
Setelah mereka menunggu antrean kini giliran Syila. Averyl menemani sahabatnya bertemu dokter, rasa mual itu semakin menjadi. Namun sekuat tenaga Averyl menahannya.
Averyl menutup mulutnya dan keluar dari ruangan tersebut tanpa permisi. Dia berlari ke arah toilet yang berada tidak jauh dari ruang dokter kandungan.
Averyl memuntahkan semua isi perutnya, ia memandangi dirinya yang tampak pucat. Averyl tidak ambil pusing dengan kejadian barusan, mungkin perutnya tidak enak karena beberapa hari ini ia sering terlambat makan.
Saat kembali ke ruangan dokter, Averyl melihat dokter dan Syila yang menatapnya.
“Kenapa?”
“Nona sepertinya harus di periksa juga.”
Averyl menautkan alisnya, “Di periksa apa, aku baik-baik saja.”
“Vreyl aku tadi cerita soal kamu yang berhubungan itu, soalnya dokternya heran liat kamu tiba-tiba muntah, dan muka kamu pucat,” ujar Syila.
Averyl hanya diam membisu, ia tidak tahu harus merespons bagaimana dengan ucapan Syila.
“Di periksa saja Nona, siapa tahu betul hamil. Kalau sudah tahu hasilnya, saya bisa memberikan yang terbaik untuk ibu hamil muda dengan vitamin dan sebagainya.”
Averyl menggelengkan kepalanya. “Saya tidak hamil dokter.”
“Veryl,” lirih Syila dengan wajah memohon.
“Aku tunggu di luar.” Averyl berjalan keluar. Ia yakin sekali bahwa ia tidak hamil.
Averyl tidak percaya bahwa berhubungan satu kali mampu membuatnya hamil.
Setelah pulang dari klinik tersebut Averyl beberapa kali mengalami mual, apalagi jika mencium wewangian yang pekat.
Bahkan ia tidak tahan berlama-lama di dekat Arsya. Tapi ia meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja, dan ini tidak ada hubungannya dengan mengidam seperti ucapan Syila.
Malam itu Averyl tengah menatap kalender yang terpajang di apartemen miliknya. Ia menggigit kecil bibir bawahnya, ia sudah telat datang bulan selama satu minggu dari jadwal haidnya.
Sebetulnya Averyl sudah membeli tes kehamilan sore tadi setelah pulang dari kantor. Ia bergerak gelisah, rasa takut itu begitu besar.
Averyl memberanikan diri untuk mengeceknya. Jantungnya berdebar saat menunggu hasil itu keluar.
‘Satu garis’
Averyl menunggu dengan dada yang terasa sesak.
‘Dua garis!'
Averyl membuang hasil tes itu ke tempat sampah. Dadanya bergemuruh, kelopak matanya mulai menggenang.
Ia tidak bisa berhenti menggigit kecil bibir bawahnya. ‘Ayo berpikir bodoh!’ Umpat Averyl.
__ADS_1
Averyl menyambar sweater dan kunci mobilnya. Ia turun ke basemen.
Averyl melajukan mobilnya menuju tempat bersalin yang tidak jauh dari apartemennya. Klinik bersalin itu tidak terlalu besar, bahkan sepertinya sebuah ruko yang di jadikan tempat praktik.
Averyl masuk dia di sambut senyum ramah oleh penjaga tamu. “Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu.”
Averyl menatap ke sekeitar, di klinik itu sepi hanya ada dirinya.
“Saya mau periksa kandungan,” jawab Averyl dengan nada pelan.
“Mari Nona, saya antar.”
Averyl mengikuti wanita tersebut yang berjalan menuju ruangan pemeriksaan pasien.
“Duduk Nona, sebentar lagi dokter akan memeriksa.”
Averyl duduk dan menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Ia takut jika dirinya benar-benar hamil.
Tidak lama dokter datang dan mulai melakukan pemeriksaan. Setelah di periksa Averyl kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter kandungan.
“Perkembangan janinnya bagus, sekarang usianya memasuki enam minggu.”
Averyl memperhatikan dokter yang mulai mencatat resep.
“Dokter saya tidak ingin melahirkan,” ujar Averyl.
Tapi kali ini pasien di hadapannya, sudah cukup matang untuk menikah dan memiliki anak.
“Tolong di pikirkan baik-baik Nona. Jangan gegabah dalam mengambil tindakan, berbicara pada kekasih Nona. Siapa tahu ada jalan lebih baik.”
Averyl menggeleng, “Tidak Dok, pokoknya saya mau menggugurkan anak ini.”
Dokter menghela nafasnya pelan. “Semua keputusan ada di tangan Nona.”
“Apa dokter bisa membantu saya?”
“Maaf saya tidak bisa.”
