Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Terpaksa Pulang


__ADS_3

Hari sudah mulai siang, tetapi Arsya masih ingin bermain. Jordan membawa Arsya ke dalam gendongannya, ia mengusap lembut puncak kepala Arsya pelan penuh kasih sayang. Setelah kelelahan bermain Arsya tidak mau tidur karena masih ingin marin, tapi dalam gendongannya sekejap saja jagoan kecilnya sudah terlelap.


Alana mengampiri Jordan yang sedang menggendong Arsya, “Tidurkan saja di kamarnya Arsya,” ucap Alana sambil menunjuk pintu kamar Arsya. Setelah melihat anggukan kepala Jordan, Alana berjalan menuju ruang makan, dia perlu mengisi perutnya.


Maknan sudah terhidang di meja makan, Alana mulai menikmati makan siangnya. Kepalanya masih terus berputar melihat kedekatan Arsya dengan Jordan, dari Jordan datang hingga siang ini Arsya terlelap di pangkuan pria yang sudah menyakiti hati Alana.


Helaan nafas keluar dari mulutnya, dia menepis pikiran-pikiran itu. Makanan Alana sudah hampir hambis, tiba-tiba Jordan duduk di depannya, Alana memilih diam menunjukan rasa tidak peduli akan kedatangan Jordan.


“Aku juga lapar.”


“Makan saja, aku tidak melarangmu.”


Meskipun jawaban Alana terkesan dingin Jordan tidak memperdulikannya, ia mulai mengisi piringnya dengan makanan yang terhidang di hadapannya. Ternyata bermain dengan Arsya cukup menguras tenaganya.


Meja makan itu hening tidak ada percakapan sedikit pun, hanya suara dentingan sendok yang beradu.

__ADS_1


Di lubuk hatinya Jordan ingin membuka pembicaraan dengan Alana, tapi ia urungkan karena Alana seperti menutup dirinya. Bahkan wanita itu seperti tidak menganggap kehadirannya, “Seperti ini yang kamu rasakan saat kau bersamaku?” pertanyaan itu hanya Jordan simpan di dalam kepalanya. Jelas ada rasa sakit di hatinya, jika Alana merasakan seperti apa yang di rasakan Jordan sekarang.


Jordan menarik nafasnya dan mengeluarkannya perlahan, dia sudah sangat jahat mengatai Alana sebagai wanita murahan tanpa sebab. Penyesalan itu selalu membuat hatinya sakit, jika saja Jordan bisa memutar waktu dia tidak ingin membuat Alana benar-benar pergi dari kehidupannya hanya karena keegoisan yang ada di dalam dirinya.


Jordan menatap kepergian Alana, mood makannya hilang seketika. Dia ingin bercicara dengan Alana, Jordan berjalan mengejar Alana. Namun sayang Alana masuk ke kamar dan menutup pintunya.


Jordan memilik masuk ke kamar Arsya, merebangkan tubuhnya di samping Arsya. Kecupan mendarat di kening Arsya yang terlelap, “Papi janji kita akan bersama lagi sayang.”


***


Langit sudah mulai gelap, Jordan melihat Alana yang tampak resah karena sudah hampir malam. Jordan menghentikan aktifitasnya yang sedang menemani Arsya bermain puzzle.


Mendengar panggilan Jordan Arsya menolehkan kepalanya, “Iya Papi?”


“Papi harus pulang, hari sudah mulai gelap.”

__ADS_1


Wajah Arsya terlihat tampak sedih, Jordan mendekat pada anakknya. “Minggu depan Papi akan ke sini lagi, nanti kita beli mainan yang banyak yah. Sekarang Papi harus pulang, besok Papi harus bekerja.”


Air mata Arsya turun perlahan, mendengar alasan Jordan hati Arsya sakit. Dia merasa tidak di perhatikan, “Mami selalu sibu dengan pekerjaanya, sekarang Papi juga.”


“Papi pulang yah,” ucap Jordan meminta persetujuan Arsya.


Melihat Arsya yang menundukan kepalanya Jordan tahu, jagoan kecilnya sedang marah. Tapi dia juga tidak ingin, Alana merasa risih karena kehadirannya. Jordan memang menginginkan Alana kembali padanya, tapi bukan dngan cara seperti ini. Jordan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, dia ingin Alana tulus menerimanya bukan karena terpaksa.


Dengan berat hati Jordan meraih jaketnya, ia mengecup puncak kepala Arsya. “Papi pulang dulu,” ucap Jordan. Tidak mendapat respon dari Arsya Jordan berjalan menghampiri Alana yang sedang duduk tidak jauh darinya.


“Aku pulang dulu,” Pamit Jordan pada Alana. Alana hanya mengangguk kecil tanpa bersuara.


Satu langkah Jordan keluar dari pintu, Arsya tiba-tiba memeluk kakinya dengan tangis yang cukup kencang. “Papi jangan pulang,” ucap Arsya di sela tangisnya.


Jordan menyejajarkan tubuhnya, di tatapnya mata Arsya yang berlinang air mata. Lagi-lagi keadaan menyiksa hati Jordan, sakit melihat anak kesayangannya harus menangis karena ke pergiannya.

__ADS_1


Kalau saja dengan kehadirannya tidak menyakiti Alana dan menambah kebenciannya, Jordan ingin memaksa untuk tinggal bersama mereka. Memberikan kasih sayang yang selama ini tidak pernah Arsya dapatkan darinya.


Hampir saja air matanya turun, namun dengan gerakan cepat Jordan menghapus menggunakan punggung tangannya.


__ADS_2