
Happy Weekend, semoga hari kalian menyenangkan đź’•
"Bicara yang sopan, dia itu kakakmu!" perintah Jordan dengan nada dinginnya. Ia tidak habis pikir mengapa Arsya tidak bisa menerima Eduard.
Arsya memalingkan wajahnya. Sudah cukup belasan tahun ia mengalah pada Eduard. Tapi mengapa hingga kini Arsya merasa Jordan terlalu berpihak pada Eduard. “Sebenarnya yang anak kandung Papi itu aku atau Eduard?”
Jordan cukup terkejut mendengar pertanyaan Arsya. Tanpa di jawab pun jelas-jelas Arsya anak kandungnya. “Kenapa bertanya seperti itu?” Arsya sedikit kesal, bukannya menjawab Jordan malah balik bertanya.
***
Siang itu Jordan mendatangi kediaman milik Eduard. Ia ingin membicarakan tentang perusahaan yang Arsya pegang. Pintu depan terbuka lebar. Saat masuk Jordan di suguhi pemandangan yang tidak senonoh.
Putranya itu tengah mengimpit seorang wanita yang memakai gaun pengantin di tembok. “Ehmmm,” dehem Jordan.
Suara interupsi itu berhasil membebaskan Averyl dari tikaman Eduard. “Papi,” ujar Eduard dengan nada tidak suka. Karena kegiatannya di ganggu.
“Eduard ini ruang tamu, dan pintunya terbuka lebar. Bukan salah Papi masuk begitu saja,” ucap Jordan membela diri.
Eduard menjauh dari tubuh Averyl. “Ada perlu apa Papi?”
Saat tubuh Eduard sedikit menjauh, Jordan bisa melihat dengan jelas perempuan yang memakai gaun pengantin. “Kalian kapan menikah?”
__ADS_1
Averyl hendak menjawab tidak. Namun jawaban Eduard berhasil membuatnya tercengang. “Tadi pagi,” jawab Eduard dengan santai. Ia membawa tubuh Averyl merapat ke badannya, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa Averyl miliknya.
Eduard tidak memedulikan tatapan tajam yang di layangkan Averyl untuknya.
“Baiklah, jangan lupa udang Papi dan Mami ke acara resepsi kalian ... Sepertinya kedatangan Papi mengganggu,” ujar Jordan sambil tersenyum meledek Eduard.
Eduard memberikan tatapan malasnya, Jordan terlalu banyak bicara. “Memangnya ada hal penting apa Pi?”
“Tidak terlalu penting, kita bicarakan lain kali saja,” Jawab Jordan. Ia ingin memberi ruang untuk pengantin baru. “Kalau begitu Papi pulang dulu, kalian bisa melanjutkan kegiatan panas yang tertunda.”
Godaan dari Jordan berhasil membuat pipi Averyl memerah menahan malu. Dia hanya tertunduk malu, Averyl sama sekali tidak berani menatap lama orang tua Eduard.
Jordan segera kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera mencari keberadaan Alana. Tidak membutuhkan waktu lama Jordan bisa melihat tubuh Alana tengah menikmati secangkir teh di halaman belakang.
Jordan ikut duduk di samping Alana. Ia memperhatikan wajah istrinya yang tampak lebih cantik hari ini. Jiwa mudanya sedikit menggelora untuk mengikuti kegiatan panas Eduard.
“Sayang,” panggil Jordan.
Alana menatap Jordan. Dari gelagatnya ia bisa melihat pancaran gair*ah dalam diri Jordan. Tapi kini bukan saatnya memberi kepuasan.
Jordan segera bangkit saat Alana pergi begitu saja tanpa menjawab sapaannya.
__ADS_1
Alana menghentikan langkahnya di depan pintu kamar, karena Jordan terus mengekor di belakangnya. “Berhenti!”
“Kenapa sayang?” tanya Jordan dengan nada lembut.
Alana mencubit perut Jordan sangat kencang, hingga suaminya itu mengaduh kesakitan. “Ini balasan buat Papi karena berani membuat Arsya terluka.”
Saat Jordan tengah mengusap perutnya yang di cubit istrinya. Alana segera masuk dan mengunci pintu kamar. “Sayang kenapa pintunya di kunci?” teriak Jordan dari luar kamar.
“Ini hukuman untukmu, karena terus membela Eduard. Padahal anak kandung kita Arsya bukan Eduard,” jawab Alana dengan nada penuh kekesalan.
“Astaga sayang. Aku tidak membela Eduard. Buka pintunya aku akan menjelaskannya,” pinta Jordan dengan nada memohon.
“Tidak! aku kesal karena kau selalu pilih kasih. Hanya karena Eduard lebih unggul dan melupakan anak kandung kita.” Alana benar-benar marah, suaminya itu memang selalu begitu. Bahkan tak jarang ia melihat Arsya lebih senang menyendiri dan tidak pernah menunjukkan prestasinya. Karena prestasi Eduard selalu lebih unggul dari pada Arsya. Sekarang pun perusahaan yang di bangun Eduard berhasil berkembang lebih cepat dari pada perusahaan yang sudah di dirikan lama oleh Jordan yang sekarang di pegang Arsya.
“Aku tidak melupakan anak kandung kita sayang. Buka pintunya, aku tidak mau jatah liburku bertambah hanya karena ini.” Alana semakin kesal mendengar jawaban Jordan yang lebih mementingkan gair*ah nya di banding perasaan anaknya.
Alana menghapus air matanya yang turun begitu saja. Ia teringat kembali tentang masa kecil Arsya yang tumbuh hanya bersamanya. Saat kembali bersama Jordan pun kasih sayangnya mulai terbagi karena adik bayi. Tidak hanya itu saat Jordan membawa Eduard ke rumah, kasih sayang Jordan terhadap Arsya benar-benar terbagi. Alana selama ini berusaha menutup kekosongan yang Arsya rasakan, namun sepertinya Arsya memang membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari Jordan.
“Sayang,” panggil Jordan dengan nada lembut penuh permohonan, berharap Alana akan memberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
“Pergilah! kamar di rumah ini masih banyak yang kosong. Papi bebas memilih.” Wajah bahagia Jordan sirna seketika, karena ia tidak berhasil membujuk Alana. Bahkan bukan hanya mukanya saja yang bersedih, pusakanya pun ikut bersedih karena tidak mendapat jatah setelah berpuasa satu minggu penuh
__ADS_1