
Averyl menatap hamparan awan putih. Ini untuk pertama kalinya Averyl pergi liburan. Bukan sekedar liburan, tetapi bulan madu. Mengingat kata bulan madu yang di ucapkan Eduard beberapa jam lalu berhasil membuat bibir Averyl mengembang.
“Apa tidak pegal kepalamu menengok terus ke samping?”
Kepala Averyl memutar dan menatap Eduard. “Tidak.”
Eduard menuntun tubuh Averyl agar bersandar pada bahunya. “Aku ingin mendengar masa kecilmu.”
“Tidak ada yang menyenangkan,” jawab Averyl. Rasanya menyandar pada bahu Eduard sangat nyaman, mungkin lain kali ia akan mencoba bersandar pada bahu Eduard jika merasa lelah.
“Lalu harimu di isi dengan apa?”
“Emmmm ... pertengkaran ibu tiriku dan Gumelar. Masalah perselingkuhan, keuangan, banyak perselisihan di antara mereka. Bahkan mereka bertengkar hampir tiap hari.”
“Kamu mendengar semuanya?”
Averyl mengangguk, maniknya menerawang jauh pada masa kecilnya. “Jika mereka bertengkar, Ibu akan datang ke kamarku. Memarahiku, memaki-maki aku, kadang aku juga di cubit sampai membiru.”
“Sakit?”
Averyl menarik tubuhnya dari bahu Eduard. Ia membuka kancing yang ada di lengan kemejanya, lalu menunjukkan bekas sayatan yang hampir memudar.
“Kamu pernah mencoba bunuh diri?”
Averyl menggeleng, ia kembali mengancingkannya kembali. “Ibu tiriku yang melakukannya, saat mereka bertengkar karena Gumelar ketahuan selingkuh.”
“Dia berani menyakitimu?”
Averyl menghela nafasnya, “Iya begitulah.”
__ADS_1
Eduard menggenggam tangan Averyl dengan erat, dan menatap lekat manik Averyl. Eduard bisa melihat rasa sakit dari manik Averyl. “Jangan pernah pergi, aku akan berusaha membahagiakanmu.”
“Janji?”
Eduard mengangguk, dan menyatukan kening mereka. “Aku berjanji, akan berusaha membahagiakanmu.”
Averyl dapat merasakan embusan nafas Eduard. Entah mengapa hatinya merasa tenang, semua pikiran buruk tentang pernikahan lenyap tak bersisa.
***
Averyl keluar dari pesawat, ia memandang Eduard dengan wajah tidak percaya.
“Kenapa tidak suka?”
“Papua?” tanya Averyl dengan nada antusias.
Melihat anggukan kepala Eduard. Averyl menarik tangan Eduard, ia sudah tidak sabar menikmati keindahan Papua.
“Sekarang kita ke mana?”
“Kita ke pelabuhan Sorong,” ujar Eduard. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka.
“Ayo naik,” Eduard menarik tangan Averyl untuk ikut masuk dan duduk di sampingnya. Eduard sengaja mengirimkan barang-barang mereka terlebih dahulu, agar tidak kerepotan membawanya.
Tidak memakan waktu lebih dari setengah jam akhirnya, mereka sampai di pelabuhan. Eduard sudah menyewa kapal feri untuk menyeberang. Ia ingin menikmati keindahan laut lepas.
Baru Lima belas menit kapal feri meninggalkan pelabuhan, Averyl sudah merasa mual.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Sepertinya aku mabuk lautan,” Averyl menutup mulutnya yang terasa ingin mengeluarkan cairan di dalam lambungnya.
Eduard bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah gontai Averyl. Sampai di toilet Eduard melihat sendiri bagaimana cairan berlendir itu keluar dari mulut Averyl.
Averyl membersihkan mulutnya, ia berbalik dan terkejut saat mendapati Eduard berdiri dengan pucat tidak jauh dari tubuh Averyl.
Averyl berjalan menghampiri Eduard dan berdiri tepat di hadapannya. “Kenapa?”
“Aku cukup syok melihat lendir yang keluar dari mulutmu.”
“Memangnya tidak pernah melihat orang yang muntah setelah mabuk?”
“Tapi tidak sedekat ini, baunya cukup mengganggu indra penciumanku.” Eduard menggosok hidungnya, bau menyengat dari muntah Averyl membuatnya merasakan jijik yang berlebihan.
Averyl menatap heran Eduard yang berlari ke wastafel.
“Hoek!”
“Astaga,” Averyl memilih pergi menjauh. Dia tidak ingin mual dan mengeluarkan isi perutnya lagi.
Setelah di rasa mualnya sudah hilang, kepala Eduard menengok pada tempat Averyl berdiri. Namun kosong, “Ternyata dia pergi begitu saja, padahal ini semua karena ulahnya yang lebih dulu muntah,” gumam Eduard sedikit kesal.
***
Arsya membaca dengan teliti perjanjian yang di ajukan Namira. Ia mencoret beberapa perjanjian yang menurutnya bisa merugikan BA Group.
“Hapus beberapa poin perjanjian yang tidak saya inginkan.”
Namira membaca poin yang tidak di inginkan oleh Arsya. Tidak terlalu susah, ia meminta sekretarisnya untuk mengganti secepatnya.
__ADS_1
Sekertaris Namira menyerahkan perjanjian yang sudah di perbarui. Arsya meneliti sebelum membubuhkan tandatangan. Setelah semuanya sesuai keinginan Arsya, ia menandatangani surat perjanjian tersebut.
“Terima kasih atas kerja samanya Tuan Arsya,” ucap Namira dengan senyum gembira. Akhirnya ia bisa menghancurkan Eduard, dan menjauhkan Averyl dari Eduard.