Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Serpihan


__ADS_3

selamat membaca đź’•


Malam itu Averyl duduk di sofa yang ada di kamarnya. Memegang ponselnya sambil melamun memikirkan kejadian kemarin dan hari ini. Menurutnya tidak ada yang salah, dan Averyl yakin tidak membuat kesalahan. Tapi entah kenapa Eduard marah.


Bola mata Averyl bergerak menuju ke arah pintu. Saat tubuh Eduard yang muncul di balik pintu, Averyl segera berdiri. Memperhatikan langkah tenang Eduard yang berjalan mendekat.


Sementara Averyl hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Wajah Eduard begitu tenang, tapi tampak tidak bersahabat. Meskipun ada rasa takut dalam diri Averyl tapi ia harus berani untuk meluruskan masalah ini.


Baru saja ingin membuka suara namun tubuh Eduard melewati tubuh Averyl.


Averyl berbalik badan, memperhatikan Eduard yang sedang menarik laci di samping tempat tidur. Averyl melihat Eduard mengambil ponsel.


“Apa aku punya salah?” Tanya Averyl saat Eduard berbalik.


Eduard tidak mempedulikan pertanyaan Averyl ia berjalan melewati Averyl.


“Apa yang seperti ini kau sebut cinta? Ini bukan cinta! Kau menyakitiku tapi tidak meminta maaf.”


“Bahkan kau sekarang tidak mempedulikan aku,” mata Averyl berlinang menahan air mata yang ingin memberontak keluar.


Eduard berbalik dan menatap Averyl dengan tajam.


Averyl berusaha untuk tidak takut pada Eduard, ia menarik nafasnya. “Kemarin semuanya baik-baik saja. Namun sekarang kau berubah, aku merasa tidak berbuat kesalahan dan pantas membela diri.”


“Kau salah, bahkan tidak pantas untuk membela diri,” batin Eduard.


Eduard melangkah mendekati Averyl. Ia menekankan rahang Averyl menggunakan jari tangan kanannya. “Tutup mulutmu, kau terlalu berisik!”


Averyl merasakan sakit di kedua sisi pipinya. “Ed lepaskan,” ucap Averyl dengan suara yang pelan.


“Jaga mulutmu, aku tidak suka kau banyak bicara.” Bentakan Eduard berhasil membuat Averyl diam membisu.


Averyl tidak melihat kelembutan dari mata Eduard seperti semalam. Sepertinya ia harus mencari informasi tentang ini.


Averyl menghela nafas saat Eduard melepaskan tangannya. Ia memandangi tubuh Eduard yang melangkah menjauh.


Hal pertama yang Averyl lakukan adalah mencari Simon. Ia keluar dari kamar berjalan mendekati ruang kerja Eduard.


Tangan Averyl terangkat ke udara untuk mengetuk pintu ruang kerja Eduard, namun pintu lebih dulu terbuka. Averyl cukup terkejut, beruntung Simon yang keluar.


“Kenapa kau terkejut Simon?” tanya Eduard dari dalam.


Dengan wajah memohon Averyl memperagakan gerakan agar Simon tutup mulut.


“Tidak Tuan, kalau begitu saya permisi.”


Averyl melangkah mundur memberikan ruang untuk Simon maju dan menutup pintu.


“Ada apa Nona?”


“Apa aku membuat kesalahan hingga membuat Eduard marah?” tanya Averyl dengan nada pelan, takut Eduard akan mendengarnya.

__ADS_1


“Tidak ada.”


“Lalu kenapa Eduard bersikap seperti itu padaku?”


“Tuan sedang menghadapi masalah yang cukup besar. Mungkin ia kehilangan kontrol akan dirinya.”


Arah mata Averyl terus menerus mengecek pintu, takut jika Eduard tiba-tiba keluar. “Masalah apa?”


“Maaf Nona, saya tidak bisa memberitahu Nona.”


“Kita bicara di luar,” pinta Averyl. Setelah Simon menyetujui mereka berjalan dan berdiri di depan pintu utama.


“Cepat beritahu aku, Eduard tidak pernah kasar sedikit pun padaku. Tapi hari ini-“


Simon khawatir dengan keadaan Averyl. “Apa perlu kita periksa ke dokter?”


“Tidak perlu,” tolak Averyl. “Tubuhku baik-baik saja.”


Averyl mengikuti arah pandang Simon. “Lututku baik-baik saja.”


“Syukurlah. Ada yang ingin Nona bicarakan lagi?”


Kepala Averyl menggeleng. “Kalau begitu saya permisi Nona.”


***


Pagi itu Averyl pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Eduard. Ia harus berusaha agar hubungannya Eduard kembali membaik.


Adonannya sudah siap. Averyl hanya tinggal memanggangnya. Averyl mencoba menuangkan adonan ke atas fry pan. Aroma dari pancake membuat Averyl merasa mual.


Hoek!


“Nak jangan sekarang. Ibu harus segera menyelesaikannya,” gumam Averyl seraya mengusap perutnya.


