Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Keluarga Utuh


__ADS_3

Dengan cepat Alana menarik Arsya dan menggendongnya meninggalkan Jordan yang masih mematung di tempatnya.


Melihat punggung Alana yang menjauh, Jordan tersenyum kecil.


“Papi pasti bersatu dengan kalian lagi, di dalam satu keluarga yang utuh. Berteduh di atap yang sama bersama kalian, orang yang Papi cintai,” batin Jordan.


Arsya melingkarkan tangannya di leher Alana, membenamkan wajahnya di cekuk leher Alana.


Alana beruntung karena Arsya tidak banyak bertanya tentang pria itu, atau alasan mengapa mereka pulang.


Arsya ingin kembali ke dalam, meneliti wajah pria yang mirip dengan foto di ponsel Maminya.


Tapi melihat Maminya yang seperti menahan kesedihannya, Arsya memilih diam. Dia tidak ingin membuat Maminya menangis, karena Arsya tidak suka melihat Mami menangis.


Selama di perjalanan menuju rumahnya, Alana hanya mendekap erat tubuh jagoan kecilnya.


Rasa sakit itu kembali menyeruak, kalau tidak ingat tempat jujur Alana ingin menangis.


Ternyata benteng yang ia buat selama 4 tahun ini bisa runtuh seketika hanya karena bertemu dengan pria itu beberapa detik.


Alana menurunkan Arsya setelah keluar dari taksi, pengasuh Arsya menghampiri Alana yang kerepotan membawa mainan Arsya.


“Biar saya yang bawa, nona,” ucap pengasuh Arsya.


Arsya berjalan mengikuti Pengasuhnya sementara Alana membayar biaya taksinya.

__ADS_1


“Terima kasih pak,” ucap Alana dengan ramah.


Alana masuk ke dalam rumah, Arsya tampak sibuk dengan mainannya.


Ponselnya berdering, menandakan telepon masuk. Setelah melihat nama Arvan di layar, Alana langsung menerima panggilan dengan menekan tombol hijau.


“Selamat siang Lord,” sapa Alana.


“Siang, besok kamu langsung bekerja ya An,” perintah Arvan.


Mendengar jawaban Arvan, Alana tahu pria itu tidak ingin membicarakan urusan kantor.


“Baik,” jawab Alana singkat.


“Arsya baik-baik saja An?”


“Arsya baik-baik saja. Aku yang tidak baik-baik saja,” keluh Alana.


Arvan diam, dia menunggu kelanjutan ucapan Alana.


“Abang sukses, di hari pertama aku bernasib sial,” ucap Alana dengan sedikit kesal. Pertemuan tidak terduganya cukup menyulut emosi Alana.


“Jordan?” tebak Arvan.


“Ya, siapa lagi kalau bukan dia.”

__ADS_1


Alana mulai menceritakan kejadian yang menimpanya. Arvan hanya mendengarkan dengan baik sampai selesai, sebelum dia angkat bicara.


“Jordan itu Ayahnya Arsya, dia berhak tahu, Alana!” Arvan sengaja menekan kata Ayahnya supaya Alana sadar.


Alana diam, dia tidak menanggapi ucapan Arvan. Apa yang di katakan Arvan betul adanya, tapi Alana merasa Jordan tidak perlu tahu.


Selama ini pria itu tidak mencari keberadaannya, seolah tidak peduli.


Untuk apa Alana bersusah payah, mengandung, melahirkan dan membesarkan Arsya seorang diri, kalau akhirnya Jordan menikmati hasil tanpa merasakan proses.


“Sebenci-bencinya kamu sama Jordan, Arsya tetap anaknya. Arsya berhak mendapat kasih sayang dari ayahnya,” tegas Arvan. Dia ingin melihat Arsya bahagia bersama Jordan.


Arvan mendengar suara ketukan  di balik pintu ruang kerjanya.


 “Bekerjalah dengan baik di sana, jangan mengecewakanku!” ucap Arvan sebelum mengakhiri teleponnya.


“Baik, Lord.”


Alana menghela nafas, setelah Arvan memutus sambungan teleponnya.


Alana memperhatikan Arysa yang tampak asyik dengan mainan barunya.


Arsya sedang asik memainkan mobil-mobilan yang menggunakan remote control.


Setidaknya Alana bisa tenang, dengan melihat Arysa yang gembira dan tidak memikirkan Arvan untuk saat ini.

__ADS_1


Alana duduk di samping Arsya dan ikut bermain dengan jagoan kecilnya, sebelum besok dia mulai kembali bekerja.


__ADS_2