Averyl memohon pada dokter tersebut agar mau membantunya, awalnya dokter enggan dan berkata tidak. Tapi setelah mendengar kisah hidup Averyl akhirnya dokter merasa iba, dan mau membantu Averyl.
Ruangan CEO Havelaar Grup seorang wanita tengah duduk. Kepalanya menunduk takut, matanya tidak berhenti mengeluarkan cairan bening.
Eduard merasa jengah mendengar isak tangis wanita itu yang memenuhi ruangannya. Ia melirik Simon yang baru saja masuk ke ruangannya.
“Ini cek-nya, Anda bisa langsung menuju tempat praktik,” ujar Simon sambil menyerahkan selembar cek kepada wanita yang masih saja menundukkan wajahnya.
“Cepat keluar!”
__ADS_1
“Tu-tuan, saya tidak ingin menggugurkan anak ini.”
Simon melirik Eduard yang sorot matanya merah menahan amarah. “Mari ikuti saya!” perintah Simon, ia tidak ingin merusak hari tuannya. Lama-lama Simon ikut jengah karena wanita itu tidak mau mendengar perintahnya, dengan kasar Simon menyeret wanita murahan tersebut keluar dari ruangan Eduard.
Suara ringisan wanita yang di bawa keluar oleh Simon, sedikit menghibur Eduard.
“Pergi! Aku tidak akan segan-segan memberimu peringatan,” ancam Simon.
Setelah memastikan wanita itu pergi Simon kembali ke ruangan Eduard.
“Simon carikan aku wanita, untuk satu pekan,” perintah Eduard dengan nada santai.
“Baik Tuan,” jawab Simon.
‘Sampai kapan aku harus mencari para wanita lalu, membayar mereka untuk mengugurkan benih yang sengaja di tanam?’ batin Simon. Sudah sepuluh tahun ia bekerja dengan Eduard, hal yang paling membuatnya malas adalah berurusan dengan wanita yang telah di hamili Eduard. Yang barusan belum ada apa-apanya, satu bulan yang lalu wanita yang di hamili Eduard sampai bersujud di kaki Simon agar membantunya untuk membujuk Eduard menikah dengan wanita itu.
Siapa yang tidak ingin di beri rasa nikmat bersamaan dengan benih yang tertanam di rahim para wanita. Jelas jika mereka bisa memiliki keturunan Eduard mereka bisa naik derajat menjadi istri CEO. Bahkan bukan satu dua wanita yang datang ke kantor dengan pakaian seksi menawarkan tubuh mereka pada Eduard.
“Jangan wanita bekas!”
“Baik Tuan.” Simon tahu betul Eduard ingin wanita yang masih gres, alasannya hanya satu karena Eduard tidak senang miliknya di bungkus karet.
“Kau boleh pilih satu,” ucap Eduard sambil tersenyum miring.
“Tidak Tuan, terima kasih.”
Eduard tahu betul sekretaris sekaligus aisten pribadinya itu sangat setia pada istrinya. “Ayolah Simon, wanita itu hadir untuk di cicipi. Kau akan menyesal jika tidak mencoba rumput tetangga.”
“Saya permisi Tuan,” pamit Simon. Ia tidak ingin mendengar humor yang sama sekali tidak lucu baginya.
“Jika kau mau dua wanita sekaligus aku mengijinkan mu!” ujar Eduard setengah berteriak saat Simon hendak keluar dari pintu ruangannya.
Satu kesenangan bagi Eduard jika mengerjai Simon, sekretarisnya itu terlalu takut merasakan surganya wanita luar yang lebih menggoda.
Eduard merasa suntuk membaca berkas yang harus ia tandatangani, entah datang dari mana kepalanya di isi oleh bayangan wanita yang ia temui di klub satu bulan lalu.
Rasa penasaran itu muncul di hatinya, harusnya wanita itu datang ke ruangannya dan meminta pertanggung jawaban seperti wanita barusan. Membayangkan lekukan tubuh indah di balik kemeja kerja membuat gairah di dalam diri Eduard bergejolak.
Eduard meraih gagang telepon. “Simon cari informasi wanita yang aku tinggal di hotelku!”
“Baik Tuan.”
“Sepuluh menit lagi aku tunggu wanita yang kau janjikan.”
Panggilan itu sudah di tutup oleh Eduard. Sementara di samping ruangan Eduard, Simon memijat pelipisnya mendengar permintaan super kilat dari Eduard. Simon menghubungi agen biasa ia mengambil wanita untuk memuaskan gairah Eduard.
Dahaganya sudah tertuntaskan oleh wanita yang di kirim Simon. Eduard membersihkan tubuhnya sebelum kembali bekerja. Ia memandangi email berisikan data wanita itu, rahangnya mengeras melihat infomasi yang di berikan Simon.
__ADS_1
“Tunggu Honey, aku akan memberikan kejutan istimewa untukmu,” gumam Eduard sambil tersenyum miring.