Karena tidak kuat mencium aromanya Averyl memilih menutup hidungnya dan bernafas menggunakan mulut.


Averyl bisa bernafas lega setelah adonan pancakenya habis. Ia menata pancake di atas piring saji. Memberikan potongan stroberi agar terlihat cantik.


“Nona,” sapa pelayan.


“Iya,” jawab Averyl.


“Tuan sudah bangun. Nona bersiaplah dulu biar saya yang selesaikan. Muka nona terlihat sangat pucat, apa nona sakit?”


“Aku baik-baik saja. Tolong bantu selesaikan ya, aku bersiap dulu.”


“Baik Nona.”


Averyl pergi ke kamarnya. Ia mendekat ke meja rias. Memakai lipstik, dan sedikit memberikan blush on pada pipinya.


Averyl kembali ke dapur dan membawa nampan berisi sarapan yang sudah ia buat, Lalu membawanya ke ruang makan. Dia sana sudah ada Eduard yang tengah duduk.

__ADS_1


Averyl menarik nafas, dan berusaha menghilangkan rasa Gugup dalam dirinya. Ia yakin kali ini ia akan berhasil dan Eduard akan bersikap baik seperti sebelumnya.


“Selamat pagi Ed. Pagi ini aku membukakan sarapan khusus untukmu.” Averyl menata piring berisi pancake di hadapan Eduard, tidak lupa segelas susu.


Simon yang berdiri di samping Eduard merapalkan doa baik, saat melihat menu sarapan pagi ini.


Averyl menuangkan madu di atas pancake milik Eduard. “Selesai. Silahkan Ed.”


Eduard bangkit dari duduknya. “Kita berangkat sekarang.”


Averyl ikut bangkit dan menahan tangan Eduard. “Cobalah rasanya pasti enak. Aku sudah berusaha membuatnya.”


Eduard melepaskan tangan Averyl. Dan menatap tajam Averyl. “Aku tidak Sudi mencoba masakan mu.”


“Bisakah kau menghargai perasaan orang lain. Kalau kau marah padaku, maka katakan apa kesalahanku. Bukan bersikap seperti anak kecil.”


Eduard yang terpancing amarahnya mengambil sendok, lalu mencicipinya sedikit.


Averyl terkejut saat dagunya di tarik Eduard.


“Buka mulutmu!” Averyl mengikuti ucapan Eduard dan membuka Mulutnya.


Satu suapan besar masuk ke mulut Averyl. Rasa mual itu datang tidak tepat lagi, kenapa rasa pancakenya harus terasa aneh.


Averyl ingin memuntahkannya, tapi tatapan tajam Eduard membuatnya takut.


Eduard mengambil satu sendok lagi dan menyodorkannya di depan mulut Averyl yang masih penuh. “Lelet, buka mulutmu.”


Averyl terpaksa membuka mulutnya karena sendok yang di pegang Eduard secara sengaja di benturkan pada bibirnya. Sehingga menimbulkan rasa ngilu.


Satu suapan lagi masuk ke dalam mulut Averyl. Averyl mengunyahnya dengan susah payah, menekan rasa mual yang semakin mendera. Serta rasa sakit yang timbul akibat perlakuan kasar Eduard.


Suara dentingan sendok yang di lempar Eduard membuat Averyl terkejut. Tidak menyangka Eduard akan berubah secepat ini.


Setelah memastikan Eduard menjauh, Averyl berlari menuju wastafel dan mengeluarkannya makanan yang ada di mulutnya. Ia membersihkan mulutnya. Tatapannya tertuju pada kaca yang memantulkan wajahnya yang tampak pucat. Lipstik merah muda yang di pakainya sudah hilang terbawa air, menyisakan bibir yang tamak putih.


Air mata Averyl tidak bisa ia bendung lagi. Surga yang ia kira akan abadi ternyata kini berubah menjadi neraka yang tidak pernah ia bayangkan.


***


Simon masuk ke ruangan Eduard. Memperhatikan Eduard yang memainkan bolpoin di atas berkas yang sedang di periksanya.


“Jasad mendiang Nyonya sudah selesai di otopsi. Untuk pemaka-“


Dengan cepat Eduard menyela ucapan Simon. “Lakukan pemakamannya malam ini juga.”


“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan semuanya.” Setelah mendapat persetujuan dari Eduard, Simon berjalan keluar dari ruangan Eduard.


Pintu tertutup rapat. Satu butir air mata jatuh dari mata Eduard. Ia menghapusnya dengan kasar. Di pandangnya foto wanita yang telah berjasa melahirkannya ke dunia.


Rasa benci itu muncul kembali saat ia melihat foto Averyl yang sengaja ia simpan di samping foto sang ibu.

__ADS_1


Eduard mengambil bingkai foto tersebut dan melemparkannya ke lantai dengan sekuat tenaga. Foto Averyl kini tergeletak di lantai dengan bingkai yang rusak, serta serpihan kaca yang berserakan.


__ADS_2