Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Tamparan Saja Tidak Cukup


__ADS_3

Nik mengetuk pintu dengan tidak sabar dan langsung membuka tanpa menunggu ijin dari sang pemilik ruangan. Tubuh tegap Nik berjalan dengan santai memasuki ruangan Jordan dengan petugas kesehatan kantor yang berjalan di belakangnya.


Nik melihat Alana yang sudah tersadar merasa lega, “Cek kondisi Alana!”


Petugas itu berjalan mendekati Alana, “Permisi nona.”


Nita dan Syila mendengar jelas petugas kesehatan itu memanggil Alana nona, itu artinya Alana memang istri CEO mereka. Mereka menampakkan wajah menyesalnya berharap bebas dari hukuman dan bisa pulang dengan selamat.


Namun tatapan sinis Alana, membuat impian mereka hancur. Sepertinya istri CEO mereka tidak akan membiarkan mereka keluar dengan nafas lega.


“Aku sudah baik-baik saja,” ucap Alana. Dia berdiri berjalan menghampiri wanita yang berani menghinanya.


Alana menatap Nik, meminta Nik untuk mengeluarkan petugas kesehatan dari ruangan Jordan.


“Anda bisa keluar,” ucap Nik pada petugas kesehatan. Petugas kesehatan itu mengangguk hormat pada Nik, tuan muda dan nona Alana.

__ADS_1


Hawa ruangan semakin terasa panas, Jordan memandangi istri kecilnya yang tampak berani. Sementara Nik hanya diam di tempatnya, melihat pertunjukan menarik yang belum pernah dia bayangkan.


Alana mengepalkan tangannya, meskipun wajahnya terlihat tenang Alana menyimpan beribu-ribu kemarahan pada mereka. Bukan Alana merasa sedang di atas langit, tapi Alana rasa Nita dan temannya itu harus di beri pelajaran.


Alana menampar Nita dengan tangannya sendiri, bolak coklat Alana menatap Nita dengan amarah. “Itu untuk kamu yang berani menghinaku.”


Syila yang mendengar suara tamparan itu hanya bisa meringis, dia semakin menundukkan kepalanya. Suara tamparan itu terus mengiang-ngiang di kepalanya, mungkin sebentar lagi gilirannya. Dan benar saja kaki Alana kini tepat ada di depannya.


“Mungkin kali ini kau akan selamat,” Alana tersenyum sinis melihat Syila yang tampak bahagia. “Tapi aku tidak bisa melupakan kopi panas yang tumpah di kepalaku.”


Plaaak, Alana menampar pipi Syila. “Kamu bukan Cuma menghinaku, tapi menyakiti tubuhku.”


Jordan yang merasa pertunjukan Alana sudah selesai berjalan mendekati Akan, lalu Jordan memeluk Alana dari belakang dan memberi kecupan di pipi gadisnya tanpa rasa malu. “Kini giliranku, sayang,” Jordan melepaskan pelukannya.


Tubuh Syila dan Nita merinding mendengar ucapan Jordan, meskipun suara itu terdengar halus dan lembut tapi maknanya berat untuk mereka.

__ADS_1


Jordan menatap Nik sekilas. Nik yang mengerti, lalu berjalan ke meja Jordan dan mengambil dua map lalu memberikannya pada Jordan.


“Saya tidak suka pada karyawan yang bertindak anarkis, apalagi pada istri saya.” Tatapan Jordan membuat Nita dan Syila merinding ketakutan, mereka kesulitan bernafas di ruangan yang luas ini.


Jordan melemparkan map pada wajah wanita yang tampak pias di depannya. “Jangan pernah menampakkan wajah kalian di hadapan saya lagi. Pergi!”


Suara lantang Jordan menggema, Alana melirik Jordan. Dia ingin tahu semenyeramkan apa jika CEO MA Group murka.


‘Ternyata biasa saja’ pikir Alana.


Tangan Nita gemetar saat mengambil map yang di lemparkan CEO pada wajahnya, benar firasatnya. Dia tidak akan bisa keluar dengan bernafas lega.


Syila membuang nafasnya pelan, mengambil map yang di lemparkan Jordan yang jatuh di kakinya. Dia merasa menyesal telah ikut adil dalam permainan Nita.


 

__ADS_1


__ADS_2