
“Sudahlah Ed aku sudah capek dengan semua kebohongan kamu, lebih baik kita lakukan pembatalan pernikahan saja. Kembalikan semua barangku, dan aku tidak akan menuntut sepeser pun hartamu.”
Eduard cukup terkejut dengan ucapan Averyl. “Aku mengunjungi kerabatku.”
Averyl menghela nafasnya kasar, ia kembali membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. “Mungkin yang kamu maksud bukan kerabat, tapi ibumu sendiri.”
Eduard hanya diam terpaku memandang foto ibunya yang ada di ponsel Averyl. Eduard merasa ada orang yang berani membuntutinya untuk mengadu domba. “Iya dia ibuku. Ibu mengalami gangguan kejiwaan.”
Mata Averyl membelalak kala mendengar pengakuan Eduard.
“Sampai sekarang keadaannya tidak kunjung membaik, bahkan untuk bertemu denganku saja dia enggan dan mengusirku,” tutur Eduard dengan nada datar.
“Maaf aku tidak bermaksud menyakitimu,” sesal Averyl.
“Sekarang beritahu aku siapa yang memberitahumu?”
Kepala Averyl menggeleng. “Aku tidak tahu. Ada nomor tidak di kenal yang mengirimkannya tadi pagi.”
Eduard menghampiri Averyl dan memeluknya. “Lain kali jangan terlalu percaya dengan orang yang tidak kamu kenal, aku takut itu hanya jebakan.”
Averyl membalas pelukan Eduard. “Aku tidak akan percaya pada siapa pun, jika kamu tidak berbohong dan menghilangkan tanpa kabar.”
Eduard melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam-dalam manik Averyl. “Bilang saja kalau kamu merindukanku, karena aku tidak pulang.”
“Tidak,” tegas Averyl.
“Lalu untuk apa kemari, kenapa tidak menungguku di rumah. Ayo Averyl jujur saja jika memang kamu merindukan aku.”
Tatapan penuh selidik dari Eduard berhasil membuat Averyl grogi, Averyl mengambil seribu langkah untuk lari. Namun tangan lebih dulu di tarik Eduard hingga tubuh mereka membentur satu sama lain. Dengan tatapan yang saling mengunci, Eduard lebih dulu mendekatkan diri untuk menikmati rasa manis dari bibir Averyl.
__ADS_1
***
“Ingin mandi bersamaku?”
“Aku masih lelah.” Averyl menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan kepalanya saja.
Eduard mengecup kening Averyl. “Terima kasih.”
Averyl mengangguk lalu memejamkan kelopak matanya. Tubuhnya terasa lelah setelah melayani Eduard.
Eduard masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi dan berpakaian.
Eduard keluar dari toilet ia memandang wajah tenang Averyl. Setelah memastikan Averyl tertidur, Eduard mencari ponsel Averyl. Akhirnya Eduard menemukan ponsel Averyl, ia mengeluarkan ponselnya untuk menyalin semua data Averyl dan nomor pengirim video dan foto ibunya pada Averyl.
Setelah semuanya aman, Eduard menyimpan kembali ponsel Averyl lalu keluar dari ruang istrinya. Tidak lupa Eduard menutup pintunya dengan rapat-rapat. Ia menghubungi Simon untuk menghadap kepadanya.
Simon masuk dan menghadap Eduard. Melihat raut wajah Eduard yang meminta penjelasan Simon segera angkat bicara, “Semuanya sudah selesai Tuan.”
Eduard mengeluarkan ponselnya untuk mengirim nomor yang ia salin kepada Simon. “Nomor itu telah lancang mengikuti, dan dia juga berani mengirimkan videoku bahkan foto ibuku yang sedang duduk di kamar. Aku tidak akan memberikannya hidup tenang karena telah berani berkhianat, hukum dia.”
“Baik Tuan.” Simon melihat kemarahan yang begitu besar pada wajah Eduard. Simon tahu betul bahwa Eduard tidak suka ada yang mengganggu kehidupan ibunya.
“Selama aku pergi bulan madu, pastikan semuanya aman. Jangan sampai kecolongan lagi, kau tahu sendiri konsekuensinya.”
“Baik Tuan.”
Perhatian Eduard dan Simon tertuju pada suara pintu yang terbuka. “Tunggu sebentar aku sudah selesai,” ucap Eduard pada Averyl.
Averyl kembali menutup pintu, dan masuk ke dalam. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dan mengecek ponselnya. Averyl lupa mengabari Arsya. Sementara jam istirahat kantor sudah selesai.
__ADS_1
Belum sempat menghubungi Arsya perhatian Averyl tertuju pada Eduard yang baru masuk.
“Pakailah.” Eduard menyerahkan paper bag pada Averyl.
“Terima kasih.” Averyl beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
“Apa kamu butuh bantuan? Aku dengan sukarela ingin membantumu berpakaian.”
Averyl membalikkan tubuhnya dan memberikan tatapan tajamnya. Sementara Eduard menanggapi reaksi Averyl dengan seulas senyuman di bibirnya.
“Aku hanya tidak ingin bulan madu kita gagal, karena ketinggalan pesawat.”
***
“Antarkan dia ke ruanganku!” Arsya menghela nafasnya, ia tidak mengira Namira akan secepat ini menemuinya.
Pegawai yang bertugas menerima tamu mengantarkan Namira menuju ruangan Arsya.
Arsya menatap penampilan Namira yang cukup rapi mengenakan rok dan kemeja ketat. Lekukan tubuhnya terlihat menggiurkan, namun berita tentang Namira yang melakukan operasi plastik mengudara di media. Wajahnya pun terlihat lebih muda dari usianya, meskipun warna make-up yang menghiasi wajahnya terlalu mencolok.
“Silakan duduk.”
Namira duduk di sofa yang tersedia di ruangan Arsya. Lalu matanya memperhatikan setiap detail ruangan Arsya sambil tersenyum meremehkan.
“Kau berani menolak kerja samaku, padahal aku bisa membuat perusahaanmu untung besar dalam proyek kali ini. Bahkan kau bisa mengalahkan Eduard.”
“Jadi kau kemari hanya untuk membahas masalah tidak penting itu?”
Namira tersebut mendapat sambutan yang tidak terdengar indah di telinganya. “Benarkah ini tidak penting, bahkan aku berencana menjatuhkan perusahaan Eduard. Kau masih memiliki dendam kan padanya, jadi mari bergabunglah denganku dan kita jatuhkan perusahaan Eduard bersama-sama.”
__ADS_1