
Setelah beberapa menit Jordan merebahkan tubuhnya di samping Alana, lalu membawa Alana ke dalam pelukannya.
Jordan merasa bahagia karena Alana mau menerima dirinya, untuk saat ini Jordan tinggal menyusun rencana menyatakan cintanya, dengan harapan Alana mau menjadi istrinya kembali.
Belaian Jordan di rambutnya mengantarkan Alana ke alam mimpinya, satu alasan yang membuat Alana mau berhubungan dengan Jordan adalah dirinya masih istri sah Jordan. Dan Alana tidak mau kalau Jordan berhubungan dengan wanita lain, apalagi sampai perempuan itu hamil. Dia hanya ingin kebahagiaan yang untuknya dan Arsya, tampan gangguan dari siapa pun.
Mata Alana tertutup rapat sempurna dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Jordan merasakan embusan nafas Alana di dada bidangnya mulai teratur. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Alana sampai ke lehernya.
Kecupan di kening Alana untuk terakhir kalinya sebelum gadisnya menjadi singa kecil kembali. Jordan tersenyum mendapatkan julukan ‘Singa Kecil' untuk Alana.
Bagaimana tidak, wanita itu bisa-bisanya memancing dirinya dengan obat perangsang hanya untuk memastikan kesetiaan dirinya. Tapi Jordan harus berterima kasih pada ide gila Alana yang berakhir dengan penyatuan mereka untuk pertama kalinya setelah empat tahun silam.
Jordan berjalan ke kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya. Dia memungut celana yang tergeletak di lantai dengan ponsel yang berdering di saku celana.
__ADS_1
Jordan menekankan tombol hijau untuk menerima panggilan Nik.
“Tuan saya sudah di depan,” Ucap Nik saat telepon tersambung.
Jordan mematikan telepon lalu berjalan menuju pintu, dan menghampiri Nik.
Dahi Nik mengerut melihat Jordan yang tampak berbeda dari biasanya, terlihat lebih santai dan gembira.
Tatapan Nik jatuh pada rambut Jordan yang basah serta handuk kimono yang di pakainya, ‘Apa?’
“Nik usir wanita ular itu dari kamarku, lalu ambilkan pakaianku.” Jordan memberi kode lewat matanya menunjukkan kamar yang dia maksud lalu memberikan kartu akses pada Nik.
“Nona,” panggil Nik. Dia memperhatikan wajah perempuan yang tidak asing baginya.
Perempuan itu menggeliat dan bangkit dari posisi terlentangnya. Dia mengucek matanya dan menatap Nik.
__ADS_1
Mata wanita tersebut membulat sempurna, dia menundukkan kepalanya. Dia bertekuk lutut di hadapan Nik, “Tuan saya mohon jangan adukan ini. Saya berjanji akan memuaskan tuan.”
Dahi Nik mengerut, dia tidak mengerti dengan ucapan wanita tersebut. “Berdirilah, dan pergi dari sini sekarang juga. Saya pastikan tidak akan ada pengaduan pada atas ini semua,” tandas Nik.
Nik berpikir bahwa wanita itu pelanggan yang di panggil Jordan, namun melihat Jordan dengan rambut basah keluar dari kamar yang berbeda membuat Nik mengangkat pundaknya. Mungkin ada kabar baik dari tuan dan nona mudanya.
“Terima kasih, tuan.” Wanita tersebut memakai mantelnya, lalu mengambil tas miliknya dan meninggalkan Nik sendirian.
Ada rasa tenang di hati wanita itu, setidaknya dia tidak mendapatkan komplain dari pelanggannya. Karena dia masih membutuhkan pekerjaan ini untuk menunjang pengobatan ayahnya.
Helaan nafas keluar dari mulutnya, kepalanya menunduk sempurna untuk menyembunyikan betapa kacaunya raut wajah kesedihannya.
Nik membawa baju yang di minta Jordan, lalu mengetuk pintu kamar Jordan.
“Tuan,” panggil Nik.
__ADS_1
Tidak lama pintu terbuka, Jordan membuka pintu tidak terlalu lebar. Dia tidak ingin Nik melihat wajah lelah Alana yang sedang tertidur.
“Tunggu sebentar!” perintah Jordan sebelum masuk ke dalam.