
Alana menatap Nik, dia menarik nafas dan menghembuskannya. “Ini sudah tiga puluh hari-” Alana sengaja menggantungkan ucapannya, menunggu tanggapan Nik.
Nik menelan ludahnya, dia memperhatikan amplop yang Alana pegang.
Nik melirik Jordan yang ikut memperhatikan amplop yang Alana pegang. Hanya ada dua kemungkinan
Alana hamil atau tidak, sebenarnya Nik sedikit melupakan perjanjian itu.
“Iya ini tepat tiga puluh hari sesuai perjanjian yang di sepakati,” ujar Nik. Dia memperhatikan ekspresi wajah yang di tunjukan Alana terlihat berbeda dari biasanya.
Jordan diam, dia belum mengungkapkan isi hatinya pada Alana, karena akhir-akhir ini dia di sibukkan dengan pekerjaan. Jordan berharap amplop yang Alana pegang adalah kabar gembira untuknya.
Alana menyimpan amplop putih itu di atas meja, mendorong perlahan menuju Nik dan Jordan. Alana memperhatikan wajah Jordan yang tampak semangat membuka amplop itu dan membaca isinya.
Jordan mengalihkan perhatiannya pada Alana, lalu kembali menatap hasil diagnosa dokter. Ada rasa kecewa di hati Jordan, tapi dia pikir dia bisa mencobanya lagi dengan Alana hingga berhasil.
“Sesuai perjanjian, saya tidak hamil anak anda tuan. Saya berhak mendapatkan uang satu juta dolar, dan surat cerai.”
Jordan meremas surat yang ada di tangannya, lalu membuang surat yang tidak berbentuk itu ke sembarang arah. Emosi Jordan memuncak, melihat Alana memiliki niat untuk pergi darinya. “Berani sekali kamu meminta cerai padaku,” tegas Jordan.
__ADS_1
“Bukankah semuanya sudah di jelaskan dalam surat kontrak itu, bahkan kau yang membuatnya. Kenapa di sini malah aku yang di salahkan,” ucap Alana, dia tidak terima dengan ucapan yang keluar dari mulut Jordan. Dia bangkit dari duduknya lalu jongkok untuk mengambil surat yang Jordan buang.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!”
“Lalu untuk apa kau membuat perjanjian itu, kalau kau sendiri yang melanggarnya. Buktinya sudah jelas aku tidak hamil!” bentak Alana sambil menahan tangisnya.
Dia mencoba menahan gejolak yang ada di dalam hatinya karena rasa sakit yang menyelimutinya. Benar kata Stella bahwa Jordan memang egois.
Jordan bangkit dan menarik tangan Alana, “Kau harus ikut denganku, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun.”
Alana berusaha melepaskan cekalan Jordan, namun usahanya gagal karena Jordan bukan tandingannya.
Dengan satu kali hentakkan Jordan mendorong tubuh Alana hingga jatuh di atas sofa. “Sekarang kau tidak hamil, tapi aku akan membuatmu mengandung benihku!”
Alana terkejut mendapat sikap kasar yang di berikan Jordan, pria ini benar-benar gila. Alana berusaha bangkit, namun kalah cepat karena sekarang Jordan malah menindihnya.
Air mata Alana semakin deras, dia tidak merasa Jordan mencintainya, bahkan yang Alana lihat hanyalah kilatan amarah di mata Jordan.
Jordan merobek baju Alana di bagian atasnya, dia tidak memedulikan Nik yang masih ada di sana.
__ADS_1
Dia hanya tidak ingin Alana pergi darinya, hanya itu. Dan jalan satu-satunya adalah menanamkan benihnya pada rahim Alana agar wanita itu tetap berada di sisinya.
Nik sangat terkejut dia hanya diam, bahkan dia kesulitan bernafas. Bukan karena melihat bagian dada nona yang terekspos, tapi dia tidak siap melihat adegan yang akan menodai mata sucinya.
Alana berusaha menutupi bagian dadanya karena Jordan merobek bajunya, Alana tidak bisa menahan suara tangisnya.
Bagaimana bisa dia di perlakukan kasar seperti ini untuk kedua kalinya. Apa tidak cukup pria ini mengambil harta berharga miliknya, kenapa Jordan juga ingin menguasai kehidupannya.
Bayangan saat pertama kali Jordan mengambil mahkotanya terus berputar di kepalanya. Rasa sakit itu semakin bertambah, sakit fisik dan hati yang di alaminya begitu menyayat hatinya.
Dia berusaha mendorong Jordan agar menjauh, tapi pria itu malah menyingkirkan tangan Alana dan meremas bukit kembar miliknya. Alana merasa sangat hina, benar-benar hina. “Aku bukan wanita murahan,” teriak Alana di sela tangisnya.
***
Visual Jordan author ganti yah
Lebih tampan yang ini yah babang Jordan?
__ADS_1