Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Namira


__ADS_3

Averyl sudah mencoba menghubungi Syila sahabatnya serta beberapa temannya. Namun jawaban mereka sama, tidak punya uang sebanyak itu. Harus pada siapa lagi aku meminjam uang.


Averyl diam mengingat-ingat orang yang bisa membantunya. Ia teringat pada Arsya. Ya harapan satu-satunya.


Jari lentik Averyl bergerak di atas nomor telepon. Ia menunggu panggilan di jawab Arsya. Tapi panggilan pertamanya gagal, Arsya tidak mengangkat panggilan Averyl.


Averyl mencoba kembali menghubungi Arsya. Beruntung kali ini Arsya menerima panggilannya.


[Hallo]


“Tuan ini saya Averyl Samantha.”


[Ada perlu apa?] Tanya Arsya tanpa basa-basi.


“Tuan saya membutuhkan uang sekarang juga, boleh saya pinjam. Saya berjanji akan menggantinya dalam waktu dekat.” Averyl sengaja berbohong demi meyakinkan Arsya bagaimana pun ia tidak mau terjebak dalam pernikahan bodoh ini.


[Berapa?]


“Sembilan ratus juta dolar.” Averyl menggigit kecil bibir bawahnya. Kakinya bergerak gelisah, berharap Arsya mau memberi pinjaman.


[Untuk apa uang sebanyak itu?]


Averyl mendengar nada curiga dari suara Arsya. Tuannya itu memang mengetahui Gumelar yang sering meminta uang, tapi Averyl tidak biasanya meminjam uang. Ini adalah kali pertama Averyl meminjam uang.


“Aku sangat membutuhkan uang itu Tuan. Jika dalam waktu dua puluh empat jam aku tidak mendapatkan uang itu, Eduard akan memaksaku menikah dengannya. Aku mohon Tuan bantu aku, aku tidak mau menikah dengan Eduard.” Averyl sudah berusaha memelas, karena ini adalah harapan terbesarnya.

__ADS_1


[Maaf Averyl, tapi aku tidak ingin ikut campur dengan urusan Eduard.]


Tubuh Averyl lemas seketika. Ia menyimpan gagang telepon saat sambungan tersebut di putus sepihak oleh Arsya. Harapannya sudah pupus. Sebentar lagi ia akan tenggelam dalam lautan yang tidak pernah di bayangkannya.


Menikah. Sesuatu hal yang amat menakutkan bagi Averyl. Selama ini prinsip hidupnya ia tidak mau menikah dan tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.


Tubuh Averyl luruh ke lantai, ia memeluk lututnya dengan sangat erat. Kelebatan kejadian itu berseliweran di kepala Averyl. Rasa sakit terlihat jelas di kelopak mata Averyl yang mulai menggenang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak! ... Jangan! ... Aku mohon lepaskan.”


Simon mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Averyl. Selama ini ia melihat Averyl seorang wanita pembangkangan yang tidak takut apa pun. Tapi mengapa kini Averyl terlihat sangat ketakutan.


“Nona,” panggil Simon. Ia mendekati tubuh Averyl. Namun Averyl tampak ketakutan dan berteriak histeris.


Simon berjongkok dan dan memegang pundak Averyl. “Pergiku mohon,” ucap Averyl tanpa berani melihat siapa pemilik suara. Ia terus berusaha membenamkan wajahnya agar tidak terlihat oleh siapa pun.


Tubuh Eduard membeku melihat kejadian yang berada tepat di depan matanya. Ia cukup terkejut melihat Averyl yang sangat ketakutan.


Tubuh Averyl ambruk ke lantai dengan mata terpejam, serta mulut yang tidak mengeluarkan suara lagi. Simon hendak mengangkat tubuh Averyl. Namun suara Eduard menginterupsi. “Biar aku saja.”


Eduard membawa tubuh Averyl menuju kamarnya. Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian ia merebahkan tubuh Averyl di atas tempat tidur.


“Simon panggilkan dokter!” Simon mengangguk dan berjalan keluar untuk menelepon dokter sesuai perintah Eduard.


Eduard merapikan anak rambut yang menutupi wajah Averyl. Sebenarnya trauma apa yang kau alami dulu? mengapa dari berkas yang Simon berikan tidak ada masalah mengenai rasa takutmu.


***

__ADS_1


Ruang kerja Eduard tampak apik. Meja kayu yang mengkilap. Deretan buku yang tersusun rapi di rak. Sinar mentari siang itu menyenari ruangan Eduard dengan sempurna, menampilkan siluet dua pria yang tengah duduk berhadapan.


Eduard menatap Simon yang duduk di hadapannya. “Aku akan tetap menikah dengan Averyl.” Suara tegas Eduard terdengar seakan tidak ingin di bantah.


“Apa Tuan tidak ingin menunggu hasil pencarian orang suruhan saya mengenai trauma yang di alami Nona Averyl?”


“Tidak.”


Simon mengangguk paham. Tuannya itu sedang tergila-gila pada gadis yang menolak di nikahi. Ia rasa trauma yang di alami Averyl tidak akan menimbulkan masalah buruk di kemudian hari.


“Kosongkan jadwalku besok, aku akan membawa Averyl bertemu dengan keluarga Papi Jordan.” Eduard berencana mengenalkan Averyl pada keluarga Jordan yang telah banyak membantunya. Kalau bukan tanpa Jordan yang mengangkat Eduard menjadi anak serta memberikan pendidikan mungkin saat ini Eduard masih hidup di jalanan.


“Baik Tuan.” Simon menunduk hormat. Ia beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan keluar dari ruangan Eduard. Ia harus kembali ke kantor dan mengurus semua pekerjaannya.


Setelah menatap punggung Simon yang menghilang di balik pintu. Eduard mengambil berkas mengenai data diri Averyl dan kembali mencari tahu tentang masa lalu Averyl.


Eduard sedikit terkejut. Sebelumnya ia tidak terlalu rinci melihat data diri Averyl. Di sana di katakan bahwa Averyl memiliki seorang ibu kandung. Namun sampai saat ini Averyl tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya.


“Namira?” Eduard merasa tidak asing dengan nama itu. Ia berusaha mengingat-ingat, namun hasilnya nihil.


***


Maaf dua hari ini real life ku agak padat. Semoga kedepannya aku bisa up lebih seperti sebelumnya.


Sampai jumpa besok, semoga hari kalian menyenangkan 😘

__ADS_1


__ADS_2