bisa, sayang,” ucap Jordan dengan suara lembut tepat di telinga Alana.
“Tuhan maafkan aku, aku mohon mudahkanlah proses persalinan istriku.”
__ADS_1
Bagaikan mendapat angin segar Alana tersenyum pada Jordan, proses ini memang lebih menyakitkan tapi dia harus membuat ketiga orang yang di cintainya bahagia, Jordan, Arsya serta bayinya. Alana mencoba mengejan kembali dengan sekuat tenaga.
Jordan tidak bisa menahan tetesan air matanya, melihat Alana mengeluarkan seluruh tenaganya.
Urat di wajah serta tangan Alana menonjol dan itu terlihat jelas di mata Jordan, bahkan Jordan melihat ada sedikit darah yang naik ke selang infusi dari tangan. Itu artinya sangat kuat tenaga yang Alana keluarkan hingga darahnya masuk ke selang infusi.
Jordan hanya bisa menyesali perbuatannya lagi, dia telah berbuat kasar pada Alana menarik selang infus yang menancap di tangan Alana. Tapi kini tangan wanita yang pernah ia lukai sedang berjuang dengan susah payah.
Suara tangis bayi menjadi penghujung perjuangan Alana, tubuhnya lemas tidak bertenaga. Helaan nafas setra senyum di wajah lelahnya tergambar jelas bahwa Alana merasa bahagia karena berhasil melahirkan anak keduanya.
Jordan memeluk tubuh Alana yang terkulai lemah, air matanya mengalir deras. Dia tidak peduli jika orang-orang di sana mengatainya pria lemah.
“Sayang maafkan aku, maaf karena menyakiti hatimu dan berkata kasar padamu.”
“Aku sudah memaafkanmu, sebelum kamu meminta maaf.” Selama empat tahun di Italia Alana sudah memaafkan Jordan, hanya saja dia menutup diri dan pura-pura tidak tahu tentang perubahan Jordan. Dia tahu Jordan sudah banyak berubah, tapi Alana takut Jordan akan kembali pada sifat sebelumnya, apalagi ada Arsya.
Alana tidak ingin Arsya membenci Jordan, perhatian kecil yang selalu Jordan berikan sebelum Alana pergi selalu ia rindukan.
Kehadiran Arvan hanyalah sosok kaka laki-lakinya, Alana pun tahu bahwa Arvan memiliki masa lalu yang kelam hingga membuatnya menjadi pria lembut tetapi tidak bisa jatuh cinta dan tertarik pada wanita lain.
Alana hanya bisa berdoa untuk Arvan, berharap pria berhati malaikat itu bisa menemukan cinta dan kebahagiaannya.
***
__ADS_1
Arsya terlihat gembira melihat adik bayinya tengah tertidur di dalam bok bayi. Wajah menggemasnya terlihat berbinar memandangi bayi mungil yang menjadi adik bayinya.
Sementara Jordan memeluk Alana dengan sangat erat, seolah-olah tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan mereka.
“Aku sangat mencintaimu, sayang. Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku.”
Pelukan Alana tidak kalah eratnya, tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaan di hatinya mendapatkan suami yang sangat mencintainya.
Tidak hanya itu Alana sangat beruntung di beri dua malaikat kecil yang berhasil dia lahirkan ke dunia menjadi pelengkap kehidupannya.
_-End Extra Part-_
Akhirnya di penghujung acara ☺️ aku minta maaf jika banyak kekurangan di karya ini.
Aku ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah memberikan dukungan serta suport yang sangat berarti bagi aku. Kalian segalanya bagiku, aku tidak akan pernah ada di titik ini tanpa kalian.
Terima kasih banyak aku ucapkan untuk kalian semua, jangan lupa kesan dan pesannya di kolom komentar ya 👍
Tidak rela harus berpisah dengan kalian, tapi bagaimana lagi Ekstra part-nya sudah habis.
Sehat selalu untuk kalian semua, semoga di beri rezeki yang berlimpah.
Jangan lupa mampir ke buku Arvan yah “Terpaksa Menikahi Mr. Billionaire.”
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di karya Arvan, Love u all❤️