
Alana merasakan dekapan yang sangat erat, selama ini dia selalu merasa hampa dan sendirian. Tetapi kini dekapan yang ia rindukan nyata di depannya.
Hatinya terenyuh, tempat ternyamannya bisa ia nikmati kembali. “Tuhan, ku mohon jangan biarkan semua ini cepat berakhir,” doa Alana di dalam hatinya.
“Terima kasih tuhan, kau telah kabulkan doaku. Aku berjanji tidak akan menyakiti wanita yang kau titipkan untukku,” janji Jordan di dalam benaknya.
Dua insan tersebut saling mendekap erat, berjuta-juta waktu berlalu tidak akan menyurutkan keinginan mereka untuk saling mendekap. Memberikan ke hangatan serta kasih sayang dan cinta yang melimpah untuk seseorang yang sedang dalam pelukannya.
Meskipun ada rasa tidak rela di hatinya, dengan berat hati Jordan melepaskan pelukannya. Di tatapnya gadis kecil yang tampak tersenyum tipis padanya, “Aku mengantuk.”
“Tidurlah,” ucap Alana lembut.
Jordan membaringkan tubuhnya, dia menjadikan paha Alana sebagai bantalannya. Di tatapnya wajah Alana yang kini menunduk untuk melihatnya, “Terima kasih, sayang.”
Alana menganggukkan kepalanya, dengan telapak tangannya. Alana mengusap lembut wajah Jordan agar manik itu tenggelam dalam kelopak matanya.
Jordan memejamkan matanya, saat sentuhan lembut Alana di wajahnya. Tenang dan damai, begitu yang di rasakan Jordan, penantiannya selama empat tahun ini terbayang berkali-kali lipat dari bayangannya.
Dengan lembut Alana mengusap rambut Jordan, memberikan kenyamanan pada Jordan. Alana selalu melakukan ini untuk memberi kenyamanan pada Arsya jika jagoan kecilnya tidak bisa tertidur, tapi kali ini dia memberikan kenyamanan untuk orang yang sudah berani mengobrak-abrik hatinya.
__ADS_1
Alana menyandarkan tubuhnya pada bantal yang menyangga punggungnya. Senyumnya mengembang sempurna, kebahagiaan yang ia tunggu akhirnya berkenan hinggap di kehidupannya. Setelah badai menerpanya, kini ia bisa melihat pelangi yang indah. Pelangi penuh warna, yang mampu menggugah decak kagum bagi para penikmatnya.
Alana memejamkan matanya, menikmati sensasi yang berbeda di dalam hatinya. Hingga dia terlena untuk pergi ke alam mimpi.
Pagi itu Alana terbangun dengan ringisan yang keluar dari mulutnya, “Aaaw.”
Jordan yang masih di dalam mimpinya terjaga setelah mendengar ringisan dari Alana. “Kenapa, sayang?” tanya Jordan sambil mengucek matanya.
“Kakiku kram,” lirih Alana sambil menahan rasa sakit di kakinya.
Mendengar suara Alana yang tertahan Jordan bangkit dan melihat wajah Alana yang memejamkan mata menahan rasa sakit di kakinya. “Maafkan aku,” ucap Jordan penuh penyesalan.
“Sakit banget?” tanya Jordan dengan nada khawatir. Dengan sangat perlahan Jordan kembali memijat kaki Alana, sambil memperhatikan wajah gadisnya. Jordan takut sentuhan tangannya membuat Alana kesakitan kembali.
Selama lima belas menit Jordan memijat kaki Alana dengan sangat perlahan, hingga Jordan tidak melihat Alana yang meringis kesakitan. “Sudah lebih baik?” tanya Jordan.
Alana menatap manik hitam milik Jordan, “Sudah, terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih, karena akulah penyebabnya… aku minta maaf.”
__ADS_1
Sudah beberapa kali Alana mendengar ungkapan tulus dari mulut Jordan dari kemarin, “Tidak perlu meminta maaf.” Alana tersenyum untuk menangkan rasa bersalah milik Jordan.
“Terima kasih.” Tanpa rasa puas Jordan terus mengucapkan kata terima kasih untuk ke sekian kalinya.
“Terima kasih, tidak cukup untuk membayar semuanya tuan muda,” ucap Alana dengan bibir menyeringai.
“Apa yang kau inginkan, nona muda?”
Alana pura-pura berpikir, manik coklatnya merotasi memikirkan keinginan apa yang akan ia minta pada Jordan.
“Katakanlah, aku akan mengabulkan semua keinginan gadis kecilku,” ucap Jordan sengaja menggoda Alana.
“Aku sudah tidak gadis lagi!”
Jordan memberikan kecupan di pipi Alana, ia melihat pipi Alana yang bersemu merah karena perlakuannya.
“Aku ingin ….” Alana sengaja menggantung ucapannya, dia tersenyum menyeringai pada Jordan.
“Aku ingin melihatmu menderita,” ucap Alana penuh penekanan pada kata ‘Menderita’.
__ADS_1